| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com-Medan. Tim peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Sumatra Utara (FT USU) berhasil mengembangkan bahan bakar diesel yang ramah lingkungan. Inovasi yang dilakukan tim dari Program Studi Teknik Mesin itu bertujuan menghilangkan asap hitam dan bau menyengat dari diesel. Temuan itu pun sudah dipublikasikan di jurnal internasional Applied Energy
Riset yang memadukan strategi bahan bakar ganda dan partikel nano dilakukan dua peneliti yakni Prof Dr Ir Tulus Burhanuddin Sitorus ST MT IPM dan Dr Eng Ir Taufiq Bin Nur ST MEng Sc
Prof Tulus mengatakan, dengan pendekatan integratif, mereka memadukan tiga bidang penelitian besar. Di antaranya ialah strategi bahan bakar ganda (dual-fuel), penggunaan nano-additives, dan teknologi pembakaran canggih.
Hasil yang didapatkan bukan hanya peningkatan efisiensi, tetapi juga potensi untuk menekan emisi tanpa harus mengganti seluruh infrastruktur mesin yang ada.
“Ini adalah solusi yang tidak hanya visioner, tapi juga realistis untuk negara berkembang seperti Indonesia. Selama ini, banyak penelitian fokus pada satu bahan bakar alternatif tertentu, seperti biodiesel, hidrogen, atau amonia. Namun, kami justru melihat masa depan energi justru terletak pada kombinasi yang cerdas,” papar Prof Tulus dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/4/2026).
Dikatakan Prof Tulus, penelitian itu menemukan bahwa campuran amonia dan hidrogen mampu meningkatkan efisiensi termal mesin hingga 42 persen dibandingkan solar murni. Campuran ini menghasilkan pembakaran yang lebih stabil dan hampir tanpa emisi karbon dioksida.
Sementara penggunaan biodiesel dengan desain injektor elips dapat menambah efisiensi 15%, dan metanol dalam sistem bahan bakar ganda juga mampu memberi peningkatan hingga 12%.
“Namun, tak bisa dipungkiri juga, setiap bahan bakar punya sisi gelapnya. Biodiesel memang mengurangi emisi karbon monoksida dan partikel debu, tetapi justru meningkatkan nitrogen oksida (NOx) akibat suhu pembakaran yang lebih tinggi,” ujar Dr Taufiq
Alkohol seperti etanol dan methanol, kata Dr Taufiq, memang memiliki efek pendinginan dan pembakaran yang lebih homogen, tapi mudah mengalami penundaan penyalaan.
"Hidrogen hampir sempurna secara emisi, tapi sangat reaktif dan sulit dikendalikan. Nah, di sinilah letak inovasi para peneliti USU. Bukan memilih satu bahan bakar paling ideal, melainkan menyatukan berbagai bahan dan mengatur bagaimana mereka bekerja bersama secara efisien," sebut Dr Taufiq
Rahasia lainnya, sambung Prof Tulus, terletak pada partikel berukuran nano. Tim menemukan nano-additives seperti aluminium oksida (Al2O3) dan cerium oksida (CeO2) digunakan sebagai katalis mikro untuk meningkatkan atomisasi bahan bakar.
"Bayangkan butiran bahan bakar yang lebih halus, terbakar lebih sempurna dan menghasilkan energi lebih besar tanpa meninggalkan sisa gas beracun. Hasilnya, emisi karbon monoksida dan hidrokarbon bisa berkurang lebih dari 20%, sementara efisiensi termal meningkat signifikan," kata Prof Tulus.
Prof Tulus memastikan, yang membuat karya mereka berbeda adalah cara mereka menyatukan temuan-temuan terpisah menjadi satu kerangka konseptual terpadu.
"Kami berharap karya ini membawa pesan kuat bahwa inovasi dari universitas di Indonesia mampu berdiri sejajar di panggung dunia," tandas Prof Tulus.

