| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

PENGALAMAN penulis, setiap kali mendengar kata pajak banyak orang muda langsung teringat pada potongan gaji, kewajiban rumit, dan urusan administratif yang membingungkan.
Padahal, di balik semua itu, pajak adalah napas utama negara, sumber kehidupan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan operasional negara ini. Sayangnya, kesadaran akan pentingnya pajak belum sepenuhnya tumbuh di kalangan generasi muda Indonesia.
Perubahan Paradigma
Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dalam memperluas basis pajak. Rasio pajak masih berada di kisaran 10–11 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), angka yang relatif rendah dibandingkan negara ASEAN lain seperti Thailand atau Vietnam.
Salah satu penyebabnya adalah masih minimnya partisipasi wajib pajak baru dari kelompok usia muda, terutama dari kalangan pekerja lepas, pelaku ekonomi kreatif, dan wirausahawan digital.
Generasi Z dan milenial kini menjadi porsi terbesar angkatan kerja. Mereka aktif di dunia digital, bergerak cepat, dan kreatif menghasilkan nilai ekonomi.
Namun, banyak di antara mereka belum memahami bahwa penghasilan yang diterima sebenarnya termasuk objek pajak. Bagi sebagian besar, pajak masih dianggap urusan orang tua atau perusahaan besar, bukan bagian dari tanggung jawab pribadi.
Perubahan paradigma ini penting. Di era digital, membayar pajak bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi bentuk civic responsibility yaitu kontribusi nyata terhadap pembangunan dan solidaritas sosial.
Transformasi
Saat ini Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terus berupaya untuk membangun kesadaran fiskal sejak dini kepada wajib pajak masa depan contohnya adalah program Pajak Bertutur, Inklusi Kesadaran Pajak, Lomba Tutur Pajak, Tax Goes To Campus, Tax Goes To School dan program edukatif lainnya.
Melalui kegiatan edukasi di sekolah dan kampus, DJP berusaha menanamkan nilai bahwa pajak bukan beban, melainkan bentuk kontribusi terhadap negara. Generasi muda diajak untuk memahami fungsi pajak sebagai alat pemerataan, bukan sekadar sumber penerimaan negara.
Namun edukasi saja tidak cukup. Diperlukan transformasi dalam cara pemerintah berkomunikasi dengan publik muda.
Generasi Z tidak lagi merespons kampanye formal dengan jargon birokratis. Mereka lebih dekat dengan pesan yang ringan, visual, dan autentik contohnya melalui kolaborasi dengan influencer, content creator, dan komunitas kreatif.
Bayangkan jika kesadaran pajak disampaikan bukan lewat brosur, tapi lewat podcast inspiratif tentang bagaimana pajak membiayai riset vaksin atau film dokumenter yang menampilkan dampak nyata pajak di daerah terpencil.
Cara komunikasi yang relevan akan jauh lebih efektif daripada sekadar mengingatkan tenggat SPT setiap Maret. Cara penyampaian melalui gaya informal juga akan semakin menarik para generasi Z.
Transparansi Publik
Tantangan terbesar justru datang dari perubahan cara orang muda bekerja. Di era gig economy, banyak yang berpenghasilan dari freelance, dropshipping, atau menjadi influencer.
Sumber penghasilan ini sulit dilacak dengan sistem pajak konvensional yang berbasis pada slip gaji, bukti potong/pungut dan laporan perusahaan lainnya.
Digitalisasi sistem perpajakan melalui Coretax Administration System menjadi peluang baru. Sistem ini memungkinkan DJP untuk mengintegrasikan data dari berbagai sumber, termasuk platform digital, guna memastikan kepatuhan pajak yang lebih adil dan efisien.
Tapi keadilan juga berarti pemerintah perlu memastikan sistemnya mudah digunakan, transparan, dan tidak membebani.
Generasi muda sangat peka terhadap keadilan. Mereka tidak menolak membayar pajak. Mereka lebih sadar akan pentingnya pajak. Mereka hanya ingin melihat bahwa uang pajak benar-benar digunakan dengan baik.
Oleh karena itu, peningkatan transparansi publik, pelaporan penggunaan dana pajak, dan kampanye tentang “ke mana uang pajakmu pergi” bisa memperkuat rasa memiliki dan kepercayaan.
Akuntabilitas dan transparansi penggunaan pajak perlu disampaikan secara komprehensif. Era teknologi saat ini, media sosial memegang peranan penting dalam mengkampanyekan penggunaan pajak demi pembangunan bangsa.
Membangun Budaya Pajak Sejak Dini
Negara-negara dengan tingkat kepatuhan pajak tinggi seperti Jepang atau Swedia tidak mencapainya dalam semalam.
Mereka menanamkan budaya pajak sejak bangku sekolah, mengajarkan bahwa membayar pajak adalah bagian dari tanggung jawab warga negara. Indonesia perlu menempuh jalur serupa: membangun tax culture sejak dini.
Di sekolah, misalnya, pelajaran kewarganegaraan dapat dikaitkan dengan topik “uang publik dan pajak”. Di kampus, kegiatan kewirausahaan bisa disertai simulasi pelaporan pajak bagi pelaku UMKM digital.
Dengan begitu, generasi muda tumbuh bukan hanya sebagai pencipta ekonomi, tapi juga kontributor yang sadar fiskal.
BACA JUGA: PTKP: Pilar Keadilan dan Kebijakan Sosial dalam Sistem Pajak Penghasilan
Apatis ke Partisipatif
Tantangan terbesar perpajakan Indonesia di masa depan bukan hanya pada peraturan atau tarif, tapi pada trust yaitu kepercayaan antara negara dan warganya.
Generasi muda memegang peran penting dalam membangun kepercayaan itu. Mereka adalah wajib pajak masa depan, pembuat kebijakan masa depan, sekaligus pengawas moral agar pajak digunakan dengan benar.
Kini saatnya mengubah narasi: pajak bukan lagi soal “dipotong dari penghasilan”, tapi tentang “menyumbang untuk kemajuan bersama”.
Jika generasi muda melihat pajak sebagai bentuk partisipasi, bukan paksaan, maka masa depan fiskal Indonesia akan lebih kuat, mandiri, dan berkeadilan.
====
Penulis praktisi dan pemerhati kebijakan perpajakan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com, tidak ada korespondensi.

