| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

PERNAHKAH kita benar-benar berhenti sejenak untuk memperhatikan hasil karya tangan Tuhan? Bukan sekadar melihat dengan mata, tetapi memandang dengan hati yang terbuka dan jiwa yang peka.
Langit malam yang bertabur bintang seolah menyulam puisi keabadian di atas lembar langit. Atau fajar yang menghamparkan warna oranye dan emas di cakrawala seperti lukisan abadi karya Sang Maestro.
Bahkan saat badai datang—langit menggelap, hujan turun deras, dan angin menggoyang pepohonan—ada tarian agung ciptaan yang sedang berlangsung. Ada pesan Ilahi yang menembus suara gemuruh langit: Tuhan hadir, dan ciptaan-Nya berbicara.
Mazmur 104:24 berkata, “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, semuanya Kau buat dengan kebijaksanaan; bumi penuh dengan ciptaan-Mu”.
Ya, bumi ini bukan hanya tempat tinggal manusia, tetapi sebuah panggung besar dari simfoni ciptaan yang memuliakan Sang Pencipta. Setiap detailnya—dari lembah yang sunyi hingga nyanyian jangkrik di malam hari—merupakan ungkapan kebesaran dan kasih Tuhan.
Tuhan tidak hanya menciptakan, tetapi juga merawat dan memelihara. Ia menutupi langit dengan awan, menyediakan hujan bagi bumi, membuat rumput tumbuh di perbukitan, memberi makan binatang buas, dan mengatur musim dalam kesetiaan yang tak pernah surut.
Namun sayang, keindahan yang diciptakan dengan cinta dan kesempurnaan itu kini terganggu. Gunung yang dulunya hijau kini gundul. Sungai yang dulunya jernih, kini keruh oleh limbah. Udara yang dulunya segar, kini teracuni oleh asap dan racun industri.
Bumi menangis. Ekosistem merintih. Ciptaan berseru dalam kesakitan. Dan di tengah jeritan itu, Tuhan bertanya kepada kita: Di manakah engkau, manusia? Engkau yang Kupercayakan untuk mengusahakan dan memelihara bumi ini (Kejadian 2:15), mengapa engkau malah merusaknya?
Kita lupa bahwa bumi bukan milik kita. Kita hanya pengelola, bukan pemilik. Ciptaan ini adalah warisan dari Sang Pencipta, dan kita diundang untuk merawatnya dalam kasih dan tanggung jawab.
Merusak ekosistem berarti menentang kehendak Tuhan. Menyakiti alam adalah juga menyakiti hati Tuhan. Sebab ketika kita membiarkan hutan ditebangi tanpa kendali, membuang sampah sembarangan, mengeksploitasi tanah dan Danau Toba demi keuntungan sesaat, kita sedang mengkhianati panggilan kita sebagai gambar dan wakil Allah di dunia ini.
Di tengah konteks ini, izinkan kami sebagai anak-anak Tanah Batak menyampaikan isi hati yang terdalam. Tanah kami, yang dibentuk dari danau-danau dan pegunungan, dari lembah dan sawah yang subur, adalah pusaka warisan leluhur yang kami junjung dengan segenap cinta.
Tanah Batak bukan sekadar lokasi geografis, tetapi tubuh hidup yang menyimpan cerita, air mata, dan pengharapan generasi demi generasi.
Di bawah langit Toba yang biru, kami belajar mengenal Allah. Dari hutan-hutan Bukit Barisan, kami belajar tentang keheningan doa. Dari aliran sungai dan jeramnya, kami mengenal kekuatan dan keberanian.
Namun hari ini, kami melihat tanah kami terluka. Hutan-hutan di Humbang, Simalungun dan Tapanuli digunduli atas nama pembangunan.
Bukit-bukit di Samosir dan Dairi dilubangi demi tambang. Danau Toba yang kami panggil sebagai "danau suci" kini sering terpapar limbah. Di mana suara kami harus kami naikkan, jika bukan kepada Tuhan?
Kami tidak menolak pembangunan. Tapi kami memohon agar pembangunan menghormati ciptaan. Kami ingin pohon tetap menari bersama angin, dan burung-burung tetap berkicau di pagi hari.
Kami ingin cucu-cicit kami kelak masih bisa melihat mentari terbit di atas perbukitan Haranggaol, dan mendengar ombak Danau Toba menyapa pantai Balige.
Tuhan berbicara kepada kita melalui ciptaan-Nya. Seperti yang dikatakan oleh Ayub, “Tetapi tanyakanlah kepada binatang, maka mereka akan mengajarkan kepadamu; kepada burung di udara, maka mereka akan memberitahukannya kepadamu; atau bicaralah kepada bumi, maka ia akan mengajarkannya kepadamu, dan ikan di laut akan menceritakannya kepadamu” (Ayub 12:7-8).
Ya, setiap makhluk ciptaan memiliki suara. Mereka sedang menyampaikan pesan: bahwa Tuhan itu setia, bahwa kasih-Nya nyata, dan bahwa kita dipanggil untuk menjadi penjaga, bukan perusak.
Yesus sendiri mengajar kita untuk melihat dan belajar dari alam. "Perhatikan bunga bakung di ladang, yang tidak bekerja dan tidak memintal, namun Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu" (Matius 6:28-29).
Melalui burung pipit dan bunga bakung, Tuhan menyatakan bahwa Ia peduli kepada setiap makhluk hidup, betapa lebih lagi Ia peduli kepada kita.
Maka jika kita mengaku mengenal Tuhan, seharusnya kita pun belajar mencintai segala ciptaan-Nya. Sebab kasih kepada Tuhan tak bisa dipisahkan dari kasih kepada ciptaan-Nya.
Di antara budaya Batak, ada falsafah yang menyentuh tentang keselarasan hidup: “Dalihan na tolu,” yang bukan hanya soal relasi sosial, tapi juga relasi dengan alam. Tano (tanah) bukanlah benda mati.
Ia adalah bagian dari kehidupan. Maka ketika tanah terluka, kita pun ikut terluka. Ketika air dan udara rusak, kita pun kehilangan sebagian dari diri kita.
BACA JUGA: Jeritan Sunyi Tanah Batak yang Luka
Kini waktunya untuk bertobat secara ekologis. Pertobatan bukan hanya soal moral dan ibadah pribadi, tetapi juga menyangkut cara kita memperlakukan bumi.
Iman tanpa tanggung jawab ekologis adalah iman yang kering dan egois. Iman sejati mendorong kita untuk bersahabat dengan bumi, menanam pohon, memilah sampah, mengurangi jejak karbon, dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar kita.
Bahkan tindakan kecil seperti membawa kantong belanja sendiri atau menanam satu pohon di pekarangan rumah bisa menjadi bentuk ibadah yang berkenan kepada Allah.
Gereja harus menjadi suara profetik yang berseru bagi keadilan ekologis. Kita perlu mengkhotbahkan kasih kepada ciptaan, mengadakan ibadah syukur panen bukan hanya sebagai tradisi, tetapi sebagai pengakuan bahwa kita bergantung pada kesuburan dan keseimbangan ekosistem.
Biarlah altar gereja juga menjadi tempat kita membawa rasa syukur atas embun pagi, atas air bersih, atas padi yang menguning, atas ikan yang berenang di danau.
Saudara-saudari dalam Kristus, jika kita ingin melihat wajah Tuhan, pandanglah ciptaan-Nya dengan penuh syukur dan hormat. Jika kita ingin mendengar suara Tuhan, dengarkanlah nyanyian alam yang memuji-Nya siang dan malam.
Jika kita sungguh mengasihi Tuhan, mari kita buktikan kasih itu dengan turut menjaga dan merawat apa yang menjadi milik-Nya—bumi ini, ekosistem ini, semua makhluk hidup di dalamnya.
Biarlah keindahan ciptaan memenuhi kita dengan kerinduan yang lebih dalam untuk mengenal Sang Pencipta. Biarlah bunga-bunga liar di ladang membimbing kita kepada penyembahan yang lebih murni.
Biarlah burung-burung di angkasa mengingatkan kita akan kebebasan dan pemeliharaan Tuhan. Dan biarlah kesunyian hutan yang damai membisikkan kepada kita tentang kehadiran Tuhan yang kudus dan agung.
Kami percaya, Tuhan belum selesai dengan Tanah Batak. Kami percaya Ia memanggil generasi baru yang mencintai tanahnya, bukan untuk dikuasai tetapi dirawat.
Kiranya hati kami menjadi seperti taman yang dirawat dengan kasih, agar dari sana tumbuh buah-buah pertobatan ekologis, cinta kasih kepada bumi, dan pujian kepada Tuhan yang telah menciptakan segalanya dengan sangat baik. Amin.
Horas!
====
Penulis pendeta emeritus Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), saat ini aktif menulis dan memiliki blog pribadi
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

