| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

HARI ini Melayu adalah suku dengan kasta tertinggi di Asia Tenggara. Berbeda dengan semua suku asli Asia Tenggara lainnya. Disebabkan suku Melayu dianugerahkan negara tersendiri. Sehingga bisa mengatur wilayahnya berdasarkan hukumnya sendiri.
Tapi taukah kita, dulu pada zaman Inggris sebenarnya Melayu berada pada kelas yang sama dengan semua suku di Asia Tenggara? Jauh tertinggal di kelas tiga. Hanya Sultan dan keluarganya yang berkategori kelas satu, sejajar dengan orang-orang Inggris dan barat lainnya. Orang Cina dan orang Arab berada di kelas dua. Orang Inggris di kelas satu.
Orang Inggris pada zaman dulu menganggap orang-orang Melayu di Malaya adalah orang-orang yang malas. Disebabkan saat orang-orang Inggris pertama kali datang ke Malaya, orang-orang Inggris tidak mendapati adanya kota di Malaya, bahkan negara pun tak ada.
Maksudnya kota-kota dan negaranya orang Melayu. Waktu itu kesultanan Riau tidak membangun Malaya disebabkan pembangunan negaranya yang terpusat. Sehingga di Malaya, masyarakat Melayu hidup hanya dengan pengurusan skala kecil yang diketuai seorang ketua kampung, yang mengatur masyarakatnya dengan hukum adat Melayu.
Wilayah Malaya pada saat didatangi pelaut-pelaut Inggris dulu penuh dengan hutan rimba. Perkampungan masyarakat Melayu semuanya berada di tepi pantai, ada ribuan kampung di barat dan timur Malaya. Kecuali kota Melaka yang diurus Belanda sejak tahun 1641, setelah dibangun ulang Portugis pada tahun 1511.
Di selatan Malaya, di Batam berdiri kota kecil yang selama berabad-abad telah menjadi tempat berjumpanya pedagang-pedagang antar bangsa, khususnya bangsa Abbas dan bangsa Venezia yang berdagang dengan orang-orang Melayu. Puncak karya orang Melayu selama berabad-abad adalah kebudayaannya.
Itulah sebabnya di Malaya tak ada bank selama berabad-abad. Walau orang-orang Melayu di Kota Melaka telah mengenal duit dari Portugis, tapi Portugis dan Belanda tidak pernah mendirikan bank di Melaka. Itu sebab orang Melayu di Malaya pada saat itu, kecuali yang di Melaka, tidak memakai duit.
Sama seperti masyarakat di jajahan Belanda di Pulau Jawa, mendapatkan barang dilakukan dengan cara barter. Sampai dengan sebelum zaman pembangunan Inggris, wilayah Malaya mengalami apa yang disebut sebagai zaman kegelapan. Bank baru didirikan pada tahun 1855 di Singapura, yaitu Mercantile Bank.
Orang-orang Melayu adalah orang-orang yang cenderung tidak mau bekerja berat. Mereka hanya bekerja dibidang-bidang yang mereka sukai dan mereka umumnya gampang puas. Kerja secukupnya.
Kebiasaan ini terbukti sampai sekarang. Semua pekerjaan berat dikerjakan oleh pendatang Indonesia. Itulah sebabnya di Malaya tidak ada satu pun gedung bersejarah yang dibuat pada zaman Melayu kuno. Zaman sebelum kedatangan Portugis, Belanda, dan Inggris. Karena selama berabad-abad, hidup mereka lebih banyak dihabiskan dengan tidur, bercakap, dan bermain. Tak seperti di Jawa yang memiliki Borobudur dan Prambanan.
Selama berabad-abad hidup di Malaya, orang Melayu tidak mempunyai bisnis. Berbeda dengan Melayu di Riau yang mempunyai Al Ahmadi. Itu sebab tak ada kedai-kedai bersejarah yang bisa dijumpai di Malaya. Satu pun tak ada.
Universitas pun baru pertama kali didirikan pada tahun 1905, tepatnya di Singapura. Itu juga sebabnya tak ada satu buku pun yang pernah dibuat orang Melayu di Malaya, baik itu pada zaman Melayu kuno maupun pada zaman inggris. Tak seperti di kesultanan Riau yang begitu banyak menghasilkan buku, bahkan sampai ada perkumpulan cendikiawannya, yang bernama Rushdiyah Club.
Pada zaman ini, secara global suku Melayu berada di kategori ke dua, di belakang orang-orang barat tentunya, yang berada di kategori ke satu. Khususnya orang-orang Amerika di kategori 1 A. Dilihat dari prestasinya.
Meskipun begitu, di tingkat Asia Tenggara, suku Melayu berada di kategori 1. Keadaan ini bisa dialami karena besarnya dampak yang didapat dari hasil mengatur wilayah sendiri dengan kekuasaan penuh, sebagai pemerintah tertinggi. Sehingga ketertinggalan yang berabad-abad itu, bisa dipelajari kelemahannya. Walau tetap tidak membuat orang-orang Melayu sejajar dengan orang-orang Inggris.
BACA JUGA: Ajaran Keadilan dari Orang Inggris
Begitulah suku Melayu pada zaman dulu, tanpa jasa orang-orang Inggris tak akan mengalami perubahan besar dalam peradabannya.
Sudah seharusnya orang-orang Melayu menyadari dan mengingat kenyataan ini, tidak menyangkal apalagi mengingkarinya.
Inggris lah yang sudah bersusah payah membangun peradaban baru yang mencerahkan di Malaya, membangun semua kota di setiap kesultanan yang didirikannya dan mengembangkan perekomian Malaya. Tanpa duit sesen pun pun dari orang Melayu.
====
Penulis alumni Universitas Islam Indonesia, Tinggal di Batam
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

