| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

TAHUN ajaran baru 2026/2027 menjadi penanda perubahan penting dalam penyelenggaraan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa MPLS bukan lagi sekadar kegiatan orientasi, melainkan ruang pertama untuk membangun budaya sekolah. Pendidikan tidak hanya dimulai dari ruang kelas, tetapi sejak pengalaman pertama seorang anak memasuki gerbang sekolah.
Perubahan arah kebijakan Kemendikdasmen yang tertuang dalam Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026, yang menempatkan MPLS sebagai wahana membangun sekolah ramah anak sekaligus membiasakan pola hidup sehat, patut diapresiasi.
Orientasi tidak lagi dimaknai sebagai ajang memperkenalkan gedung, tata tertib, atau organisasi sekolah semata, melainkan momentum menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan memiliki terhadap lingkungan belajar.
Selama bertahun-tahun, masyarakat masih menyimpan ingatan tentang praktik orientasi yang menyimpang. Tidak sedikit kegiatan yang justru mempermalukan murid baru melalui atribut yang tidak mendidik, hukuman yang tidak relevan, atau candaan yang berubah menjadi perundungan.
Meski praktik semacam itu semakin berkurang, jejaknya masih membekas dalam ingatan publik. Padahal, hari pertama sekolah semestinya menjadi pengalaman yang membangkitkan rasa percaya diri, bukan meninggalkan trauma.
Sekolah yang baik tidak diukur dari kerasnya disiplin pada hari pertama, melainkan dari kemampuannya membuat setiap murid merasa diterima sebagai manusia yang utuh. Murid tidak datang ke sekolah hanya membawa buku dan seragam baru.
Mereka juga membawa latar belakang keluarga, pengalaman belajar, kecemasan, serta harapan yang berbeda-beda. Semua itu membutuhkan ruang yang aman untuk bertumbuh.
Dalam konteks itulah konsep sekolah ramah memperoleh relevansinya. Sekolah ramah bukan berarti sekolah yang membiarkan semua perilaku tanpa aturan.
Sekolah ramah justru memiliki disiplin yang jelas, tetapi ditegakkan melalui penghormatan terhadap martabat setiap anak. Guru menjadi teladan dalam berbicara, kakak kelas menjadi pendamping, sedangkan seluruh warga sekolah menjadi komunitas yang menyambut, bukan menghakimi.
Kebijakan terbaru yang memasukkan pembiasaan hidup sehat dalam rangkaian MPLS juga menunjukkan bahwa pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik. Sekolah ingin membentuk kebiasaan hidup yang akan melekat sepanjang hayat. Murid dikenalkan pada pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengonsumsi makanan bergizi, beraktivitas fisik, menjaga kesehatan mental, serta membangun hubungan sosial yang sehat. Kebiasaan-kebiasaan sederhana inilah yang sesungguhnya menjadi fondasi keberhasilan belajar.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesehatan fisik dan mental berkorelasi erat dengan prestasi belajar. Anak yang cukup istirahat, memiliki pola makan yang baik, merasa aman, dan terbebas dari tekanan psikologis cenderung lebih mampu berkonsentrasi serta berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
Dengan demikian, membangun budaya hidup sehat bukanlah kegiatan tambahan, melainkan bagian dari strategi meningkatkan kualitas pendidikan.
Namun, keberhasilan MPLS tidak ditentukan oleh banyaknya materi yang disampaikan. Yang jauh lebih penting adalah pengalaman yang dialami murid.
Mereka mungkin tidak akan mengingat seluruh penjelasan tentang tata tertib sekolah, tetapi akan mengingat bagaimana guru pertama kali menyapa mereka, bagaimana kakak kelas memperlakukan mereka, dan bagaimana sekolah membuat mereka merasa diterima.
Karena itu, desain MPLS perlu bergeser dari pola seremonial menuju pengalaman belajar yang bermakna. Murid dapat diajak mengenal berbagai ruang belajar melalui kegiatan eksplorasi, berdialog dengan guru secara santai, mengenal layanan konseling, memahami budaya sekolah, berlatih bekerja sama dalam kelompok, serta mengikuti aktivitas yang menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Seluruh kegiatan tersebut akan jauh lebih membekas dibandingkan ceramah yang panjang.
Guru memegang peran sentral dalam proses ini. Hari-hari pertama sekolah menjadi kesempatan emas untuk membangun hubungan emosional dengan murid.
Sebuah sapaan hangat, senyum yang tulus, atau kesediaan mendengarkan cerita murid sering kali memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada nasihat yang panjang. Hubungan yang baik antara guru dan murid akan menjadi modal penting dalam proses pembelajaran sepanjang tahun.
Tidak kalah penting adalah keterlibatan orang tua. MPLS semestinya menjadi awal terbentuknya kemitraan antara sekolah dan keluarga. Orang tua perlu memahami budaya sekolah, sementara sekolah juga perlu mengenali karakter serta kebutuhan setiap murid. Pendidikan akan berjalan lebih efektif apabila kedua lingkungan tersebut saling mendukung.
Di era digital, tantangan MPLS juga semakin kompleks. Murid baru tidak hanya perlu mengenal lingkungan fisik sekolah, tetapi juga budaya digital yang sehat.
Mereka perlu dibimbing menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, menghargai privasi, menghindari perundungan siber, serta memanfaatkan kecerdasan artifisial sebagai alat belajar, bukan sebagai jalan pintas untuk menghindari proses berpikir.
Literasi digital yang baik sejak hari pertama akan membantu membentuk karakter murid yang bijaksana dalam memanfaatkan teknologi.
Pada akhirnya, keberhasilan MPLS bukan diukur dari kemeriahan acara pembukaan atau banyaknya dokumentasi yang diunggah ke media sosial.
Ukurannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih mendasar, yakni apakah murid pulang pada hari pertama dengan perasaan bahagia dan ingin kembali ke sekolah keesokan harinya. Jika jawabannya ya, berarti sekolah telah berhasil membangun fondasi kepercayaan.
BACA JUGA: Tahun Ajaran Baru, Saatnya Guru Perbarui Praktik Mengajar
Hari pertama sekolah sesungguhnya adalah cermin wajah pendidikan kita. Di sanalah murid pertama kali belajar tentang makna penghormatan, kedisiplinan, kepedulian, dan kebersamaan.
Jika sejak awal mereka disambut dengan empati, dibimbing membangun kebiasaan hidup sehat, dan ditempatkan dalam lingkungan yang aman serta ramah, maka sekolah bukan sekadar tempat memperoleh ilmu pengetahuan. Sekolah akan menjadi rumah kedua yang menumbuhkan karakter, harapan, dan masa depan.
====
Penulis Pengawas/Litbang SMA Negeri 1 Matauli Pandan dan Pegiat Komunitas BERGEMA Guru Sumatera Utara.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com.

