User ID Password  
HOME   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
 
 
Berita Terkini Hari Ini
BERITA TERKINI SELENGKAPNYA
E-paper
Foto Berita
Efek Pencetak Laba (RPH)
GGRM 1,450 2.25%
UNTR 1,300 4.89%
BBCA 600 3.45%
Last update: 26 Apr 2017
Efek Pencetak Rugi (RPH)
IBST -510 -18.41%
RDTX -400 -5.56%
PLIN -200 -5.06%
Last update: 26 Apr 2017
Volume Terbesar
BUMI 1,503,310,976
MYRX 1,334,510,336
DEWA 309,301,792
Last update: 26 Apr 2017
Transaksi Tertinggi
BMRI 949,101,395,000
BUMI 650,695,946,200
TLKM 455,915,436,000
Last update: 26 Apr 2017
Efek Teraktif
BUMI 20,342 Freq
JPRS 7,895 Freq
KICI 6,856 Freq
Last update: 26 Apr 2017
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 13,260.00 13,394.00
SGD 9,496.53 9,594.56
JPY 11,929.82 12,051.47
MYR 3,048.28 3,081.21
CNY 1,923.66 1,943.10
THB 382.90 386.89
HKD 1,704.37 1,721.82
EUR 14,410.97 14,561.96
AUD 9,902.57 10,009.34
GBP 17,114.68 17,292.99
Last update: 28 Apr 2017 11:10 WIB
Headline News
Jumat, 19 Sep 2014 07:08 WIB - http://mdn.biz.id/n/118375/ - Dibaca: 4,224 kali
Dolar AS Menembus Rp. 12.025
DOLAR TEKAN RUPIAH Karyawan melayani penukaran dolar Amerika di salah satu jasa penukaran valuta asing kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (18/9). Rupiah terkoreksi 0,11 persen ke level Rp11.983 per dolar Amerika, setelah sebelumnya bergerak di kisaran Rp11.980 hingga Rp12.050 per dolar Amerika. (ant/puspa perwitasari)
MedanBisnis - Medan. Hasil rapat Bank Sentral AS (The Fed) yang belum memberikan sinyalemen kenaikan suku bunga acuan ternyata cukup berpengaruh ke pasar keuangan domestik. Dampak yang paling terasa dari hasil keputusan The Fed adalah pelemahan rupiah, sehingga kurs dolar tembus ke level Rp12.000 hingga Rp12.025 per dolar AS.
Bahkan, menurut kurs referensi Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp12.030 per dolar AS, melemah dibandingkan dengan kurs pada Rabu (17/9) yang nilainya Rp11.908 per dolar AS.

Bank Sentral AS mengemukakan baru akan menghapus stimulus pada bulan Oktober mendatang. Sementara mengenai kenaikan suku bunga acuan, The Fed memberikan sinyal bahwa akan melihat perkembangan ekonomi terkini AS khususnya dari sisi ketenagakerjaan dan pencapaian inflasi."Sejauh ini, kedua data tersebut memang belum berdampak terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat ini, atau pun akhir tahun," jelas ekonom Sumut, Gunawan Benjamin, Kamis (18/9).

Pekan ini, terang Gunawan, akan ada data terkait dengan klaim pengangguran yang diperkirakan akan mengalami penurunan dari 315.000 jiwa menjadi sekitar 311.000 jiwa. Data klaim pengangguran yang mengalami penurunan akan membuat tingkat pengangguran berangsur membaik. Di sisi lain, bila laju tekanan inflasi AS telah mencapai level 2%, maka potensi kenaikan suku bunga acuan AS akan segera terealisasi. Sejauh ini besaran inflasi di AS masih berkutat di level 1,7%.

Namun, pelaku pasar sangat berkeyakinan bahwa AS akan pulih dalam waktu dekat ini. Disisi lain kebijakan suku bunga rendah oleh ECB, stimulus yang digelontorkan oleh Bank Sentral Jepang (BoJ) serta Bank Sentral Tiongkok (PBoC) membuat kinerja dolar AS terus membentuk tren naik terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

"Kondisi ini yang membuat tekanan terhadap rupiah meningkat dan mengakibatkan mata uang Garuda ini anjlok melewati Rp12.000 per dolar AS. Dari domestik pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan terkini koalisi pemerintah Jokowi-JK serta formasi kebinet yang akan mengisi beberapa jabatan strategis nantinya," kata Gunawan.

Tren permintaan dolar AS menjelang akhir bulan yang naik karena permintaan valas untuk kebutuhan impor (terbesar BBM) juga sangat potensial menekan kinerja rupiah. Pelaku pasar pada umumnya merespon pasar uang terlebih dulu sebelum realisasi data tersebut dikeluarkan.

Seperti saat ini, meski Bank Sentral AS masih butuh waktu untuk menaikkan bunga acuan, namun rupiah sudah tertekan lebih awal.

Tetapi Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan nilai tukar rupiah yang melewati Rp12.000 per dolar AS tidak perlu dikhawatirkan karena masih sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia. "Nggak apa-apa, kalau saya lihat kemarin itu masih ada di Rp11.900 per dolar AS. Seandainya ada satu dinamika nilai tukar, itu masih sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia," katanya.

Agus mengakui pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan bahwa Bank Sentral AS (The Federal Reserve) tetap mempertahankan tingkat suku bunga, namun akan ada perubahan bertahap dari 1,125 persen menjadi 1,375 persen.

Menurut Agus, para pelaku pasar di dunia merespons kondisi itu dengan cara berbeda, salah satunya dengan mengurangi portofolio yang sebelumnya bersifat jangka panjang ke portofolio jangka pendek."Respons tersebut berdampak kepada dunia. Kita lihat terjadi pelemahan di regional dan juga di Indonesia ada pelemahan, itu satu hal yang wajar," kata Agus.

Agus mengatakan Bank Indonesia sudah mengantisipasi perkembangan kondisi ekonomi global saat ini sejak enam bulan lalu dan meminta pelaku pasar keuangan dalam negeri tidak panik."Saya ingin kita tetap tenang karena ini satu kondisi yang banyak dipengaruhi oleh kondisi dunia," katanya.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengakui pelemahan nilai tukar rupiah merupakan akibat dari kebijakan moneter dari The Fed soal suku bunga. Meski baru rencana namun memberikan pengaruh terhadap investor.

Tetapi, katanya, pelemahan tak hanya terjadi pada rupiah. Akan tetapi juga negara lain yang termasuk dalam lima negara dengan ekonomi rapuh atau fragile five, yaitu India, Turki, Brasil, Afrika Selatan."Bahwa saat yang sama the fragile five semua terpukul. India, Turki, Brasil, Afrika Selatan, rupiah semuanya jatuh," ujarnya.(elvidaris/ant/dtf)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
Informasi pemasangan barrier gate, jual barrier gate dan Barrier Gate Otomatis, hubungi NICE Automatic Gate sekarang juga! Terima kasih!
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!