User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia Yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 11,550.00 11,600.00
SGD 9,298.70 9,355.70
JPY 113.36 114.20
MYR 3,625.59 3,665.51
CNY 1,861.30 1,878.25
THB 361.65 365.75
HKD 1,489.90 1,497.25
EUR 15,550.95 15,642.65
AUD 10,855.85 10,937.75
GBP 19,615.45 19,724.75
Last update: 26 Jul 2014 09:00 WIB
Tapanuli Bisnis
Jumat, 17 Mei 2013 08:42 WIB - http://mdn.biz.id/n/29821/ - Dibaca: 366 kali
Petani Kopi Dairi Hadapi Masa Sulit
MUSIM TREK Salah seorang petani kopi di Dusun I Desa Bintang Mersada, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi, Uswaten Bintang (41), mengeluh karena hasil panen kopi saat ini menurun dan harganya ikut anjlok. (medanbisnis/ist)
MedanBisnis - Sidikalang. Petani kopi di Kabupaten Dairi sedang menghadapi masa sulit. Selama empat pekan terakhir, hingga Kamis (16/5) harga kopi arabika (ateng) anjlok di pasaran. Bukan hanya itu, di saat harga kopi sedang anjlok, kuantitas produksi kopi ikut menurun.
Uswaten Bintang (41), petani kopi di dusun I desa Bintang Mersada, Kecamatan Sidikalang, kepada Medan Bisnis, Kamis (16/5), mengatakan, kesabaran petani saat ini sedang diuji. "Di saat harga kopi lagi turun (anjlok), buah kopi saat ini juga lagi tidak musim atau lagi masuk musim trek," katanya.

Bapak enam orang anak itu menyebutkan, harga kopi arabika saat ini hanya Rp90.000/ kaleng 10 liter). Padahal, sebelumnya antara Rp160.000-Rp.180.000/ kaleng. Semenjak tiga bulan ini harga terus mengalami penurunan sehingga melemahkan ekonomi petani yang mengandalkan bertanam kopi.

Dia mengatakan, jika harga kopi terus seperti ini maka petani akan terus mengalami kerugian. "Untuk membayar pemetiknya saja sudah tidak cukup lagi. Untuk satu orang pekerja Rp.40.000/ hari," ungkapnya.

Dijelaskannya, lahan kopi miliknya sekitar 9 rante, per dua minggu biasannya bisa menghasilkan tiga kaleng. Namun, pada musim trek sekarang, paling bisa didadapat sekitar satu kaleng, berkurang lebih dari 50%.

"Supaya tidak mengalami kerugian yang sangat besar, terpaksa memanen sendiri karena sudah tidak mampu lagi bayar pekerja," ungkapnya. Terpuruknya harga kopi sempat membuatnya terpikir untuk beralih ketanaman lain, seperti cabai merah dan jeruk. Hanya saja, ia tidak punya cukup modal.

Tak hanya di Dairi, petani kopi arabika di Kabupaten Pakpak Bharat juga resah akibat anjloknya harga kopi yang bertahan Rp9500/kg, hingga empat pekan berturut turut. Sabar Manik, ketika berbincang dengan MedanBisnis, Kamis (16/5) di Pekan Salak, mengatakan, sudah empat pekan ini harga kopi ateng sangat anjlok hanya dihargai para toke Rp 9500/kg.

"Hasil penjualan panen kopi hanya cukup untuk buat makan keluarga. Sedangkan untuk membeli pupuk tidak ada lagi. Kopi tidak lagi terpupuk. Ini akan sangat berdampak pada hasil panen selanjutnya," katanya. (rudy sitanggang/ck08)
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook