User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia Yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 11,550.00 11,600.00
SGD 9,298.70 9,355.70
JPY 113.36 114.20
MYR 3,625.59 3,665.51
CNY 1,861.30 1,878.25
THB 361.65 365.75
HKD 1,489.90 1,497.25
EUR 15,550.95 15,642.65
AUD 10,855.85 10,937.75
GBP 19,615.45 19,724.75
Last update: 26 Jul 2014 09:00 WIB
Wacana
Senin, 27 Mei 2013 06:37 WIB - http://mdn.biz.id/n/31306/ - Dibaca: 584 kali
Perkebunan Sawit Berwawasan Lingkungan
Tak bisa disangkal, kelapa sawit - si ratu minyak - berperan sebagai sumber devisa negara, menyediakan lapangan kerja dan lapangan berusaha, sumber bahan baku industri pangan dan nonpangan, termasuk biodiesel dan biofuel.
Namun berkembangnya industri sawit dituding sebagai salah satu penyebab rusaknya lingkungan dan hutan-hutan tropis. Sejalan dengan kenaikan permintaan, ekspansi sawit sampai ke lahan gambut dan menyumbang emisi CO2 yang besar (50 - 100 ton/ha).

Tak cukup pulau Sumatera dan Kalimantan, Papua pusat megabiodiversitas tropis juga tak luput dari konversi hutan menjadi perkebunan sawit. Laju deforestasi dan degradasi hutan dan lahan gambut di Indonesia, terus meningkat dan tentunya memberi dampak terhadap perubahan iklim serta hilangnya keanekaragaman hayati.

Sebenarnya industri sawit ramah lingkungan. Secara konseptual, tidak ada limbah karena semua limbah kebun dan pabrik dapat dimanfaatkan. Dengan potensi produktivitasnya yang tinggi, tanaman sawit banyak menyerap CO2 (salah satu gas rumah kaca) dan menghasilkan O2 (esensial untuk pernafasan banyak mahluk hidup dan untuk membentuk ozon yang melindungi bumi dari sinar matahari gelombang pendek seperti ultra violet).

Pemanfaatan Lahan Terlantar
Sejalan dengan peningkatan kebutuhan lahan untuk perkebunan, terjadi konversi hutan menjadi penggunaan lain di luar kehutanan, terutama untuk lahan perkebunan sawit. Namun lahan yang dibangun menjadi kebun sangat sedikit. Tidak lebih dari 20%.

Sisanya menjadi lahan terlantar yang tidak produktif. Pemanfaatan kawasan yang sudah dilepas/dikonversi dan masih terlantar masih sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan (perluasan) lahan perkebunan, dan ini akan menahan laju deforestasi.

Upaya peningkatan produksi sawit di Indonesia tidak hanya dapat dicapai melalui perluasan lahan, namun juga melalui peningkatan produktivitas. Produktivitas perkebunan kelapa sawit di Indonesia masih 30 - 50% lebih rendah dari tingkat produktivitas perkebunan kelapa sawit di Malaysia.

Faktor teknis yang sering menyebabkan kegagalan perolehan produksi yang tinggi dalam budidaya kelapa sawit, adalah penggunaan bibit palsu, penggunaan lahan yang tidak sesuai dan strategi tata guna tanah yang kurang tepat, serta kultur teknis (termasuk panen) yang tidak sesuai baku.

Pemerintah sudah menunjuk institusi penjual kecambah berlegitimasi (SK Menteri Pertanian Nomor KB.320/261/Kpts/5/1984), namun penggunaan bibit palsu masih marak dengan pertimbangan harga bibit yang lebih murah.

Produksi tandan buah segar (TBS) dan minyak sawit mentah (CPO) bibit palsu turun masing-masing sebesar 25% dibanding bibit unggul Tenera. Dari luasan lahan yang sama perolehan hasil dengan bibit palsu hanya 50% dari perolehan hasil dengan bibit unggul.

Mengacu pada faktor lingkungan, agroklimat, sifat fisik lahan, dan sifat kimia tanah, ada penggolongan kelas kesesuaian lahan sawit. Ke arah lahan yang semakin marjinal terjadi penurunan produktivitas 20% hingga lebih dari 50%, di samping terjadi peningkatan biaya untuk perbaikan dan konservasi tanah, yang berarti berkurangnya keuntungan.

Biaya pemeliharaan kelapa sawit di lahan gambut (gambut "sesuai") 1.7 kali biaya di tanah mineral dengan penurunan hasil sebesar hingga 45%. Potensi hasil pada masing-masing kelas kesesuaian lahan dapat diperoleh jika ada penerapan teknik budidaya optimal (standar) dan strategi tata guna tanah yang tepat dan terkonservasi. Peniadaan atau pengurangan aspek ini akan menurunkan produktivitas dalam berbagai tingkat.

Penurunan produktivitas akibat salah dalam pemanenan juga dapat terjadi, akibat kesalahan dalam penentuan kriteria matang dan kelalaian dalam pengutipan brondolan (buah yang sudah lepas dari tandan). Rendemen CPO dari TBS yang agak matang bisa turun sebesar 20% dibandingkan CPO dari TBS matang. Tidak terbawanya brondolan ke pabrik kelapa sawit, akan menurunkan perolehan CPO pada berbagai tingkat.

Target pengelolaan lahan yang lebih luas adalah perolehan produksi yang lebih besar. Dengan mengatasi faktor kegagalan tadi, terjadi peningkatan produktivitas. Untuk memperoleh produksi serupa pemborosan penggunaan lahan dapat dihindari hingga 50%.

Tanggungjawab Konservasi
Sebagai wujud tanggung jawab akan kehilangan keanekaragaman hayati, para pekebun, PT Perkebunan Negara, dan perkebunan swasta dapat menyandingkan bisnis dengan konservasi tumbuhan. Rasio tertentu dari luasan lahan yang dikelola, dipertahankan sebagai hutan ataupun sebagai konservasi keanekaragaman hayati.

Yang dapat dilakukan antara lain tidak membuka seluruh lahan (misal penanaman kelapa sawit hanya boleh 100 m dari DAS), mempertahankan keberadaan plasma nutfah yang sudah langka, menanam dan mengembangkan plasma nutfah setempat, menanam dan mengembangkan plasma nutfah tertentu. Ini akan semakin dimungkinkan dengan adanya penghematan lahan karena upaya peningkatan produktivitas dan dengan adanya pemanfaatan lahan terlantar.

Perkebunan sawit berwawasan lingkungan, melalui peningkatan produktivitas dan pemanfaatan lahan terlantar, serta konservasi keanekaragaman hayati, tidak hanya memperoleh produksi yang tinggi, namun juga terhindar dari mengabaikan nasib generasi mendatang.
(Oleh :Benedicta L. Siregar)

Penulis adalah dosen Fakultas Pertanian Universitas HKBP Nommensen

BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook