| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

BANJIR bandang dan longsor telah surut, tetapi jejaknya masih membekas di banyak wilayah Indonesia—termasuk Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Di beberapa daerah, rumah-rumah terendam, sawah rusak, akses jalan terputus, dan aktivitas ekonomi lumpuh.
Warga membersihkan lumpur dengan sisa tenaga dan harapan. Anak-anak kembali ke sekolah dengan seragam yang mungkin belum sepenuhnya kering. Orang tua memikirkan kembali cara memenuhi kebutuhan keluarga.
Seminggu lagi Ramadan akan tiba. Bulan suci itu datang ketika sebagian masyarakat masih sibuk memulihkan diri dari musibah. Ia hadir bukan sekadar sebagai penanda waktu, tetapi sebagai panggilan spiritual: bagaimana menyambut bulan penuh rahmat di tengah luka dan kehilangan?
Alquran mengingatkan: “Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini terasa begitu dekat dengan situasi masyarakat yang terdampak banjir. Ketakutan saat air naik, kekurangan harta akibat kerusakan, bahkan ancaman terhadap keselamatan jiwa—semuanya nyata dirasakan. Namun ayat itu ditutup dengan kabar gembira bagi yang bersabar. Di sinilah letak harapan.
Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika tertimpa kesusahan ia bersabar, maka itu pun baik baginya” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa kualitas iman tidak diukur dari bebasnya seseorang dari musibah, melainkan dari cara ia menyikapinya.
Muhasabah Ekologis dan Spirit Penyucian
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa ujian adalah sarana penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Musibah dapat melunakkan hati yang keras dan mengikis kesombongan manusia.
Banjir yang berulang di sejumlah wilayah Sumatra bukan hanya fenomena alam, tetapi juga peringatan agar manusia kembali merenungkan tanggung jawabnya sebagai khalifah di bumi. Kerusakan hutan, alih fungsi lahan, dan tata kelola lingkungan yang abai sering menjadi faktor yang memperparah dampak bencana.
Dalam perspektif Islam, menjaga lingkungan adalah bagian dari amanah keimanan. Ramadhan yang akan tiba seminggu lagi seharusnya menjadi momentum muhasabah kolektif: apakah gaya hidup kita sudah selaras dengan prinsip keseimbangan alam?
Puasa mengajarkan pengendalian diri. Saat seseorang mampu menahan lapar dan dahaga, sejatinya ia sedang dilatih untuk menahan kerakusan—termasuk kerakusan dalam mengeksploitasi alam. Ramadhan pasca banjir seharusnya tidak hanya menghadirkan kesalehan ritual, tetapi juga kesadaran ekologis.
Al-Ghazali menekankan bahwa sabar adalah kekuatan aktif, bukan sikap pasif. Sabar berarti terus berikhtiar memperbaiki keadaan sambil berserah diri kepada Allah. Warga Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang bergotong royong membersihkan kampungnya telah mempraktikkan sabar dalam makna yang paling nyata.
Solidaritas sebagai Wajah Agama
Musibah selalu menyingkap dua sisi: luka dan solidaritas. Di tengah banjir, kita melihat relawan datang, dapur umum berdiri, bantuan mengalir tanpa memandang latar belakang suku dan agama.
Gus Dur pernah berkata, “Tidak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”.
Pesan itu terasa relevan dalam suasana bencana. Solidaritas adalah bahasa universal kemanusiaan.
Ramadan adalah bulan kepedulian sosial. Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cinta” (QS. Ali Imran: 92)
Ayat ini menjadi panggilan bagi umat untuk berbagi lebih luas, terutama kepada mereka yang terdampak banjir. Banyak keluarga kehilangan mata pencaharian, peralatan usaha, bahkan tempat tinggal.
Menjelang Ramadan, kebutuhan meningkat sementara kemampuan ekonomi menurun. Zakat, infak, dan sedekah harus menjadi gerakan nyata, bukan sekadar slogan.
Masjid dapat menjadi pusat konsolidasi sosial. Selain menghidupkan tarawih dan tadarus, masjid bisa menjadi ruang distribusi bantuan dan penguatan ekonomi warga. Pengajian Ramadhan dapat mengangkat tema kepedulian lingkungan dan kebencanaan agar tragedi serupa tidak terus berulang.
Ramadan sebagai Ruang Pemulihan
Bagi sebagian korban banjir, Ramadan tahun ini mungkin terasa berbeda. Ada yang berpuasa di rumah yang belum sepenuhnya pulih. Ada yang masih dihantui kecemasan setiap kali hujan turun. Trauma tidak hilang dalam semalam. Namun Ramadhan menawarkan ruang penyembuhan batin.
Allah berfirman: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 6)
Janji ini bukan sekadar penghibur, tetapi fondasi optimisme seorang mukmin. Imam Al-Ghazali menyebut bahwa hati yang retak oleh ujian sering kali lebih mudah menerima cahaya Ilahi. Kesedihan dapat menjadi pintu kedekatan dengan Tuhan.
Ramadan menghadirkan malam-malam penuh doa, sahur yang hening untuk merenung, dan kebersamaan yang menumbuhkan rasa aman. Dalam suasana kolektif seperti itu, masyarakat terdampak dapat merasakan bahwa mereka tidak sendirian.
Gus Dur mengingatkan bahwa agama harus membela yang lemah. Maka Ramadan bukan hanya tentang memperbanyak ibadah individual, tetapi juga memperjuangkan kebijakan publik yang lebih adil—termasuk tata kelola lingkungan yang lebih baik di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Spirit keagamaan harus melahirkan keberpihakan pada rakyat kecil dan keberanian memperbaiki sistem.
Seminggu lagi Ramadan akan tiba. Di sebagian rumah, mungkin persiapannya sederhana. Tidak ada hiasan berlebihan, tidak ada perencanaan berbuka yang mewah. Yang ada hanyalah harapan agar hidup kembali normal dan doa agar bencana tidak terulang.
Tentunya dalam kesederhanaan itulah makna Ramadan menjadi lebih dalam. Kita belajar bahwa kemenangan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga menahan putus asa. Bahwa kesucian bukan hanya soal ritual, tetapi juga tentang kepedulian.
BACA JUGA: Aceh dan Kedalaman Tradisi: Pelajaran dari Ragam Penentuan Awal Puasa
Dari Aceh hingga Sumatra Barat, dari kampung yang terendam hingga kota yang sedang berbenah, Ramadhan datang membawa pesan pembaruan. Lumpur bisa dibersihkan, rumah bisa diperbaiki, ekonomi bisa dipulihkan perlahan. Yang tidak boleh tenggelam adalah iman dan solidaritas.
Ketika takbir Idulfitri nanti berkumandang, kita berharap bukan hanya merayakan berakhirnya puasa, tetapi juga bangkitnya harapan. Dari tengah luka banjir, kita belajar satu hal: rahmat Allah selalu lebih luas daripada musibah yang datang. Ramadhan hadir untuk menegaskannya dan berharap alumni Ramadan mampu meraih titel taqwa.
Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq
====
Penulis Ketua PC ISNU Pidie dan Kandidat Doktor Universitas Sebelas Maret
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

