| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

KAWAN-kawan, lihatlah, Tanah Batak tidak lagi bernyanyi. Sungai-sungai kecil yang dahulu menjadi nadi kehidupan kini membisu—mati satu per satu, hingga mencapai 3.000 anak sungai di sekitar Danau Toba. Padahal, dari air jernih itulah tumbuh kehidupan; dari alirannya, semesta pernah berbagi napas dengan manusia. Kini, semua tinggal cerita.
Kehadiran PT TPL (Toba Pulp Lestari) tak hanya mengiris hutan, tetapi juga merobek dada ekosistem. Keanekaragaman hayati yang dahulu menjadi kekayaan tak tertandingi telah musnah: burung-burung menghilang, pepohonan raksasa tumbang, dan binatang-binatang hutan turun menyerang ladang warga karena habitatnya dirampas. Monyet-monyet bukan agresor; mereka hanya lapar dan kehilangan rumah.
Lebih mengerikan lagi, TPL telah menanam benih luka di tubuh bumi yang akan kita wariskan. Dan tangisan itu, tak hanya terpendam di akar-akar pohon yang tercerabut, tapi juga menggema dalam dada para ibu yang kehilangan anak2nya karena air tercemar; dalam jeritan para petani yang tak bisa lagi menanam karena tanahnya mengeras, tandus dan mati.
Di bawah bayang-bayang industri, tanah adat dicap sebagai hambatan pembangunan, padahal di situlah sejarah dan martabat orang Batak bertumbuh sejak dahulu kala.
BACA JUGA: Perlukah Tutup TPL?
Sementara itu, di balik meja-meja perundingan, suara rakyat sering kali dipatahkan dengan narasi "kemajuan". Padahal, kemajuan seperti apakah yang menjadikan danau keramat Danau Toba sebagai korban, yang mengeringkan sumber-sumber air, memecah komunitas adat, dan menciptakan rasa takut turun-temurun? Ini bukan kemajuan. Ini penjajahan baru yang menyamar dalam jubah investasi.
Logika ekologis tidak bisa dibungkam. Alam memiliki hukum keadilannya sendiri. Setiap pohon yang ditebang tanpa perhitungan, setiap tanah yang dikeruk tanpa kasih, akan membalas.
Banjir, longsor, suhu ekstrim, hilangnya ketahanan pangan, semua itu bukan sekadar statistik. Itu adalah bahasa penderitaan dari bumi yang disiksa.
Kini kita tidak hanya kehilangan hutan, tetapi kehilangan nilai. Ketika manusia lebih memilih profit daripada kehidupan, maka hancurlah keseimbangan.
TPL bukan hanya masalah lingkungan, tetapi tragedi moral. Sumatera Utara harus bangkit dan berkata cukup. Kita tidak bisa lagi menjadi penonton dari pembantaian ekosistem yang sedang berlangsung.
Ini adalah soal kelangsungan hidup, martabat manusia, dan kewajiban suci menjaga ciptaan Tuhan. Tanah Batak bukan lahan eksploitasi. Ia adalah tanah berkat yang harus dijaga, bukan dijarah.
Gema suara terbuka Ompui Ephorus HKBP, Pdt Dr Viktor Tinambunan yang lantang menyerukan penutupan TPL telah mengguncang kesadaran publik.
Tak lagi diam, gereja kini berdiri di garis depan perjuangan ekologis. Puncaknya, pada 14 Mei 2025, PGI lewat Sekretaris Eksekutif bidang Keadilan dan Perdamaian Pdt. Etika Saragih, memfasilitasi pertemuan akbar para pimpinan gereja dan lembaga keumatan se-Sumatera Utara—sebuah momen sejarah di mana gereja bersatu demi satu suara: Tutup TPL demi kehidupan dan keadilan!
Gagasan ini bukan sekadar pernyataan politik, melainkan seruan iman. Ini adalah bentuk nyata kasih Allah yang berpihak kepada yang tertindas dan ciptaan-Nya yang dirusak.
Oleh karena itu, kita para pendeta, tidak bisa hanya menjadi penonton dalam drama penderitaan umat dan kerusakan lingkungan ini. Kita harus hadir, bersuara, dan terlibat!
Inilah saatnya kita melangkah keluar dari zona nyaman, menanggalkan keengganan, dan bergabung dalam barisan pembebasan — bagi tanah, air, udara, dan anak cucu kita.
Tidak cukup hanya berkhotbah lagi dari mimbar, kita juga harus menyambung suara umat yang menangis di ladang-ladang yang kering dan di sungai-sungai yang mati. Suara gereja harus menjadi suara kehidupan!
Wahai teman2 para pendeta saudara-saudaraku sepelayana. Di tengah dunia yang terluka ini, suara kita ditunggu. Kita bukan hanya pewarta Sabda di altar, tapi juga penjaga kehidupan di ladang dunia.
Janganlah kita duduk manis di ruang sejuk rumah dinas, sementara tanah leluhur kita dijarah dan rakyat kecil merintih tanpa perlindungan.
Perjuangan menutup TPL bukan sekadar aktivisme—ini iman yang hidup, ini panggilan Kristus untuk berdiri bersama ciptaan yang menderita.
BACA JUGA: Suara Kenabian Tokoh Agama dari Danau Toba
Jika hati kita masih bergetar saat membaca Mazmur tentang gunung-gunung dan sungai yang memuji Tuhan, maka mari bertanya: mengapa kita diam ketika gunung digunduli dan sungai dikeringkan oleh keserakahan?
Kita bisa ikut dalam doa, bisa ikut menulis, bisa ikut bersuara, bisa menemani para korban. Tidak semua harus turun ke jalan, tetapi jangan ada yang berpaling muka! Karena jika gereja diam, siapa lagi yang akan berdiri bagi suara alam yang dibungkam?
Kini saatnya kita ikut berdiri dalam barisan pembebasan ini. Bukan untuk populer, tapi untuk setia. Demi iman. Demi anak cucu. Demi tanah Batak yang sedang sekarat dan memanggil kita: “Dimanakah suara nabimu, wahai gereja?"
====
Penulis pendeta emeritus Gereja Kristen Protestan Simalungun, saat ini aktif menulis dan memiliki blog pribadi.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

