| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

(Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2024)
MEMPERINGATI Hari Ulang Tahun ke-79 PGRI dan Hari Guru Nasional Tahun 2024 (25 November 2024) mengajak guru penggerak untuk terus berperan sesuai dengan nilai guru penggerak. Sepenggal lirik lagu yang takkan pernah terlupakan oleh waktu: “gurulah pelita penerang dalam gulita, jasamu tiada tara”.
Ini mengingatkan kita jika profesi guru sangat mulia, berupaya membimbing, mendidik dan mengajar anak bangsa. Jasa guru sangat besar, tiada tara, menjadi penerang didalam gelap gulita.
Selain itu, lirik lagu tersebut menegaskan bahwa sangat pentingnya kedudukan serta peran strategis guru dan tenaga kependidikan dalam membangun karakter bangsa.
Teringat pada beberapa tahun belakangan ini dimana guru saling bergandengan tangan melakukan gerakan merdeka belajar. Ini dilakukan dengan tujuan memerdekakan guru dan siswa. Hal ini sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara Pendidikan yang berpihak pada murid.
Pendidikan yang berpihak pada murid, tentunya dalam hal ini guru perlu memiliki keleluasaan memilih berbagai variasi membuat perangkat ajar. Sehingga, pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik.
Untuk menambah kemampuan guru, berbagai terobosan juga dilakukan oleh guru, salah satunya mengikuti program pendidikan guru penggerak yang merupakan program unggulan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Program ini bermuara pada peningkatkan kualitas sistem pendidikan di Indonesia dengan menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid dan menggerakkan ekosistem pendidikan yang lebih baik.
Guru Pengerak
Seiring dengan berjalannya waktu, guru penggerak telah memasuki babak baru, bahkan sudah berjalan sampai beberapa angkatan. Guru Penggerak harus lulus seleksi dan mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak.
Melalui program ini diharapkan dapat menciptakan guru yang mengembakan dirinya sendiri dan guru lain, melakukan refleksi, saling berbagi, saling berkolaborasi.
Guru penggerak juga dalam menjalankan tugas sebagai guru mampu merencanakan menjalankan, merefleksikan dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada murid dengan berkolaborasi melibatkan orang tua murid, menumbuhkan kepemimpinan murid, mengoptimalkan komunitas belajar untuk mengembangkan sekolah.
Selain itu, guru yang mengikuti program guru penggerak dapat memiliki kematangan moral, emosi dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik guru, mampu mengembangkan dan memimpin upaya mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Pendidikan Guru Penggerak merupakan program pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Kerangka desain program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan selama 6 bulan (calon guru penggerak).
Dari pendidikan ini guru diharapkan untuk memimpin dan mengelola perubahan. Sebagai pemimpin perubahan, guru diharapkan paham akan perubahan, yang berarti guru paham bahwa adanya perubahan pasti akan datang juga gangguan atau tantangan dari berbagai sisi, akan ada perbedaan pendapat yang harus dipahami dan perlu didamaikan.
Guru perlu membangun keselarasan secara efektif untuk menuntun yang lain melampaui perbedaan dan menerima perbedaan yang muncul ke permukaan.
Dengan demikian, guru juga akan memiliki mental “berpikir berbasis aset” yang mengapresiasi dan memanfaatkan kekuatan atau sumberdaya yang telah dimiliki, bukan lagi berkutat pada apa yang tidak dimiliki.
BACA JUGA: Guru yang Semakin Lelah dan Murid yang Semakin Bertingkah
Peran Guru Penggerak
Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2024 ini mengambil tema “Guru Hebat Indonesia Kuat”. Dari tema ini menandakan bahwa peran guru sangat penting. Jika dihubungkan dengan peran guru penggerak maka ada beberapa peran guru penggerak.
Pertama, menjadi pemimpin pembelajaran, yang mengisyaratkan bahwa guru menjalankan filosofi among dari Ki Hadjar Dewantara, yaitu Ing Ngarso Sung Tulada (menjadi teladan, memimpin), Ing Madya Mangun Karsa (memberdayakan, menyemangati, membuat orang lain memiliki kekuatan, kemampuan, tenaga, akal dan cara demi memperbaiki kualitas diri mereka), serta Tut Wuri Handayani (mempengaruhi, memelihara, dan memprovokasi kebajikan serta kualitas positif lain agar orang lain bertumbuh dan maju).
Kedua, menjadi coach bagi guru lain. Artinya guru mendampingi guru lain terutama yang terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran bagi murid di sekolah, guru dituntut untuk menemani dan menuntun rekan sejawat agar menelaah proses belajar mereka sendiri.
Hal ini sekaligus mengisyaratkan bahwa selain belajar keterampilan coaching, guru juga harus memberdayakan dirinya melalui refleksi atas hasil pengalaman praktik profesionalnya sendiri.
Ketiga, mendorong kolaborasi. Artinya melakukan kerja bersama untuk mencapai suatu tujuan atau menghasilkan sesuatu. Ini tersirat makna jika setiap pihak yang terlibat memiliki kekuatan yang saat dipersatukan menjadi saling melengkapi dan produktif.
Guru harus punya cara pengungkapan potensi positif rekan yang lain, membuka lebih banyak ruang dialog positif antar guru dan pemangku kepentingan di dalam sekolah maupun di luar sekolah demi meningkatkan kualitas pembelajaran yang berpusat pada murid.
Keempat, mewujudkan kepemimpinan murid (student agency). Disini guru perlu memahami bagaimana cara menciptakan pengalaman belajar murid yang dialami secara kontekstual dalam kehidupannya sehingga murid merasa kompeten, mandiri, dicintai, dan memiliki kepercayaan diri untuk mencapai hal yang mereka inginkan.
Guru perlu memampukan diri untuk menuntun murid di sekolah agar sadar bahwa sebagai murid disaat ini akan merupakan cerminan dari wajah Indonesia di masa depan.
Kelima, menggerakkan Komunitas Praktisi, disini guru diharapkan dapat mengambil peran untuk menggerakkan komunitas di sekolah dan di lingkungan pendidikan lainnya.
Guru perlu menumbuhkan budaya kolaboratif bersama para rekan guru di sekolah maupun di lingkungan pendidikan. Komunitas belajar inilah yang menjadi wahana perjumpaan para guru dalam mengembangkan kemampuannya saling berbagi.
Komunitas belajar ini memungkinkan terjadinya dialog, percakapan yang berkualitas, perencanaan strategis, diskusi teknis secara kolaboratif, terkait dengan upaya peningkatan kualitas pembelajaran yang berpusat pada murid sekaligus membuahkan inovasi dalam bidang pembelajaran termasuk cara pandang baru dalam dunia pendidikan yang berdampak positif bagi murid.
Dari peran di atas, perlu menerapkan motto guru penggerak, yakni Tergerak, Bergerak dan Menggerakkan. "Tergerak untuk melakukan perubahan.
Bergerak tidak boleh pasif, harus selalu melakukan perubahan. Menggerakkan pendidikan di lingkungan pendidikan dimana guru berada. Selain itu, hal ini berhubungan dengan tema utama Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2024, yakni mengambil tema “Guru Hebat Indonesia Kuat”, maka untuk menciptakan guru hebat perlu adanya peningatan kualitas guru.
Sangatlah tidak berkesalahan bila menciptakan guru hebat salah satunya dapat melalui program pendidikan guru penggerak. Guru Penggerak diharapkan dapat memainkan perannya untuk memimpin perubahan dalam ekosistem pendidikan.
Selain itu kepemimpinan seorang guru tentu akan lebih maksimal lagi jika memiliki keterampilan ataupun kompetensi yang harus sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
Sebagai guru pasti menyadari betul bahwa pendidikan seharusnya berpihak pada murid dengan memberikan keleluasaan kepada murid untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Murid merupakan aktor utama dalam pembelajaran, maka perlu memberikan pelayanan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan murid. Harapan kita bersama dapat menjadi guru yang berkualitas, mengantarkan murid menuju harapan yang diinginkan.
Selamat memperingati HUT PGRI dan Hari Guru Nasional tahun 2024: Guru Hebat Indonesia Kuat.
====
Penulis Kepala SMP Negeri 1 Gunungsitoli Selatan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

