| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com-Medan. Kelompok masyarakat lanjut usia (lansia) di Medan dan sekitarnya punya cara untuk menunjukkan eksistensinya. Mereka pun kompak bersuara menolak stigma masyarakat umum yang menganggap kelompok ini tidak produktif.
Salah satunya caranya lewat karya seni. Tidak sekadar karya seni, kelompok ini memanfaatkan serat limbah sebagai bahan bakunya. Hal itulah yang dilakukan para lansia dalam Festival Lansia Merias Serat Limbah (Laras Sembah).
Rangkaian festival ini sudah berlangsung sejak Januari 2025 lalu dan acara puncaknya akan berlangsung di Jambur Ribu, Jalan Kapiten Purba, Simalingkar, Kelurahan Mangga, Medan Tuntungan, 18-19 April 2025.
Inisiator Festival Laras Sembah, Farida Lisa Purba menjelaskan, festival ini melibatkan kurang lebih 70 orang lansia dari Medan, Binjai dan sekitarnya yang dididik untuk menghasilkan karya dari serat limbah.
"Lewat festival ini, kelompok lansia ingin mengatakan bahwa mereka bukanlah limbah masyarakat. Mereka masih mampu berbuat dan menginspirasi banyak orang," kata Inisiator Farida Lisa Purba dalam konferensi pers Festival Laras Sembah yang digelar di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, Jalan Sei Siguti, Medan Petisah, Kamis (20/3/2025)
Dijelaskan, Farida rangkaian kegiatan festival ini antara lain, susur Sungai Babura dan Deli, Jelajah sampah kota, latihan performing arts lansia, workshop seni rupa dan sebagainya.
Festival ini juga ingin menunjukkan kepada masyarakat, bahwa kelompok lansia juga bisa menjadi agen-agen perubahan yang bisa menginspirasi dan menggerakkan banyak orang.
"Festival ini ingin menyuarakan suara kelompok lansia bahwa mereka bukanlah limbah masyarakat. Mereka masih bisa diberdayakan. Lansia adalah agen-agen perubahan yang bisa menggerakkan banyak orang," kata Farida.
Dikatakan Farida, "perlawanan" para lansia itu akan mereka tunjukkan lewat karya seni yang mengolah limbah menjadi barang yang berharga. Selain bernilai ekonomis, dengan berkarya harapannya semangat kelompok lansia tumbuh kembali.
Salah seorang panitia Festival Laras Sembah Agus Susilo menambahkan, filosofis festival ini karena ada kesamaan stigma antara limbah dan lansia.
Agus menambahkan, para lansia itu berasal dari Medan dan Binjai. Selain itu juga bekerja sama dengan Lembaga Pemberdayaan Perempuan Lanjut Usia Sumatra Utara.
Dalam prosesnya, sambung Agus, pihaknya tidak menemui kendala yang berarti. Justru para lansia yang terlibat festiva menunjukkan semangat untuk berkarya
"Dalam proses yang kami dapati, justru para lansia ini begitu bersemangat. Terbukti dari karya yang mereka hasilkan. Ini bukti bahwa mereka bukanlah kelompok yang tidak produktif melainkan juga sebagai agen-agen perubahan," kata Agus.

