User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 11,960.00 11,990.00
SGD 9,443.30 9,483.65
JPY 109.62 110.21
MYR 3,676.02 3,715.30
CNY 1,943.50 1,956.60
THB 369.08 373.60
HKD 1,542.80 1,547.20
EUR 15,357.85 15,421.65
AUD 10,662.35 10,714.35
GBP 19,518.75 19,616.85
Last update: 22 Sep 2014 09:00 WIB
Umum
Sabtu, 09 Mar 2013 08:51 WIB - http://mdn.biz.id/n/17088/ - Dibaca: 631 kali
PBB Lolos Pemilu 2014
Hasil Pilgubsu Tak Pengaruhi Pileg 2014
MedanBisnis - Medan. Hasil Pilgubsu 2013 tidak berpengaruh besar terhadap Hasil pemilihan umum legislatif (pileg) 2014. Pasalnya, dalam sistem pemilihan langsung, Hasil diperoleh karena ketokohan masing-masing calon.
"Tidak akan memengaruhi. Pemilihan legislatif itu gerakan personal. Kekuatan individu calon legislatif yang berpengaruh kuat akan hasil perolehan suara," kata pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU), Agus Suryadi kepada MedanBisnis, di Medan, Jumat (8/3).
Ia menjelaskan, masing-masing caleg akan bergerak dan bekerja sendiri dalam menghimpun dukungan. Sistem kekerabatan dan ikatan emosional, kedekatan etnis dan agama digunakan agar konstituen memilih. Sementara, mesin dan kebijakan partai hanya sebagai pendukung.
"Dengan partisipasi pemilih yang cenderung menurun, kekuatan individual semakin besar," sebutnya.

Menurutnya, setiap caleg masih mempunyai waktu untuk mendekati konstituen, sehingga perolehan suara dengan sistem suara terbanyak sebagai pemenang membuahkan hasil.

Seperti diberitakan, hasil hitung cepat (quick count) Pilgubsu menempatkan pasangan Gatot Pujo Nugroho - T Erry Nuradi (Ganteng) memperoleh perolehan suara terbanyak versi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dengan 32,05%, begitu juga versi Indo Barometer 32,87%). Pasangan ini diusung PKS, Hanura, PPN, PKNU dan Patriot.

Pasangan Effendi Simbolon-Jumiran Abdi yang diusung PDIP, PDS dan PPRN di posisi kedua dengan 26,87% (LSI) dan 23,93% (Indo Barometer). Pasangan Gus Irawan Pasaribu - Soekirman (19,48% dan 21,82%. Pasangan ini diusung 22 parpol.

Sementara, pasangan Amri Tambunan dan Rustam Effendi Nainggolan yang diusung Partai Demokrat -- pemenang Pemilu 2009, berada di urutan keempat dengan (12,46% dan 12,01%).
Sedangkan pasangan Chairuman Harahap yang diusung Partai Golkar, PPP, PRN dan PPPI di urutan terakhir dengan 9,15% dan 9,37%.

Agus mengatakan, meskipun Chairuman dan Fadly mendapat dukungan yang paling sedikit, elektabilitas Golkar sebagai partai lama tidak akan berubah pada Pileg 2014.
"Golkar punya sistem yang sudah dibangun lama, ini akan berjalan sehingga elektabilitasnya akan tinggi pada Pileg nanti," sebutnya.

Demokrat selama tahapan Pilgubsu tidak menunjukan dukungan penuh dari kader-kader elite partai. Sehingga terkesan, pasangan ini berjalan sendiri. Sisi lain, partai ini lebih konsentrasi pada persoalan internal partai.

Menurutnya, parpol yang paling sukses menggerakan kader dalam Pilgubsu adalah PKS dan PDIP. Kedua kader partai ini terlihat militan dalam memperjuangkan pasangan yang diusung.
Potret Pileg

Pendapat berbeda disampaikan pengamat politik dari USU lainnya, Budi Agustono. Ia justru melihat hasil Pilgubsu menjadi potret bagi Pileg 2014 berdasarkan sisi peran partai politik sebagai mesin politik.

"Ini gambaran atau contoh kasus, sebagai ujian bagi parpol menuju Pileg 2014," katanya.
Dia mencontohkan, kekalahan Amri - RE akibat mesin partai pengusung tak bekerja sungguh-sungguh. Padahal, sejumlah kader Partai Demokrat menjabat kepala daerah dan duduk di tim pemenanganAmri-RE, yang tentunya jika bergerak mampu mendongkrak suara di daerahnya masing-masing.

Sedangkan kekalahan Golkar dalam Pilgubsu lebih pada pilihan calon, dalam hal ini Chairuman Harahap. Padahal, mantan Kejatisu itu sebelumnya sudah pernah menjadi calon Gubsu dan kalah. "Golkar seharusnya melihat Chairuman sebagai figur bermental kalah," ujarnya.

Budi mengatakan, kebijakan partai yang memutuskan calon berdasarkan keputusan elite politik semata tak akan berbuah baik dalam sistem pemilihan langsung. Menghadapi pileg mendatang, partai politik harus menyusun dan menetapkan orang-orang yang secara individu memiliki kualitas baik dan diterima oleh konstituen.

"Kalau keputusan hanya di elite parpol, tanpa pertimbangan dukungan konstituennya, perolehan suara pda Pileg akan jatuh lagi," katanya.

Agus mengatakan, perubahan nampak pada gerakan PDIP, dimana partai berlambang banteng gemuk itu mampu mendongkrak elektabilitas Effendi Simbolon dalam kurun waktu dua bulan. Sedangkan PKS yang dikenal sebagai parpol yang militan sudah menunjukan kinerjanya, konsisten dalam mengusung suara yang ditetapkan oleh pimpinan.

"Jika tidak ada konsolidasi kuat di internal, maka hasil Pilgubsu ini terulang pada Pileg mendatang," tandasnya. (cw03)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook