| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com-Medan. Pelaku usaha di sektor maritim menilai Belawan kini telah menjadi pelabuhan mahal. Hal itu sebagai dampak pendangkalan alur laut yang menghambat kapal berbobot besar masuk dan keluar dari dan ke dermaga untuk melakukan proses bongkar dan muat barang.
Dampak ikutannya adalah membuat daya saing Pelabuhan Belawan melemah karena pelabuhan utama di Indonesia bagian barat itu diijadikan oleh kapal besar sebagai pelabuhan pertama untuk memuat barang dan menjadi pelabuhan terakhir untuk kegiatan bongkar.
Hal tetsebut disampaikan Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Sumatera Utara, Surianto SH kepada wartawan di Medan, Senin (20/1/2025).
Surianto didampingi Wakil Ketua Bidang DPW ALFI Sumut, Ramdan Damir SH MHum menyebutkan, realitas pendangkalan alur sudah kerap dikeluhkan para pengusaha, khususnya para pemilik kapal berbobot besar.
Bahkan, sambung mantan anggota DPRD Medan selama 10 tahun itu, sejumlah pemilk kapal terpaksa melakukan investasi baru membeli kapal kapal bertonase lebih kecil karena kapal besar tidak bebas memasuki dermaga bongkar muat.
"Ini kan menjadi tambahan beban biaya," ungkapnya.
Politisi Partai Gerindra Sumut itu menyebutkan, kegiatan pengerukan alur harus dilakukan secara reguler mengingat proses pendangkalan alur laut yang sangat cepat diakibatkan tingginya proses sedimentasi pasir yang menimbun dasar alur.
Dia mendesak agar alur laut masuk dan keluar dermaga bongkar muat di Pelabuhan Belawan segera dikeruk dan diperdalam agar kapal berbobot besar bebas masuk dan keluar untuk melakukan aktivitasnya.
Dia mengaku merasa khawatir jika alur keluar masuk dermaga bongkar muat di Pelabuhan Belawan tidak segera dinormalisasi maka pelabuhan utama tersebut tidak akan bisa memberikan kontribusi positif dalam mendukung target Presiden Prabowo Subiannto supaya ekonomi nasional tumbuh 8% dalam 5 tahun ke depan.
Surianto yang akrab disapa Butong pun menyarankan untuk meningkatlan ptoduktivitas dan daya saing pelabuhan Belawam, maka alur perlu diperdalam dan diperluas sehingga kapal bertonase dan berbobot lebih besar bisa bebas keluar dan masuk secara bersamaan.
"Jadi pada saat yang bersamaan kapal yang sudah selesai beraktivitas di dermaga keluar, maka kapal lainnya bisa masuk melalui alur yang sama untuk metapat ke dermaga tanpa perlu menunggu hingga kapal melintasi alur ," katanya.
Dibenarkan OP
Fakta tentang pendangkalan alur yang terjadi di Pelabuhan Belawan dibenarkan oleh Otoritas Pelabuhan (OP) Belawan. Kabag Tata Usaha OP Belawan Yovi yang dihubungi membenarkan hal tersebut.
Dari hasil monitoring reguler yang dilakukan pihaknya, memunjukkan bahwa saat ini ke dalam alur masuk dan keluar dermaga bongkar muat barang berkisar 8-8,5 meter.
Fakta tersebut , sambungnya, melalui pesan WhatssApp, sudah berada di bawah regulasi pemerintah dalam hal ini Peraturan Menteri Nomor 22/1990 yang mematok kedalam alur minimal 9,5 meter.
Disebutkannya, dalam regulasi tersebut ditetapkan panjang alur mencapai 160 mil, kedalaman air 9,5 meter dan lebar alur 150 meter.

