| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

(Refleksi Hari Sumpah Pemuda)
PERINGATAN Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap 28 Oktober merupakan momen penting bagi bangsa Indonesia untuk mengingat kembali semangat persatuan yang menjadi pondasi berdirinya Indonesia. Sumpah Pemuda adalah tonggak sejarah yang mencerminkan tekad pemuda Indonesia untuk bersatu, tanpa memandang perbedaan suku, agama, atau bahasa, demi mewujudkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
Semangat persatuan ini menjadi lebih penting di tengah maraknya radikalisme dan ajakan pada ideologi khilafah yang mengancam keutuhan bangsa.
Sebagai bangsa yang besar dengan keberagaman luar biasa, Indonesia membutuhkan pemuda yang kuat dan berkomitmen pada prinsip-prinsip persatuan dan Pancasila.
Ancaman radikalisme dan ideologi khilafah dapat merusak tatanan sosial dan membawa perpecahan di masyarakat. Oleh karena itu, dengan slogan HSP tahun 2024 "Maju Bersama Indonesia Raya,".
Tentunya dengan satu tekad, satu semangat, kita perlu membentengi generasi muda dari pengaruh-pengaruh negatif ini, memastikan mereka tetap teguh pada nilai-nilai kebangsaan, dan terus menjunjung tinggi semangat persatuan.
Melawan Radikalisme
Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tahun 1928 menyatakan tiga komitmen utama pemuda Indonesia: "Bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu".
Tiga ikrar ini merupakan landasan kuat bagi terciptanya persatuan dalam keberagaman. Sumpah Pemuda telah menyatukan pemuda Indonesia untuk meletakkan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan atau kelompok.
Kini, lebih dari 90 tahun setelah ikrar itu diucapkan, semangat Sumpah Pemuda tetap relevan dan menjadi jawaban bagi berbagai tantangan yang mengancam persatuan bangsa, termasuk radikalisme.
Radikalisme adalah sikap atau pandangan ekstrem yang sering kali mengarah pada ketidakadilan, intoleransi, dan kekerasan. Dalam konteks agama, radikalisme biasanya berasal dari interpretasi sempit terhadap ajaran agama, sehingga membuat seseorang menjadi fanatik dan menolak pandangan yang berbeda.
Radikalisme dapat menciptakan friksi di tengah masyarakat yang majemuk dan, jika tidak segera ditangani, berpotensi merusak persatuan bangsa.
Semangat Sumpah Pemuda menjadi dasar yang kuat dalam melawan paham radikal karena mengajarkan kita untuk menghormati keberagaman, menjaga toleransi, dan menciptakan kerukunan.
Dalam masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan agama, penting bagi generasi muda untuk memahami dan menghormati perbedaan. Dengan demikian, mereka tidak akan mudah terpengaruh oleh ajakan radikalisme yang sering kali mengesampingkan toleransi dan menghancurkan harmoni sosial.
Perspektif Islam
Islam sangat menekankan pentingnya persatuan dan menjaga kedamaian sangat ditekankan. Firman Allah dalam Surah Al-Imran ayat 103 berbunyi: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." Ayat ini mengingatkan umat Islam untuk tetap bersatu dan tidak berpecah belah.
Persatuan adalah bentuk perintah Allah yang sangat sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda yang ingin menjaga kesatuan bangsa. Perintah ini juga menyiratkan bahwa perpecahan dan perselisihan yang merusak kedamaian adalah hal yang sangat dilarang dalam Islam.
Radikalisme jelas bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Ajaran Islam menekankan konsep ‘’rahmatan lil 'alamin’’ (rahmat bagi seluruh alam), yang artinya Islam harus membawa perdamaian dan kedamaian bagi semua makhluk. Islam tidak mengajarkan kekerasan atau paksaan dalam menyebarkan keyakinan.
Nabi Muhammad SAW bahkan memperingatkan bahwa barang siapa yang menganiaya dan menebar kebencian di tengah masyarakat, maka ia telah keluar dari ajaran Islam yang sesungguhnya.
Terkait mengenai khilafah, penting untuk diingat bahwa sistem pemerintahan tersebut bukanlah satu-satunya yang wajib dalam Islam. Sejumlah ulama terkemuka dan cendekiawan Muslim sepakat bahwa Islam tidak memaksakan satu bentuk pemerintahan tertentu, melainkan mengutamakan prinsip-prinsip keadilan, kemaslahatan, dan kesejahteraan.
Dengan dasar ini, Pancasila sebagai ideologi yang mengedepankan persatuan dan keadilan sudah sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, bahkan lebih cocok diterapkan di Indonesia yang beragam. Pemahaman yang moderat dan bijak ini sangat penting untuk melawan propaganda radikal yang sering kali menyalahgunakan istilah khilafah untuk kepentingan politik tertentu.
Ideologi Khilafah
Menjaga pemuda dari pengaruh radikalisme dan ideologi khilafah memerlukan upaya yang serius dari semua pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, hingga keluarga. Berikut adalah beberapa langkah konkret yang bisa diambil:
Pertama, Pendidikan Karakter Berbasis Pancasila. Pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai Pancasila sejak dini sangat penting untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan semangat kebangsaan.
Dengan pemahaman yang kuat terhadap Pancasila, pemuda akan lebih memahami pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan.
Kedua, penguatan pemahaman agama yang moderat. Pemerintah, ulama, dan lembaga keagamaan harus bekerja sama untuk memberikan pemahaman agama yang moderat dan tidak menyimpang.
Dengan pengajaran agama yang benar, pemuda akan memiliki pandangan yang seimbang dan tidak mudah terpengaruh oleh ajakan radikal. Ketiga, literasi digital dan kesadaran media sosial.
Media sosial adalah salah satu saluran utama yang digunakan oleh kelompok radikal untuk menyebarkan pengaruhnya. Oleh karena itu, penting bagi pemuda untuk memiliki literasi digital yang baik, agar mereka dapat memfilter informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda radikal yang sering tersebar di media sosial.
Keempat, mendukung kegiatan positif bagi pemuda. Kegiatan positif seperti seni, olahraga, dan aktivitas sosial dapat menjadi media untuk mempererat persatuan.
Pemuda yang terlibat dalam kegiatan seperti ini cenderung memiliki rasa solidaritas yang tinggi dan tidak mudah terjerumus dalam radikalisme.
Kelima, peran keluarga dalam membentuk karakter pemuda. Keluarga adalah lingkungan pertama yang membentuk karakter anak. Dalam keluarga, nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan ajaran agama yang benar perlu ditanamkan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang kokoh, cinta tanah air, dan mampu menghargai keberagaman.
Beranjak dari kupasan di atas, di tengah ancaman radikalisme dan ideologi khilafah, Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas semangat persatuan.
Semangat "Satu Tekad, Satu Semangat, Maju Bersama Indonesia Raya" adalah wujud dari komitmen kita untuk menjaga kesatuan bangsa di atas segala perbedaan.
Dengan semangat Sumpah Pemuda, kita dapat menjaga generasi muda dari pengaruh negatif, membentengi mereka dengan pemahaman kebangsaan dan nilai-nilai Pancasila. Indonesia yang berdaulat dan beragam membutuhkan pemuda yang berpikir kritis, toleran, dan cinta tanah air.
Mari kita wujudkan Indonesia yang damai, kuat, dan bersatu dengan membentengi pemuda dari ancaman radikalisme dan ideologi khilafah. Tentunya dengan satu tekad, satu semangat kita ‘’Maju Bersama Indonesia Raya".
Kita dapat menjaga keutuhan bangsa dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan untuk Indonesia yang lebih baik dan lebih sejahtera.
Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq
====
Kandidat Doktor UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Kakankemenag Pidie
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, merupakan pendapat pribadi/tunggal) penulis, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto penulis (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

