| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SEMPAT teralihkan perhatian saya. Namun, ketika kekerasan itu muncul, saya seolah tiba pada puncak emosi: TPL (PT Toba Pulp Lestari) memang harus diberi pelajaran. Mereka terlihat sepele dengan rakyat. Bagi mereka, katanya, rakyat bukan musuh. Tetapi, mengapa mereka datang seolah membawa alat perang untuk mempersekusi?
Saya tak tahu apa dampak TPL ini pada Tanah Batak. Soal mereka memberikan dana CSR, apakah sudah setimpal dengan gundulnya hutan alam?
Mereka memang menanam ekauliptus. Tapi, sebelum ekauliptus ada, mereka sudah menebang dan memanen pohon alam yang tak pernah mereka jaga, apalagi mereka tanam.
Siapa mereka sehingga mereka berkuasa menggundul hutan alam dan menukarnya beberapa dengan ekauliptus?
Saya ingat sewaktu SD. Itu pada kisaran tahun 1995-2000. Puluhan truk membawa pohon alam. Apakah mereka yang menanamnya? Siapa mereka sebenarnya? Pertanyaan ini penting dijawab.
Apakah mereka terlebih dahulu ada daripada leluhur Batak sehingga mereka berhak memanen pohon alam itu? Apakah mereka pemilik sah Tanah Batak sehingga merasa wajib memerangi masyarakat kecil?
Apakah menurut mereka warga Batak itu hatoban sehingga bisa diperlakukan sedemikian rupa sesuka hati?
Saya hanya mengatakan: kekuatan terbesar pun bisa tumbang dalam sekejap. Nepal menjadi bukti. Masih banyak kisah untuk disebut. Dan, kehancuran kebesaran selalu berawal dari kepercayadirian yang semu. Lebih percaya, misalnya, pada benteng daripada keberanian rakyat yang mulai terkumpul dan melawan.
Lebih percaya pada keperkasaan pasukan pengamannya daripada keteguhan hati orang-orang tertindas yang pelan-pelan mengumpulkan solidaritas.
Lebih percaya pada kesejahteraan karyawannya daripada penderitaan banyak masyarakat lainnya. Kepercayaan ini bisa berakhir dalam tempo yang tak terduga karena satu pemantik.
Apalagi kekerasan dan persekusi semakin masif dilakukan. Perlu juga ditelusuri. Mengapa banyak anggota DPR(D) dan pejabat diam pada keributan ini.
Mungkinkah mereka sedang mempelajari sesuatu atau menunggu sesuatu? Mungkinkah mereka mendapatkan sesuatu? Mungkinkah mereka sedang menyiapkan perlawanan?
TPL mungkin susah untuk diruntuhkan saat ini. Tetapi, tak ada yang sulit jika kau mendengarkan hatimu. Tak ada pula yang mudah jika kau hanya mengandalkan pikiranmu.
Begitu juga bagi TPL. Tak ada yang sulit jika ia melakukan dengan mendengarkan keluhan. Sebaliknya, tak akan ada lagi yang mudah jika mereka percaya pada bentengnya.
Rakyat saat ini sudah membuktikan amarah. Amarah menjadi emosi. Mungkin masih dibalut rasa percaya. Emosi belum tersalurkan. Namun, mereka harus paham.
Emosi ini bisa berkumpul menjadi people power. Begitulah Sigmun Freud berkata. Emosi yang belum diungkapkan tak akan sepenuhnya mereda, apalagi padam.
Emosi itu hanya terkumpul dan terkubur hidup-hidup. Jika dipantik, emosi itu bisa muncul dengan cara yang jauh lebih buruk. Karena itu, pejabat di Nepal terkejut.
Mereka berpikir polisi masih bisa menjadi benteng. Mereka lupa, sungai bisa menjadi tempat mengalirkan amarah dan penghinaan. Jangan main-main dengan orang kecil.
Saya sebetulnya menyimpan pikiran positif untuk TPL. Apalagi pemerintah banyak yang diam. Tetapi, mungkinkah mereka sedang bersepakat pada satu hal?
BACA JUGA: Alam Tidak Butuh TPL
Entahlah. Perlawanan dalam bentuk apa pun bisa dilakukan. Apalagi jika sudah melakukan persekusi dan kekasaran. Perlawanan itu harus disuarakan supaya mereka tahu bahwa diam bukan berarti tenang.
Pada 19 Oktober ini, kami akan mengangkat sebuah karya seni drama tari. Akan dipertunjukkan di Medan. Modalnya pas-pasan. Malah rugi.
Tetapi, karya ini didasari pada penggusuran masyarakat adat oleh budaya patriarki. Karya seperti ini mungkin tak akan didukung pemerintah karena belum menjadi media edukasi, apalagi keuntungan fiskal.
Tetapi, edukasi sekecil apa pun harus dilakukan. Suara harus diteriakkan. Uang mungkin bisa menutup mulut. Tetapi, uang tak selamanya bisa menutup pikiran.
Jika kamu percaya uang bisa mengatasi segalanya, ada kekuatan yang akan merontokkannya: emosi yang sempat padam akan muncul jadi lebih buruk. Jadi, jika ada suara, bukalah telinga!
====
Penulis Pembina Sanggar Maduma, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Humbang Hasundutan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

