User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia Yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 11,620.00 11,650.00
SGD 9,235.40 9,275.60
JPY 113.18 113.82
MYR 3,505.29 3,542.43
CNY 1,858.60 1,872.20
THB 355.66 357.59
HKD 1,498.70 1,503.15
EUR 16,044.95 16,110.85
AUD 10,807.75 10,860.25
GBP 19,549.55 19,624.45
Last update: 23 Apr 2014 09:00 WIB
Wacana
Selasa, 04 Jun 2013 07:02 WIB - http://mdn.biz.id/n/32877/ - Dibaca: 394 kali
Lenyapnya Rasa Malu Pejabat Korup
RASA malu sebagian pejabat di negeri ini yang melakukan korupsi semakin lama semakin lenyap. Tindakan pencolengan uang rakyat (baca: korupsi) sudah tak dianggap hal yang memalukan. Praktik korupsi jalan terus tanpa mengenal garis finish. Tindakan sukarela untuk mundur dari jabatan pun hilang.
Ketidaksediaan anggota DPR, DPRD, bupati, gubernur, atau kader partai misalnya, untuk mundur secepatnya dari tampuk kekuasaan adalah contoh terang benderang akan hilangnya rasa malu itu. Barangkali ini juga disebabkan oleh rasa takut kehilangan jabatan yang dimiliki yang seringkali harus diraih dengan harga yang sangat mahal.

Padahal, menurut hemat saya, sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan etika kepada rakyat Indonesia, pejabat negara atau anggota DPR/D yang terkena "aroma korupsi" yang diberitakan media massa tersebut, seharusnya bergegas membebaskantugaskan diri. Rakyat, sebagai pihak yang diwakilinya, tentu sangat muak dengan perilaku-perilaku tak tahu malu orang-orang dipercaya rakyat tersebut.

Adalah suatu kenyataan bahwa dampak dari hilangnya rasa malu telah mengantarkan moralitas para pejabat korup terperosok ke dalam sebuah ruang yang tanpa batas, tanpa garis pemisah dan tanpa demarkasi. Tidak ada pegangan, pedoman, referensi, dan kategori moral yang jelas. Semua batasan yang jelas telah dijungkirbalikkan.

Persoalan batas antara baik dan buruk kini sudah diambangkan, garis pemisah antara benar dan salah mulai direlatifkan, demarkasi antara yang halal dan haram telah dikaburkan oleh sebagian pejabat kita. Moralitas menjelma menjadi semacam ketidakpastian dan kekaburan moral.

Belajar dari Pejabat
Luar Negeri
Harus diakui bahwa negeri ini terlalu miskin menyimpan hal-hal yang baik untuk dijadikan panduan sehingga untuk hal sepele pun, kita terkadang harus belajar dari luar negeri. Untuk sekadar memiliki rasa malu, kita mesti berguru ke negeri orang. Tetapi tidak ada masalah kalau ini memang diperlukan.

Adalah Presiden Jerman Christian Wulff telah mengajarkan rasa malu itu kepada kita, terutama kepada para pejabat negara korup. Dan para penyelenggara negara seharusnya juga mencontoh Wulff ini. Wulff memilih mundur dari jabatan presiden beberapa waktu yang lalu karena malu diguncang pemberitaan skandal korupsi.

Ada dua kesalahan yang dilakukan Wulff. Pertama, Dia diduga kuat menerima fasilitas saat meminjam dana dari bank untuk mencicil rumahnya sebelum menjadi presiden. Kedua, Wulff diduga menekan harian Jerman Bild yang memberitakan skandal korupsinya itu.

Wulff bukanlah sosok pengecut seperti para penguasa korup di negeri ini. Dia menggelar konferensi pers di Istana Presiden, Berlin, bersama istrinya, Bettina. Secara tegas Wulff mengatakan Jerman membutuhkan presiden yang didukung publik. Namun, kepercayaan itu semakin tergerus dan mulai mengganggu. Itulah alasan Wulff mundur.

Tentu saja Wulff bukanlah tokoh pertama yang mengundurkan diri saat duduk di puncak singgasana kekuasaan. Kita tentu masih ingat, di Brasil, banyak menteri mundur karena tuduhan korupsi. Sepanjang 2011 paling kurang lima menteri Brasil melepaskan jabatan karena diguncang skandal korupsi. Juga di Jepang dan Korea, dan masih banyak lagi pejabat di luar negeri yang memilih untuk mundur karena terbelit isu korupsi.

Pengunduran diri Wulff dan tentu pejabat-pejabat korup lainnya yang mundur dari jabatannya telah mengajarkan moral, etika, dan rasa malu. Wulff paham betul bahwa korupsi melilitnya adalah pelanggaran moral. Wulff juga sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang memalukan. Oleh karena itu, dia memilih untuk mundur dari jabatannya.

Para pejabat publik mestinya meneladani Wulff yang memiliki standar tentang nilai-nilai baik-buruk, benar-salah, dan halal-haram. Pejabat juga harus memelihara perasaan enggan melakukan sesuatu yang nista. Itulah rasa malu yang sesungguhnya.

Namun, moral, etika dan rasa malu para pejabat negara kita sudah lama luntur. Meskipun sudah menjadi tersangka, terdakwa, atau bahkan telah divonis masuk penjara karena perkara korupsi pun, para pejabat di negeri masih enggan mundur. Jabatan dan kekuasaan dijadikan tameng untuk berlindung. Yang lebih menyedihkan, mantan pejabat yang pernah dipenjara pun masih bisa mencalonkan diri menjadi pejabat negara, misalnya gubernur, bupati, walikota, anggota DPR/D dan seterusnya. Di manakah rasa malu itu?
Padahal, sejarah mengajarkan kita bahwa apa pun yang betumbuh ke arah ekstrim, sejatinya ia berkembang menuju titik penghancuran dirinya sendiri (self destruction).

Dalam konteks yang lebih luas, ia akan menimbulkan penghancuran terhadap bangsa dan negara.
Lihatlah skandal korupsi muncul hampir setiap hari yang melibatkan baik pejabat pemerintah, DPR, hakim, jaksa, maupun polisi.

Ada kasus korupsi Wisma Atlet, proyek Hambalang, skandal Bank Century, Mafia Pajak, dan sederatan kasus megakorupsi lainnya yang melibat para pengurus negara.

Rasa malu sebagaian pejabat korup di bumi Indonesia memang benar-benar sudah lenyap. Padahal, rasa malu merupakan kekuatan preventif yang membentengi seseorang melakukan tindakan hina seperti korupsi, suap, atau pencucian uang. Jika pemegang kekuasaan tidak lagi memiliki rasa malu, mereka mudah dikuasai nafsu keserakahan meraih uang dan kekuasaan yang bermuara pada kehancuran bangsa.

Hal yang mendesak untuk dilakukan sekarang adalah menanamkan rasa malu pada diri para pejabat korup itu sendiri. Dan ini harus diperjuangkan terus-menerus di dalam sebuah bangsa yang saat ini sedang mengalami kehancuran moral para pejabat negara dikarenakan lenyapnya rasa malu. (Ahmad Ubaidillah)

Penulis mahasiswa pada Program Magister Studi Islam UII Yogyakarta
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook