User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia Yang Lebih Baik
 
Ex. IBM atau Teknologi
 
Berita Terkini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 11,395.00 11,425.00
SGD 9,106.50 9,145.95
JPY 111.61 112.25
MYR 3,500.77 3,538.01
CNY 1,827.90 1,841.70
THB 351.92 356.21
HKD 1,469.30 1,473.65
EUR 15,755.95 15,821.45
AUD 10,670.35 10,721.35
GBP 19,167.55 19,242.05
Last update: 17 Apr 2014 09:00 WIB
Internasional
Kamis, 30 Mei 2013 08:25 WIB - http://mdn.biz.id/n/32064/ - Dibaca: 169 kali
Inggris dan Perancis Dapat Persenjatai Pemberontak Suriah
MedanBisnis - London/Paris. Inggris dan Perancis mengatakan pada Selasa mereka tidak harus menunggu sampai 1 Agustus untuk mempersenjatai para pemberontak yang memerangi Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan apa yang disampaikan para pejabat Uni Eropa tetapi kedua negara itu menegaskan mereka belum mempunyai rencana untuk melakukan hal itu.

Pemerintah-pemerintah EU gagal memperbarui embargo senjata blok itu pada Senin karena perbedaan-perbedaan pandangan, yang membuka jalan bagi Inggris dan Perancis memasok senjata. Tetapi para pejabat EU mengatakan kedua negara tersebut telah membuat komitmen tidak melakukannya sebelum 1 Agustus.

"Saya harus mengoreksi satu hal yang menjadi concern. Saya tahu ada pembicaraan mengenai tanggat waktu Agustus. Itu bukan perkara," kata Menteri Luar Negeri William Hague kepada radio BBC.

Dia menambahkan bahwa Inggris tidak "dikeluarkan" dari mengambil tindakan sebelum itu tapi tak akan bertindak sendiri jika memilih melakukan hal tersebut.

Ketika juru bicara Kementerian Luar Negeri Perancis Philippe Lalliot ditanya pada Selasa apakah Perancis juga dapat mengirim senjata sebelum 1 Agustus, ia mengatakan dengan singkat,"Ya".
"Tujuan kami pertama ialah mencapai solusi politik," katanya merujuk pada konferensi perdamaian yang direncanakan di Jenewa bulan depan.

Inggris dan Perancis berpendapat bahwa dengan membiarkan opsi mempersenjatai para pemberontak terbuka berarti memberi tekanan pada Bashar untuk merundingkan transisi kekuasaan di konferensi tersebut, tetapi para pengeritik mengatakan pendekatan Inggris-Perancis beriskio menyulut situasi yang mudah berubah itu.

Dari Damaskus kantor berita AFP melaporkan Selasa pemerintah Suriah mengecam satu keputusan EU untuk mencabut larangan memasok senjata kepada para pemberontak sebagai satu "penghalang" usaha-usaha untuk menyelesaikan konflik di Suriah dengan damai.

"Keputusan Uni Eropa mempertunjukkan... penghalang usaha-usaha internasional untuk mencapai penyelesaian politik atas krisis di Suriah," kata Kementerian Luar Negeri dalam pernyataan yang disirkan oleh kantor berita Suriah SANA.

Uni Eropa pada Senin setuju mencabut embargo senjatanya terhadap pemberontak Suriah tetapi tidak satupun anggota berniat mengirim senjata dalam bulan-bulan mendatang karena khawatir membahayakan prakarsa perdamaian Amerika Serikat-Rusia.

Setelah perundingan 12 jam yang sangat melelahkan di Brussels, Menlu Hague mengumumkan persetujuan untuk mencabut embargo senjata terhadap pemberontak, sementara mempertahankan satu paket sanksi yang telah berlangsung dua tahun terhadap pemerintah Presiden Bashar al-Assad.

Inggris dan Perancis yang memelopori pencabutan embargo senjata itu sementara Austria, Swedia, Finlandia dan Republik Ceko enggan karena dengan pencabutan tersebut akan lebih banyak senjata masuk di negara yang dilanda konflik itu yang telah menewaskan lebih dari 94.000 orang.

Mengirim senjata-senjata "bertentangan prinsip" Eropa yang adalah satu "masyarakat damai", kata Menlu Austria Michael Spindelegger, yangs sejak lama menentang keras tindakan itu.
Seorang pejabat Perancis di Paris menegaskan "ini adalah satu pencabutan embargo teoritis. Dalam syarat-syarat konkret, tidak akan ada keputusan bagi pengiriman senjata sebelum 1 Agustus".

Penangguhan itu akan memungkinkan bagi konferensi perdamaian mengenai Suriah yang diprakarsai AS-Rusia, yang mengharapkan pemerintah Presiden Bashar dan para tokoh oposisi hadir pada pertemuan itu bulan depan.

Perjanjian yang disetujui di Brussels itu memberikan hak kepada setiap negara untuk memutuskan pengiriman senjata kepada pemberontak. Para menteri berikrar akan berpegang pada pengamanan agar senjata-senjata yang diekspor itu tidak disalahgunakan dan menghormati ketentuan-ketentuan Uni Eropa.

"Tidak satu negarapun berniat mengirim senjata pada saat ini," tambah Frans Timmermans, menteri Belanda yang berusaha melakukan kompromi.

"Banyak senjata telah berada pada pihak yang salah," katanya. "Pihak-pihak yang terlibat dalam konflik itu tidak kekurangan senjata."

Hague menegaskan bahwa Inggris, walaupun memelopori tindakan itu, juga "tidak mempunyai segera" rencana memasok senjata kepada pemberontak yang memerangi Bashar.

Ia mengatakan Inggris hanya menginginkan satu solusi politik dan solusi yang didukung diplomatik bagi konflik Suriah tetapi keputusan Senin itu "merupakan satu pesan sangat keras dari Eropa kepada pemerintah Bashar tentang apa yang kami rasakan akan tindakan keras yang kejam dan pembunuhan serta kejahatan yang dilakukan pemerintah ini".

Di Istanbul Khaled al-Saleh, juru bicara Koalisi oposisi Suriah menyebut keputusan Uni Eropa itu "satu momen kebenaran yang telah kami tunggu selama berbulan-bulan".

Ia sedang menghadiri perundingan Koalisi selama beberapa hari yang gagal mencapai kesepakatan untuk ikut serta dalam perundingan perdamaian yang diprakarsai AS-Rusia, terutama jika pemerintah Bashar juga akan hadir. (ant/reuters/afp)
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook