| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

JIKA sampai hari ini saya setia berkarya di bidang seni dan budaya, tentu itu karena terinspirasi dari Thompson Hs. Ia istimewa bagi saya. Sejak berproses dalam dunia kreatif seperti ini, saya banyak mendengar cerita dan hikmat dari beliau. Tentang bagaimana berkarya dan bertahan hidup pada situasi terpuruk.
Pada tahun 2006, ia menjadi mentor kami dalam pertunjukan Opera Batak berjudul "Guru Saman". Peran saya termasuk pemeran utama. Sejak itu, saya mulai menyukai pertunjukan.
Maka, ketika kuliah, saya tak ragu memilih jurusan bahasa Indonesia. Saya pun aktif berproses di bidang sastra dan pertunjukan.
Demi pertunjukan ini, saya seringkali harus jalan kaki dari Unimed ke Taman Budaya. Tak ada kompensasi yang saya harapkan. Saya hanya ingin melihat bagaimana proses pertunjukan dan kreatif itu terbentuk. Saya melihat berbagai penyair. Ikut lomba. Dan, selalu kalah. Tak pernah menang.
Namun, saya tak berhenti. Saya dengan teman-teman membentuk komunitas sastra di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Terbit hanya sekali. Tetapi, kebanggaan luar biasa.
Begitu juga di KMK: terbit 2 kali. Saya beberapa kali merental komputer. Mengetik puisi dan esai. Dikirim melalui warnet.
Di masa kami memang begitu. Laptop adalah barang mewah. Berselancar ke dunia maya harus ke warnet. Mencari pengetahuan dan kutipan harus ke perpustakaan. Cukup lama proses itu saya lalui. Saya tak tahu kapan berhasil menembus media. Tak ada yang bisa saya lihat saat itu.
Saya yakin, beberapa puisi atau esai saya mungkin sudah dimuat pada kisaran tahun 2010. Namun, tak pernah terlacak karena harian terbatas.
Hingga kemudian saya bekerja di bimbel Prosus Inten Medan. Bimbel saya punya harian Analisa dan Medan Bisnis saat itu. Saya pun mulai menyicil laptop murah.
Itu pada tahun 2012. Sejak itu, saya rutin menulis dan mengirim ke media. Saya berhasil. Bahkan dapat survival dari berbagai media. Di Sumatera Utara, Aceh, Lampung, Sumatra Barat, bahkan Jawa. Saya dapat bertahan hidup dari tulisan sejak itu. Tampaknya, Thompson Hs mengikuti berbagai esai puisi saya.
Maka, pada 2015, kami berjumpa kembali. Saya diberi kesempatan untuk berproses di bidang pertunjukan Opera Batak. Saya malah ikut ke Jerman. Dan, masih banyak tempat lainnya. Sejak itu, saya mulai menikmati dunia pertunjukan kembali. Namun, saya tak meninggalkan pekerjaan saya.
Saya belum percaya diri bisa bertahan dan survival dari dunia pertunjukan atau literasi. Walau demikian, jika ada tawaran dari Bang Thompson Hs untuk tampil, meski gaji saya selalu menjadi taruhannya, saya tetap ikut. Tentu saja uang yang saya dapatkan dari pertunjukan lebih sedikit dari uang yang harus saya lepaskan.
Ya, di dunia kerja, ada namanya potongan yang eksponensial. Bonus-bonus kehadiran langsung ludes begitu tidak datang 2 hari berturut-turut, misalnya. Tetapi, saya sudah memutuskan untuk tidak hanya bekerja, tetapi juga berkarya. Thompson Hs menjadi panutan utama saya.
Saya tahu sedikit tentang pola hidupnya. Ia mendedikasikan diri dan kemampuannya pada pertunjukan. Tentu polanya belum segampang saat ini. Saat ini, fasilitasi kebudayaan sudah mulai lebih mudah didapatkan. Dahulu, belum semudah sekarang ini. Dari situ saya menilai: ia memang budayawan militan.
Jadi, pantas kiranya ia mendapat berbagai penghargaan. Termasuk ketika tak lama ini mendapatkan penghargaan seumur hidup dari Festival Teater Indonesia. Dan, tentu saja, Sanggar Maduma yang saya bina menjadi bagian perpanjangan ide Thompson Hs setelah sebelumnya kami membangun Toba Writers Forum.
Kini, Sanggar Maduma sudah mulai mendapatkan kesempatan. Orang mungkin melihat prosesnya baru terjadi beberapa tahun ini. Namun, jika boleh ditafsir, ide itu sudah lama mengendap sebelum akhirnya mendapatkan momentum yang tepat. Dan, sedikit banyak, Thompson Hs menjadi inspirasi si dalamnya.
Begitulah saya memahami karya: butuh dedikasi dan militansi tinggi. Namun, persoalannya, kaderisasi harus dilakukan. One man one show harus segera disingkirkan. Namun, apakah masih banyak orang saat ini yang setia berproses dari bawah? Untuk generasi Z, saya masih cenderung ragu. Ragu. Belum yakin! (Tulian kiriman Riduan Situmorang, Pembina Sanggar Maduma Doloksanggul)

