| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com - Medan. Harga tanda buah segar (TBS) kelapa sawit di daerah penghasil di Sumatra Utara (Sumut) pekan ini mayoritas mengalami penurunan.
Meski untuk harga tertingginya yang diterima petani di Serdang Bedagai (Sergai) justru naik ke level Rp 3.950 dari sebelumnya Rp 3.340/kg. Sementara harga terendah-nya di Batubara sebesar Rp 2.100/kg dari pekan lalu masih dibanderol Rp 3.100/kg.
Secara rinci, harga TBS di 15 daerah penghasil sawit di Sumut pekan ini, yakni:
1. Langkat Rp 2.455 dari sebelumnya Rp 3.155/kg
2. Deli Serdang Rp 2.350 dari sebelumnya Rp 3.130/kg
3. Serdang Bedagai Rp 3.950 dari sebelumnya Rp 3.280/kg
4. Simalungun Rp 2.225 dari sebelumnya Rp 3.025/kg
5. Batubara Rp 2.100 dari sebelumnya Rp 3.100/kg
6. Asahan Rp 2.140 dari sebelumnya Rp 3.140/kg
7. Labuhanbatu Utara Rp 2.540 dari sebelumnya Rp 3.175/kg
8. Labuhanbatu Rp 2.420 dari sebelumnya Rp 3.180/kg
9. Labuhanbatu Selatan bertahan di Rp 3.120/kg
10. Padanglawas Utara Rp 2.590 dari sebelumnya Rp 3.115/kg
11. Padanglawas Rp 3.130 dari sebelumnya Rp 3.340/kg
12. Tapanuli Selatan bertahan di Rp 3.036/kg
13. Tapanuli Tengah Rp 2.270 dari sebelumnya Rp 3.070/kg
14. Mandailing Natal Rp 3.120 dari sebelumnya Rp 3.320/kg
15. Pakpak Bharat Rp 2.500 dari sebelumnya Rp 3.000/kg
Sementara itu, untuk harga rata-rata TBS di daerah penghasil sawit di Sumut pekan ini berkisar Rp 2.100 hingga Rp 3.950 dari pekan lalu Rp 3.000 hingga Rp 3.340/kg.
"Harga pekan ini cukup berfluktuasi. Terlihat dari beberapa daerah yang pekan ini harganya di bawah Rp 3.000/kg," kata Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumut, Gus Dalhari Harahap, Kamis (4/6/2026).
Gus mengatakan, harga pekan ini paling banyak perubahan setelah sebelumnya masih terbilang stabil meski ada penurunan.
Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan, sepekan terakhir bulan lalu, harga TBS mulai mengalami penurunan yang signifikan setelah pemerintah mengumumkan berdirinya PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Penurunan itu tidak dibarengi dengan koreksi serupa pada harga CPO dunia. Harga TBS anjlok setelah pemerintah mengumumkan ekspor sawit kedepan akan dilakukan lewat satu pintu lewat DSI.
Dari hasil pengamatan langsung terhadap sejumlah petani sawit di Kabupaten Langkat, petani sawit mengungkapkan bahwa harga TBS sempat turun hingga menyentuh Rp 1.800/kg, setelah sebelumnya stabil dikisaran Rp 2.800/kg. Dan saat ini harga sudah mulai berbalik dikisaran Rp 2.200-2.300/kg.
Penurunan harga TBS sebelumnya justru tidak sejalan dengan penurunan harga CPO. Dimana sebelum diumumkan adanya PT DSIz harga CPO diperdagangkan dikisaran RM 4.580/ton, sempat turun ke kisaran RM 4.450, dan saat ini naik tajam dikisaran RM 4.677/ton.
"Seharusnya dengan harga CPO yang sudah pulih, bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan harga sebelum kehadiran PT DSI, secara fundamental harga TBS bisa lebih tinggi dibandingkan dengan harga sebelum PT DSI di perkenalkan ke publik. Disaat ada perubahan kebijakan pada tata niaga sawit, saya menilai pelaku usaha merespon dengan sikap hati-hati," kata Gunawan.
Jika mundur ke bulan Mei dimana PT DSI pertama kali diperkenalkan, harga lelang tender CPO di KPBN (kharisma pemasaran bersama nusantara) juga mengalami penurunan hingga ke level Rp 12.285/kg pada 21 Mei. Setelah sebelumnya harga tender CPO sempat menyentuh level Rp 15.500/kg. Dan baru-baru ini tender harga CPO melalui KPBN menyentuh harga Rp 14.800/kg.
"Artinya masih ada yang belum sepenuhnya berjalan antara pembentukan harga CPO global dengan pembentukan harga CPO di tanah air, hingga transmisi pembentukan harga TBS di level petani. Di level ini pemerintah harus bisa memastikan bahwa tidak ada gangguan teknis pada saat implementasi ekspor kedepan melalui PT DSI. Karena saya menilai tekanan harga TBS saat ini lebih dikarenakan adanya faktor kejutan dalam jangka pendek akibat mekanisme perdagangan baru," kata Gunawan.

