| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

BEBERAPA waktu yang lalu, saya membaca salah satu media nasional. Isi berita yang disampaikan cukup menarik, yakni maraknya zero post di media sosial pengguna di berbagai negara. Sebagian besar pengguna medsos tidak hanya membatasi postingan, namun juga tidak lagi menggunakan media sosial yang sebelumnya digunakan (Mila Novita, Tempo, 2026).
Alasan terjadinya fenomena ini cukup beragam. Jika melihat dari rentang usia, generasi milenial mulai disibukkan dengan dunia pekerjaan dan upaya untuk menjaga mental health. Sementara itu, Gen Z merasa khawatir jika postingannya digunakan orang lain untuk mempermalukan dirinya.
Jika dicermati, ada semacam kesadaran untuk membatasi budaya flexing, serta menjaga kesehatan afeksi personal. Menariknya, kesadaran intrapersonal yang tercipta ini (relasi diri dengan diri), sejalan dengan merosotnya hubungan interpersonal dalam relasi romantis antara laki-laki dan perempuan.
Jika kita melihat sejumlah data, di Cina angka pernikahan menurun dari 13 juta di tahun 2014 menjadi 6 juta di tahun 2024. Keadaan serupa juga terjadi di berbagai negara seperti Iran, Meksiko, Peru, Afrika Selatan, Korsel, dan berbagai negara lainnya (Stephanie Hegarty, BBC World, 2025). Indonesia juga tidak kebal dari tragedi ini, di mana terjadi kemerosotan sekitar 30% pernikahan dibanding 10 tahun terakhir (Rahka Susanto, DW, 2026).
Berdasarkan sejumlah data yang saya baca, alasan merosotnya relasi pernikahan ini terjadi karena beberapa faktor seperti faktor ekonomi, keengganan untuk berinteraksi secara langsung, biaya kencan yang mahal, dan identitas diri yang dianggap tidak layak untuk berkencan. Beberapa alasan ini bisa disimpulkan dengan satu kalimat sederhana: keengganan untuk rentan.
Saat ini, jaminan masa depan, fasilitas domestik yang dimiliki, dan fulus menjadi prasyarat dalam membangun relasi. Selain itu, daya tarik fisik yang membutuhkan biaya perawatan yang tidak murah pun ikut menjadi pertimbangan. Akibatnya, hitung-hitungan matematis kerap menjadi titik awal sebelum menjalin relasi. Transaksi mendahului relasi. Pertimbangan-pertimbangan ini sangat nyata di berbagai negara, sehingga tidak mengherankan jika pertemuan empat mata sering mengalami penundaan atau bahkan terabaikan.
Relasi yang transaksional sebelumnya, sebenarnya sangat miskin dalam memaknai suatu ikatan hubungan. Mari kita lihat gambaran yang terjadi di Indonesia sekitar 40–50 tahun yang lalu. Agaknya realitas di masa lalu Indonesia sangat kaya dalam memaknai arti dari relasi.
Di Indonesia sendiri, sesuai tradisi timur, kisah hubungan interpersonal dalam relasi romantis yang saya dengar dari orang tua dekade 40–50 tahun lalu, agaknya sangat indah dibayangkan. Kisah kencan orang tua atau kakek dan nenek kita, rata-rata sangat menarik untuk dipelajari di era sekarang ini.
Dulu, sebagian besar dari mereka datang langsung ke rumah gebetannya. Mohon izin ke orang tuanya untuk berpamitan kencan keluar. Kemudian, orang tua si wanita tentu akan memberikan restu sembari mengingatkan untuk pulang sebelum larut malam (jam 9 malam). Saya berupaya membayangkan, bagaimana nyali seorang pria waktu itu harus teruji dan benar-benar tulus untuk menemui orang tua gebetannya. Paling tidak, orang tua si wanita akan mengenal si pria dan meminta si pria untuk melindungi putrinya. Sangat indah membayangkannya.
Dengan jaket tebal, mungkin mereka akan berjalan keliling kota. Atau bahkan menaiki sepeda ontel sederhana, mendayungnya 3–5 km untuk menikmati kopi hangat dan mie kuah. Pun begitu, kala dua sejoli itu akhirnya berpisah, mereka kerap kali saling mengirim surat mengungkapkan isi hatinya. Biasanya, dalam surat yang dikirim via kartu pos itu, sepasang kekasih ini akan saling memuji, mengutarakan janji setia, dan bernostalgia mengenang kisah-kisah romantis yang telah dilalui bersama.
Mereka saling memuji dengan kata. Memberikan dukungan dan janji-janji yang mungkin akan sangat lama tergenapi. Biasanya, ketika sepasang kekasih ini berkencan, pada umumnya mereka sangat malu untuk bergandengan tangan. Mereka jalan berdua, berbincang, bermain gitar sambil bernyanyi. Wajah mereka berseri-seri diiringi senyuman. Mereka mencoba tampil menarik seadanya, menunjukkan diri apa adanya, dan dengan lugunya mereka berinteraksi dalam perbincangan yang berterus terang.
Tentu, bukan berarti keadaan ini tidak terjadi sekarang ini. Saya menduga keadaan sebelumnya masih terjadi di beberapa kasus, namun kebanyakan tidak sememikat di masa lampau. Di masa lampau, mereka berbicara apa adanya, menatap dengan tulus, rela untuk tampil rentan, dan terbuka untuk membangun keakraban dengan orang tua pihak wanita/pria. Sehingga, rasa akrab itu terjalin seiring waktu.
Kemudian, dalam keterbatasan mereka, sepasang kekasih itu berjuang bersama. Entah itu bekerja di ladang, menjual hasil panen mereka, atau bahkan berangkat kerja dengan sepeda motor sederhana.
Memang, harus diakui bahwa kesadaran psikologis waktu itu mungkin tidak secanggih sekarang ini. Namun di masa itu, kerelaan untuk menerima keterbatasan pasangan agaknya sangat kental terasa. Sekarang, kerentanan untuk menunjukkan keterbatasan kepada pasangan rasanya seperti tabu. Belum lagi tantangan dalam suatu ikatan relasi, mulai digantikan berbagai sumber dopamin lainnya yang sangat mudah diakses. Entah itu gula, screen time, solo travelling, dan lain sebagainya.
Hubungan romantis perlahan dipandang bukan lagi sesuatu yang sakral. Padahal, hal ini adalah kesempatan untuk mengenal diri dan bertumbuh sebagai keluarga yang beribadah bersama. Akibatnya, sangat sedikit komitmen yang diletakkan dalam relasi romantis. Perselingkuhan terjadi, pun pengabaian lewat sumber-sumber dopamin yang dipandang mampu menggantikannya.
Sebagai kesimpulan, untuk menjawab persoalan rendahnya tingkat pernikahan/relasi romantis, generasi saat ini perlu belajar untuk membuka diri. Belajar mengenali dan dikenali. Belajar melihat potensi dan melengkapi kelemahan orang lain. Sehingga tercipta keadaan aman, di mana laki-laki dan perempuan dapat saling melengkapi sebagai sahabat.
Kemudian, kemampuan yang tidak boleh luput yakni sikap untuk saling memuji satu dengan yang lain. Kitab kuno seperti Kidung Agung menunjukkan hal yang demikian. Bukan hanya pria yang memuji, pun begitu juga dengan wanita. Keduanya saling memuji, mengapresiasi, mengucapkan terima kasih, melemparkan senyuman, dan perhatian. Relasi yang demikian tentu sehat dan bermakna bagi kedua belah pihak.
Saat ini kita tumbuh menjadi generasi yang pelit pujian, minim apresiasi, dan hanya sekadar memperhatikan diri sendiri. Padahal, orang yang sehat afeksinya akan menikmati hidupnya, membagikan kebahagiaan dengan orang lain, yang terlihat dari tindakan dan perkataan yang membuat orang lain aman dan nyaman. Dia membimbing dengan lembut dan perlahan, mengapresiasi setiap usaha, dan membagikan kebahagiaan yang ada di dalam hati.
Meskipun dulu kakek dan nenek kita harus menunggu surat cintanya dibalas berhari-hari, ada kesabaran di dalam relasi mereka. Ada kesetiaan untuk mengharapkan yang baik dari pasangannya. Tidak buru-buru, tidak menuntut, dan tidak memaksa. Mereka hanya menawarkan hati mereka, mengharapkan yang terbaik untuk seseorang yang dicintai. Generasi kita yang serba cepat dan penuh pertimbangan ini, agaknya perlu belajar menikmati keindahan relasi generasi pendahulu kita. Kesabaran, kesetiaan dan kerelaan untuk tampil apa adanya seperti yang mereka tunjukkan sangatlah romantis.
====
Penulis pemerhati masalah sosial/politik
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

