| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

ADA masa ketika seseorang mengunggah foto ke media sosial hanya untuk menyimpan kenangan. Sekarang, tidak sedikit orang yang mengunggah sesuatu karena ingin mengetahui bagaimana orang lain akan meresponnya. Foto yang sebenarnya bagus terasa kurang berarti jika tidak mendapatkan cukup likes. Pendapat yang sebenarnya diyakini mulai diragukan ketika kolom komentar menolaknya. Bahkan keberhasilan pribadi pun kadang baru terasa nyata setelah dibagikan dan mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Di titik inilah media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang untuk berkomunikasi. Ia berubah menjadi ruang tempat banyak orang mencari pengakuan, penerimaan, bahkan identitas diri.
Kita mungkin pernah mengalaminya. Mengunggah sebuah foto, kemudian beberapa menit setelahnya membuka Instagram berkali-kali hanya untuk melihat jumlah likes. Membuat sebuah unggahan, lalu merasa kecewa karena responnya tidak sesuai harapan. Menghapus foto karena dianggap tidak cukup mendapatkan perhatian. Atau merasa iri ketika melihat orang lain mendapatkan ribuan komentar, sementara unggahan kita hanya dilewati begitu saja.
Sekilas, semua itu tampak sepele. Namun, persoalannya menjadi serius ketika angka-angka di media sosial mulai menentukan bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri.
Kecanduan validasi tidak selalu terlihat seperti seseorang yang terus-menerus meminta pujian. Sering kali ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus.
Kita mulai mengukur keberhasilan dengan jumlah views, popularitas dengan jumlah followers, dan harga diri dengan seberapa banyak orang yang memberikan reaksi terhadap kehidupan kita. Ironisnya, semakin banyak validasi yang kita dapatkan, semakin besar pula kebutuhan untuk mendapatkannya kembali.
Inilah yang membuat validasi digital memiliki karakter yang menyerupai pola kecanduan. Seseorang memperoleh rasa senang ketika unggahannya mendapatkan respons positif.
Namun, rasa senang itu tidak bertahan lama. Setelah beberapa waktu, ia membutuhkan lebih banyak likes, lebih banyak komentar, dan lebih banyak perhatian untuk memperoleh perasaan yang sama.
Anna Lembke (2021) menjelaskan bahwa kehidupan modern dipenuhi berbagai rangsangan yang menawarkan imbalan instan. Dalam Dopamine Nation, ia membahas bagaimana teknologi digital, termasuk media sosial, memberikan akses terhadap stimulasi yang hampir tidak terbatas.
Ketika seseorang terus-menerus memperoleh penghargaan kecil melalui notifikasi, likes, dan komentar, muncul dorongan untuk kembali mencari pengalaman yang sama.
Masalahnya bukan karena seseorang merasa senang ketika dipuji. Mendapatkan apresiasi adalah kebutuhan manusia yang wajar. Masalah muncul ketika apresiasi dari orang lain menjadi satu-satunya sumber untuk merasa berharga. Kita mulai kehilangan kemampuan untuk merasa cukup tanpa disaksikan.
Seseorang dapat menyelesaikan sebuah proyek besar, tetapi merasa pencapaiannya tidak berarti karena tidak ada yang mengetahuinya. Seseorang dapat menjalani hari yang menyenangkan, tetapi merasa harus mengabadikannya agar pengalaman tersebut terasa lebih nyata. Bahkan aktivitas yang seharusnya dilakukan untuk diri sendiri perlahan berubah menjadi pertunjukan untuk orang lain. Pada akhirnya, kita tidak lagi hanya menjalani kehidupan. Kita mulai mengelola kehidupan agar terlihat menarik.
Fenomena ini dapat dilihat dalam berbagai bentuk. Ada orang yang mengedit fotonya berulang kali karena takut dianggap kurang menarik. Ada yang terus memantau performa konten hingga mengorbankan waktu tidur.
Ada pula yang merasa cemas ketika jumlah pengikutnya menurun. Dalam dunia kreator, angka-angka tersebut bahkan dapat berkaitan langsung dengan pendapatan, pekerjaan, dan reputasi. Karena itu, tekanan untuk terus mendapatkan perhatian menjadi semakin besar.
Salah satu kasus nyata yang menggambarkan persoalan ini adalah kematian influencer asal India, Misha Agrawal, pada 2024. Menurut laporan media, Misha mengalami tekanan berat terkait penurunan jumlah pengikut dan mengaitkan pencapaian di media sosial dengan harga diri serta masa depan karirnya. Ia diketahui sangat berfokus pada target satu juta pengikut di Instagram.
Kasus ini tentu tidak dapat disederhanakan dengan mengatakan bahwa media sosial menjadi satu-satunya penyebab tragedi tersebut. Masalah kesehatan mental selalu kompleks dan melibatkan banyak faktor. Namun, kasus Misha menunjukkan satu hal penting: bagi sebagian orang, angka di media sosial tidak lagi dipandang sebagai sekadar angka.
Angka itu telah berubah menjadi cermin diri. Ketika followers bertambah, seseorang merasa dirinya sedang naik. Ketika engagement menurun, ia merasa dirinya sedang jatuh. Ketika unggahan tidak mendapatkan respons, muncul pertanyaan: “Apakah aku sudah tidak menarik lagi?” Di sinilah bahayanya. Kita mulai memberikan kekuasaan yang terlalu besar kepada orang-orang yang bahkan mungkin tidak mengenal kita secara pribadi.
Ironisnya, sebagian besar orang yang memberikan likes kepada kita mungkin hanya melihat unggahan kita selama beberapa detik. Mereka tidak mengetahui perjuangan yang kita lalui, kegagalan yang kita sembunyikan, ketakutan yang kita rasakan, atau proses panjang yang membawa kita sampai pada titik tertentu. Namun, kita membiarkan respons singkat mereka menentukan bagaimana kita melihat diri sendiri.
Media sosial juga membuat proses membandingkan diri menjadi jauh lebih mudah. Dulu, seseorang mungkin membandingkan dirinya dengan teman-teman di lingkungan sekitar. Sekarang, ia dapat membandingkan kehidupannya dengan ribuan bahkan jutaan orang dalam satu hari.
Jonathan Haidt (2024) menjelaskan bahwa kehidupan anak-anak dan remaja mengalami perubahan besar ketika pengalaman langsung semakin digantikan oleh kehidupan yang berpusat pada ponsel dan media sosial.
Menurut Haidt, perubahan tersebut memperluas ruang bagi perbandingan sosial dan membuat generasi muda semakin terpapar pada tekanan untuk menyesuaikan diri dengan standar sosial yang terus berubah.
Persoalannya, kita sering membandingkan kehidupan nyata kita dengan versi terbaik kehidupan orang lain. Kita membandingkan tubuh kita dengan foto yang telah diedit.
Membandingkan karier kita dengan pencapaian seseorang yang hanya kita lihat melalui unggahan. Membandingkan hubungan kita dengan pasangan yang selalu terlihat bahagia di media sosial. Membandingkan proses panjang kita dengan hasil akhir orang lain.
Padahal, media sosial pada dasarnya adalah ruang kurasi. Orang tidak selalu mengunggah kegagalan ketika sedang gagal. Tidak semua orang mengunggah kesepian ketika sedang merasa sendirian. Tidak semua orang menunjukkan kebingungan ketika hidupnya sedang tidak memiliki arah.
Yang kita lihat seringkali bukan kehidupan seseorang secara utuh, melainkan bagian yang mereka pilih untuk ditampilkan. Namun, manusia memiliki kecenderungan untuk menganggap apa yang terlihat sebagai keseluruhan realitas. Akibatnya, kehidupan orang lain terlihat sempurna, sementara kehidupan sendiri terasa penuh kekurangan.
Di sinilah kecanduan validasi dan budaya perbandingan saling memperkuat. Kita membutuhkan pengakuan karena merasa tidak cukup. Kemudian, kita melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih baik. Kita merasa semakin kurang. Karena itu, kita berusaha menampilkan versi diri yang lebih sempurna agar mendapatkan validasi. Setelah mendapatkan validasi, rasa cukup itu hanya bertahan sementara. Siklus tersebut kemudian berulang.
Kita bukan hanya mengonsumsi media sosial. Dalam banyak hal, kita juga sedang mengonsumsi penilaian orang lain terhadap diri kita. Kyle Chayka (2024) menjelaskan bahwa algoritma digital semakin berperan dalam menentukan apa yang kita lihat, sukai, dan konsumsi di ruang digital.
Dalam kondisi seperti ini, pengalaman online kita tidak sepenuhnya terbentuk secara spontan, melainkan dipengaruhi oleh sistem yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna.
Semakin lama kita berada di platform, semakin banyak data yang dihasilkan. Semakin banyak kita berinteraksi, semakin mudah perilaku kita dipetakan. Dalam ekosistem seperti ini, perhatian manusia memiliki nilai ekonomi.
Maka, tidak mengherankan jika platform digital dirancang untuk membuat kita terus kembali. Kita membuka aplikasi bukan karena benar-benar memiliki sesuatu yang ingin dicari. Kita membuka aplikasi karena ingin melihat apakah ada sesuatu yang baru. Apakah ada notifikasi? Apakah ada yang menyukai unggahan kita? Apakah ada yang membalas komentar? Apakah ada orang yang mengirim pesan?
Kita sering tidak sadar bahwa kita sedang menunggu sesuatu yang bahkan tidak kita ketahui bentuknya. Namun, penting untuk tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya kambing hitam.
Media sosial juga memberikan manfaat besar. Ia memungkinkan seseorang membangun komunitas, mengembangkan bisnis, menemukan peluang kerja, menyebarkan pengetahuan, dan terhubung dengan orang lain.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah kita menggunakan media sosial atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita masih memiliki kendali atas alasan kita menggunakannya?
Penelitian Cheng et al. (2021) menunjukkan bahwa kecanduan media sosial merupakan fenomena yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Sementara itu, penelitian Hendrikse dan Limniou (2024) menunjukkan bahwa penggunaan platform seperti Instagram dan TikTok memiliki hubungan yang kompleks dengan problematic use dan kesejahteraan pengguna.
Artinya, media sosial tidak otomatis selalu merusak, tetapi cara seseorang menggunakan dan merespons media sosial dapat menentukan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Apakah kita mengunggah sesuatu karena memang ingin berbagi, atau karena membutuhkan bukti bahwa kita berharga? Apakah kita menikmati sebuah pengalaman, atau justru sibuk memikirkan bagaimana pengalaman tersebut akan terlihat di layar orang lain? Apakah kita ingin menjadi diri sendiri, atau sedang membangun versi diri yang paling mudah disukai?
Kita perlu mulai memisahkan antara nilai diri dan nilai sosial di internet. Jumlah followers dapat berubah. Jumlah likes dapat turun. Algoritma dapat berubah. Tren dapat berakhir. Orang-orang yang hari ini memuji kita mungkin besok tidak lagi mengingat nama kita. Jika harga diri kita dibangun di atas sesuatu yang terus berubah, maka kita akan hidup dalam ketidakstabilan yang tidak pernah berakhir.
Hari ini kita merasa cukup karena mendapatkan seribu likes. Besok, seribu likes terasa kurang. Minggu depan, kita membutuhkan sepuluh ribu. Setelah itu, mungkin kita membutuhkan satu juta followers. Tidak ada angka yang mampu memberikan rasa cukup kepada seseorang yang belum belajar merasa cukup dari dalam dirinya sendiri.
Mungkin kita tidak perlu meninggalkan media sosial sepenuhnya. Yang perlu kita tinggalkan adalah keyakinan bahwa semua hal dalam hidup harus mendapatkan penonton.
Tidak semua kebahagiaan harus diunggah. Tidak semua pencapaian harus diumumkan. Tidak semua proses harus dijelaskan. Tidak semua kehidupan harus dibuktikan kepada orang lain. Ada hal-hal yang tetap berharga meskipun tidak mendapatkan satupun likes.
Buku yang kita baca sendirian tetap berharga. Perjalanan yang tidak sempat kita dokumentasikan tetap berarti. Kebaikan yang tidak diketahui siapa pun tetap merupakan kebaikan. Proses bertumbuh yang tidak mendapatkan komentar tetap merupakan proses bertumbuh.
BACA JUGA: Mengapa Orang Sulit Mengakui Kesalahan?
Kita perlu mengingat kembali bahwa sebelum menjadi konten, hidup adalah pengalaman. Sebelum menjadi angka, kita adalah manusia. Dan sebelum mendapatkan validasi dari siapa pun, kita sudah memiliki nilai sebagai diri kita sendiri.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah “Berapa banyak orang yang menyukai saya?” Melainkan: “Apakah saya masih menyukai diri saya sendiri ketika tidak ada seorang pun yang memberikan tanda suka?” Sebab jika jawabannya selalu bergantung pada orang lain, maka kita sebenarnya tidak sedang menggunakan media sosial. Kita sedang menyerahkan kendali atas diri kita kepada sebuah layar.
====
Penulis Business and Self Development Specialist
===
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

