| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

MENGAPA seseorang tetap membuang sampah sembarangan meskipun ia tahu dampaknya terhadap lingkungan? Mengapa ada pejabat yang tetap membela tindakannya meskipun bukti pelanggaran sudah terbuka di hadapan publik? Mengapa seseorang yang merokok bertahun-tahun tetap mengatakan bahwa "kakek saya juga merokok sampai umur 90 tahun"? Bahkan, mengapa di media sosial kita sering melihat orang yang tetap bersikeras bahwa dirinya benar meskipun fakta menunjukkan sebaliknya?
Fenomena tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya pengetahuan. Justru dalam banyak kasus, pelakunya mengetahui bahwa tindakannya keliru.
Persoalannya terletak pada kenyataan bahwa manusia sering kali lebih mudah mempertahankan citra dirinya daripada mengakui kesalahan. Di sinilah Cognitive Dissonance Theory yang diperkenalkan Leon Festinger menjadi sangat relevan untuk menjelaskan perilaku manusia.
Festinger menjelaskan bahwa ketika seseorang memiliki dua keyakinan, nilai, atau perilaku yang saling bertentangan, akan muncul kondisi psikologis yang tidak nyaman yang disebut cognitive dissonance.
Ketidaknyamanan tersebut mendorong individu untuk mengurangi konflik psikologis, bukan selalu dengan mengubah perilaku, tetapi sering kali dengan mengubah cara berpikir atau mencari pembenaran atas perilakunya.
Harmon-Jones (2012) menjelaskan bahwa disonansi merupakan keadaan yang memotivasi individu melakukan "psychological work" agar ketidaksesuaian antara keyakinan dan tindakan terasa lebih dapat diterima.
Artinya, ketika seseorang menyadari bahwa dirinya melakukan kesalahan, respons pertama otaknya bukan selalu meminta maaf atau memperbaiki diri. Sebaliknya, otak berusaha melindungi harga diri melalui berbagai bentuk rasionalisasi. Hal ini menjelaskan mengapa manusia seringkali tampak "keras kepala", padahal sebenarnya ia sedang berusaha mengurangi rasa tidak nyaman dalam dirinya.
Fenomena denial atau penyangkalan menjadi salah satu bentuk nyata dari mekanisme tersebut. Denial bukan berarti seseorang benar-benar tidak mengetahui fakta. Sebaliknya, ia mengetahui fakta itu, tetapi memilih menolaknya karena menerima fakta tersebut akan merusak identitas, keyakinan, atau citra dirinya.
Harmon-Jones (2010) menjelaskan bahwa emosi negatif akibat disonansi justru menjadi pendorong utama seseorang mempertahankan keyakinannya meskipun bertentangan dengan bukti yang ada.
Dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, contoh seperti ini sangat mudah ditemukan. Salah satunya adalah perilaku pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm ketika berkendara jarak dekat. Hampir semua orang mengetahui bahwa helm berfungsi melindungi kepala dan diwajibkan oleh undang-undang. Namun, ketika ditegur, respons yang muncul sering kali bukan, "Benar, saya salah".
Sebaliknya, muncul berbagai pembenaran seperti, "Rumah saya dekat," "Jalannya sepi," atau "Saya cuma sebentar." Alasan-alasan tersebut bukan penyebab utama seseorang tidak memakai helm, melainkan cara untuk meredakan ketidaknyamanan karena menyadari bahwa tindakannya bertentangan dengan pengetahuannya sendiri.
Contoh lain dapat dilihat pada kebiasaan membuang sampah sembarangan. Hampir seluruh masyarakat Indonesia memahami bahwa tindakan tersebut menyebabkan banjir, pencemaran, dan kerusakan lingkungan. Namun, ketika tertangkap kamera atau ditegur warga, pelaku seringkali memberikan pembelaan seperti, "Cuma satu bungkus kecil," atau "Semua orang juga begitu".
Kalimat tersebut merupakan bentuk rasionalisasi agar individu tidak perlu mengakui bahwa dirinya telah melakukan kesalahan.
Fenomena serupa juga tampak pada penyebaran hoaks di media sosial. Tidak sedikit orang yang tetap membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi. Ketika informasi tersebut terbukti salah, sebagian memilih menghapus unggahan tanpa memberikan klarifikasi. Sebagian lainnya justru mencari sumber lain yang mendukung keyakinannya meskipun sumber tersebut kurang kredibel. Mereka lebih memilih mempertahankan keyakinan awal daripada mengakui bahwa dirinya telah menyebarkan informasi yang keliru.
Dalam psikologi sosial, perilaku ini sering berkaitan dengan confirmation bias, yang kemudian diperkuat oleh mekanisme disonansi kognitif.
Dalam konteks politik Indonesia, gejala ini juga sering muncul. Pendukung seorang tokoh politik dapat mengetahui bahwa tokoh yang didukungnya melakukan pelanggaran etika atau bahkan tersangkut kasus hukum. Namun, alih-alih mengevaluasi dukungannya, mereka justru mencari alasan pembenaran seperti "semua politisi juga begitu", "itu hanya rekayasa lawan politik", atau "jasanya lebih besar daripada kesalahannya".
Sebaliknya, kesalahan kecil dari kelompok lawan justru diperbesar. Penilaian yang tidak konsisten ini muncul karena menerima kenyataan bahwa tokoh yang didukung melakukan kesalahan akan menimbulkan disonansi terhadap identitas politik yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Fenomena serupa juga dapat ditemukan dalam dunia pendidikan. Tidak sedikit mahasiswa yang mengetahui bahwa menyalin tugas teman merupakan bentuk plagiarisme. Namun, ketika dosen menemukan praktik tersebut, alasan yang muncul sering kali adalah "waktunya mepet", "semua teman juga melakukan", atau "yang penting memahami materinya". Sekali lagi, pembenaran tersebut berfungsi mengurangi rasa bersalah tanpa harus mengubah perilaku.
Ironisnya, semakin besar investasi emosional seseorang terhadap suatu keyakinan, semakin sulit pula ia mengakui kesalahannya. Seseorang yang telah bertahun-tahun membangun citra sebagai orang yang selalu benar akan mengalami disonansi yang jauh lebih besar ketika harus mengatakan, "Saya salah." Oleh karena itu, dalam banyak situasi, mempertahankan kesalahan terasa lebih mudah dibandingkan mengakui kekeliruan.
Penelitian-penelitian modern bahkan menunjukkan bahwa disonansi bukan sekadar fenomena psikologis biasa. Model Action-Based Theory yang dikembangkan Harmon-Jones menjelaskan bahwa mekanisme ini memiliki fungsi adaptif. Setelah seseorang mengambil keputusan, otaknya cenderung memperkuat keyakinan terhadap keputusan tersebut agar ia dapat bertindak secara konsisten tanpa terus-menerus dilumpuhkan oleh keraguan.
Mekanisme ini sebenarnya membantu manusia mengambil tindakan secara efektif. Namun, dalam situasi tertentu, mekanisme yang sama juga membuat seseorang sulit menerima kritik maupun bukti yang bertentangan dengan keyakinannya.
Media sosial memperparah kondisi tersebut. Algoritma platform digital cenderung menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna. Akibatnya, seseorang semakin jarang menemukan informasi yang bertentangan dengan keyakinannya.
Ketika akhirnya berhadapan dengan fakta yang berbeda, disonansi yang muncul menjadi semakin besar sehingga respons yang paling mudah adalah menyerang sumber informasi, mempertanyakan kredibilitas peneliti, atau menuduh adanya agenda tertentu.
Fenomena ini menjelaskan mengapa perdebatan di media sosial sering kali tidak menghasilkan perubahan pendapat meskipun bukti yang disampaikan sangat kuat.
Pada akhirnya, persoalan terbesar bukanlah bahwa manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan merupakan bagian alami dari proses belajar. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang lebih memilih mempertahankan ego daripada menerima kenyataan.
Dalam jangka panjang, denial membuat individu kehilangan kesempatan untuk berkembang karena setiap kritik dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai peluang untuk memperbaiki diri.
Mengakui kesalahan memang tidak nyaman. Namun, ketidaknyamanan itu justru merupakan tanda bahwa proses belajar sedang berlangsung. Festinger mengajarkan bahwa manusia akan selalu berusaha mengurangi disonansi.
Pertanyaannya adalah, apakah kita menguranginya dengan cara mengubah keyakinan agar sesuai dengan perilaku yang salah, atau justru mengubah perilaku agar sesuai dengan nilai yang benar?
BACA JUGA: Budaya Hustle dan Burnout: Remaja Dipaksa Produktif Tanpa Henti
Di tengah derasnya arus informasi, polarisasi politik, budaya media sosial, dan meningkatnya kecenderungan mempertahankan opini pribadi, teori disonansi kognitif menjadi semakin relevan untuk dipahami.
Ia mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia sering kali bukan kebodohan, melainkan ketidakmauan mengakui bahwa dirinya bisa saja salah.
Kemampuan berkata "saya keliru" bukan tanda kelemahan, melainkan salah satu indikator kedewasaan intelektual. Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang tidak pernah salah, melainkan masyarakat yang memiliki keberanian mengoreksi diri ketika fakta menunjukkan bahwa keyakinannya perlu diperbaiki.
====
Penulis Business and Self Development Specialist
===
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

