| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com - Medan. Warga Medan, Sumatera Utara, pasti tahu Pasar Petisah Kota Medan. Di zamannya, pasar ini menjadi primadona.
Selain dilengkapi pajak tradisional, Pasar Petisah juga menjadi serbuan warga Medan untuk beragam kebutuhan, seperti perlengkapan pakaian.
Kemudian perlengkapan sekolah seperti sepatu dan tas, peralatan rumah tangga, aneka makanan ringan hingga perhiasan.
Namun perlahan era kejayaan Pasar Petisah mulai memudar. Penyebabnya tak lain adalah terserang jualan online (live).
Dampak yang paling terasa adalah di lantai 2, yang dikenal dengan sentra pakaian seken alias monza, atau burjer, sebutan lain baju bekas.
Seperti pada Minggu (22/6/2025), pusat pakaian bekas itu terlihat lengang. Pertanda kurangnya gairah bisnis, sebenarnya sudah terlihat begitu menaiki tangga.
Kesannya kumuh. Kemudian sebagian kios ataupun tennant (space) terlihat kosong dan banyak juga kios yang tidak buka. Begitu juga kesannya kalau naik dari eskalator.
Para pedagang pakaian bekas di sana terlihat kurang bergairah. Barang banyak dijajakan, namun sangat sedikit pembeli.
Tak seperti biasanya di hari Minggu hari libur, yang ramai pembeli. Apalagi kalau hari biasa, semakin sunyi.
"Iya kalau sekarang beginilah kondisinya, sepi kali," ujar Lisma, seorang pedagang pakaian bekas di sana.
Begitu juga dengan Roma, yang mengaku jika sepinya pembeli karena tergerus jualan online. Menurutnya masyarakat saat ini lebih memilih cara praktis, yakni beli online.
Karenanya tidak heran jika banyak kios di sana terpaksa tutup. "Ya mau tak mau begitulah. Kami yang bertahan ini pun sebenarnya berat kali, tapi mau bagaimana lagi, demi bertahan hidup," tambah Yanti, seorang pedagang lainnya menimpali.
Serupa dengan penjahit, mereka juga terimbas dengan sepinya pembeli pakaian bekas. Usaha mereka bergantung dari ramainya pembeli.
"Kan untuk mengecilkan atau biar pas ukuran baju atau celana yang dibeli, itu yang kemudian kita kerjakan," ujar Farhan, salah seorang penjahit.
Sementara menurut pedagang dan penjahit, mereka harus membayar sewa kios ke PD Pasar Medan dan sejumlah retribusi lainnya. Kini semua itu semakin memberatkan pihaknya.
Baik pedagang maupun penjahit di sana berharap ada keberpihakan pemerintah, terkhusus dari Pemko Medan.

