| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

INDONESIA merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara, mencapai sekitar 286 juta jiwa. Namun, besarnya populasi tidak otomatis berbanding lurus dengan kualitas sumber daya manusia (SDM). Dua indikator utama—produktivitas dan keterampilan kerja—menunjukkan bahwa tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih relatif rendah. Salah satu penyebab utamanya adalah ketidaksesuaian keterampilan pekerja dengan kebutuhan industri.
Banyak lulusan sekolah maupun perguruan tinggi belum siap kerja, sehingga perusahaan terpaksa melakukan pelatihan ulang sebelum karyawan dapat bekerja secara optimal.
Kemampuan teknis dasar, seperti penggunaan komputer, teknologi digital, dan pengoperasian mesin, masih lemah di berbagai sektor. Kondisi ini diperparah oleh fondasi pendidikan dasar yang belum kuat, sehingga kemampuan membaca, berhitung, dan pemecahan masalah masih rendah.
Data tahun 2024 menunjukkan bahwa rata-rata produktivitas tenaga kerja Indonesia hanya sekitar Rp 89,3 juta per orang per tahun, atau sekitar Rp 7,4 juta per bulan dalam bentuk nilai tambah ekonomi. Angka ini tergolong rendah untuk negara berkembang dan berada sekitar 10 persen di bawah rata-rata produktivitas tenaga kerja ASEAN.
Selain faktor keterampilan, budaya kerja juga menjadi persoalan. Banyak pekerja belum terbiasa bekerja berbasis target dan standar kualitas. Lemahnya penerapan SOP, rendahnya motivasi, serta kurangnya disiplin dan komitmen turut menurunkan produktivitas nasional.
Keterampilan Kerja yang Masih Tertinggal
Kualitas keterampilan tenaga kerja Indonesia juga masih tertinggal. Banyak pekerja belum memenuhi standar keterampilan modern, seperti literasi digital, kemampuan teknologi informasi, dan pemecahan masalah.
Di sektor manufaktur, rendahnya kemampuan operator dalam mengoperasikan mesin otomatis menjadi keluhan utama industri. Hal ini menyebabkan produktivitas sulit mengejar negara, seperti Vietnam dan Malaysia yang tenaga kerjanya lebih adaptif terhadap teknologi.
Di sektor otomotif dan elektronik, lulusan SMK dan perguruan tinggi sering kali harus menjalani pelatihan ulang selama berbulan-bulan karena belum menguasai standar teknis industri.
Sementara di sektor perhotelan dan kuliner, banyak pelamar belum menguasai keterampilan dasar, seperti pelayanan pelanggan, manajemen kebersihan, dan penggunaan sistem kasir digital.
Ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri (skill mismatch), lemahnya penguasaan teknologi, rendahnya soft skills, minimnya pengalaman praktik, serta keterbatasan pelatihan berkelanjutan—terutama di sektor UMKM—menjadi tantangan serius peningkatan kualitas tenaga kerja Indonesia.
Upaya Mengatasi Permasalahan
Situasi ini menegaskan bahwa bonus demografi tidak akan bermakna tanpa kualitas SDM yang memadai. Pemerintah perlu memperkuat ekosistem peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui penyelarasan pendidikan dan pelatihan vokasi dengan kebutuhan industri.
Peningkatan kapasitas balai latihan kerja, penerapan sertifikasi kompetensi sebagai standar wajib, serta pemberian insentif bagi perusahaan yang melakukan upskilling tenaga kerja menjadi langkah mendesak. Program digitalisasi juga perlu diperluas agar pekerja lebih cepat beradaptasi dengan perubahan teknologi.
BACA JUGA: SDM Sumut: Cakap di Atas Kertas, Gagap di Dunia Kerja
Dari sisi pendidikan, sekolah dan perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi institusi pencetak lulusan siap kerja melalui kurikulum berbasis kompetensi, penguatan literasi digital dan bahasa Inggris, serta program magang yang memberikan pengalaman kerja nyata.
Perusahaan sebagai pengguna tenaga kerja memiliki peran strategis dalam membangun pelatihan internal berkelanjutan, rekrutmen berbasis keterampilan, serta budaya kerja yang produktif dan adaptif terhadap teknologi.
Kolaborasi erat antara pemerintah, dunia pendidikan, dan dunia usaha menjadi kunci untuk menciptakan tenaga kerja Indonesia yang kompeten, produktif, dan berdaya saing tinggi di tingkat regional maupun global. Semoga!
====
Penulis Dosen Universitas Prima Indonesia, Medan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

