| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

TEPAT tanggal 25 September 2025 merupakan seratus tahun Hasan Muhammad Tiro. Satu abad usia seorang tokoh yang tak pernah berhenti diperdebatkan, dihormati, ditolak, dirindukan, dan ditakuti.
Apa pun perspektif yang dipakai, Hasan Tiro bukanlah sekadar nama, melainkan sebuah narasi besar tentang Aceh—tentang luka, harapan, dan pencarian jati diri sebuah bangsa kecil yang terlempar dalam pusaran sejarah global.
Hasan Tiro bukan semata pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ia adalah penulis, intelektual, diplomat, dan “pencerita besar” (the great storyteller) yang memahami betul bahwa politik bukan hanya tentang senjata dan kekuasaan, melainkan tentang kisah bersama yang mampu menyulut imajinasi kolektif.
Yuval Noah Harari dalam Sapiens menyebut, kekuatan manusia dibanding spesies lain terletak pada kemampuannya menciptakan fiksi bersama: negara, hukum, agama, mata uang, hingga identitas kebangsaan.
Hasan Tiro paham betul logika ini. Ia menulis, berbicara, dan merangkai ulang memori kolektif Aceh menjadi sebuah narasi perlawanan: bahwa Aceh adalah bangsa dengan sejarah agung, yang kini tertindas, dan karenanya harus bangkit.
Narasi Sebagai Senjata
Narasi yang ditenun Hasan Tiro bukan dongeng kosong. Ia memungut serpihan sejarah Aceh: kegemilangan Kesultanan, perlawanan terhadap Portugis, Belanda, hingga “pengkhianatan” perjanjian dengan republik muda Indonesia.
Fragmen-fragmen itu disusunnya menjadi kisah yang masuk akal bagi rakyat Aceh: kisah tentang ketidakadilan yang harus ditebus dengan kemerdekaan.
Narasi ini menjelma menjadi senjata. Ribuan anak muda mengangkat senjata bukan hanya karena ingin hidup makmur, tapi karena mereka percaya pada cerita tentang martabat dan kedaulatan.
Hasan Tiro berhasil menjadikan dirinya bukan sekadar pemimpin, tapi semacam “penyair perlawanan” yang menyalakan imajinasi generasi.
Inilah yang membedakan seorang politikus biasa dengan “pencerita besar”. Sukarno punya api orasi, Jefferson punya deklarasi, Lenin punya manifesto. Hasan Tiro punya serangkaian teks, pidato, dan mitologi yang menyalakan bara perlawanan Aceh.
Luka dan Kebesaran
Namun setiap narasi besar juga menimbulkan luka. Konflik panjang di Aceh menyisakan ribuan korban, kehancuran ekonomi, dan trauma sosial yang menahun. Hasan Tiro sering dipuja, tapi juga dikritik: dianggap membawa Aceh pada jalan pedih.
Di titik inilah kita mesti jujur. Narasi besar memang bisa menggerakkan, tapi ia juga bisa melukai. Sama seperti api: ia bisa menghangatkan, tapi juga bisa membakar rumah. Narasi Hasan Tiro memberi harga diri, tapi juga menelan nyawa generasi.
Kini, 100 tahun setelah kelahirannya, kita dihadapkan pada pertanyaan: apakah narasi Hasan Tiro masih relevan, ataukah sudah selesai?
Antara Realitas dan Imajinasi
Aceh kini berada dalam kerangka NKRI dengan status istimewa melalui UUPA (Undang-Undang Pemerintahan Aceh). Konflik bersenjata telah berhenti sejak penandatanganan MoU Helsinki 2005. Tapi narasi tentang ketidakadilan belum sepenuhnya padam.
Masih banyak rakyat kecil yang merasa terpinggirkan. Masih ada kesenjangan ekonomi, korupsi, dan krisis kepemimpinan. Di sinilah narasi Hasan Tiro tetap bergaung. Ia menjadi pengingat bahwa janji-janji keadilan belum sepenuhnya ditepati.
Tetapi di saat yang sama, Aceh juga butuh narasi baru. Bukan narasi senjata, tapi narasi pembangunan, keadilan sosial, dan kesejahteraan. Bukan narasi luka, tapi narasi penyembuhan. Bukan narasi perlawanan, tapi narasi kolaborasi.
Narasi dan Tanggung Jawab Moral
Dalam Islam, narasi bukan sekadar kata-kata. Alquran sendiri penuh dengan kisah-kisah para nabi, umat terdahulu, dan peristiwa-peristiwa yang mengandung pelajaran. Allah berfirman:
"Laqad kaana fii qashashihim ‘ibratun li ulil albaab" (Sesungguhnya pada kisah-kisah itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal) (QS. Yusuf: 111).
Narasi Hasan Tiro adalah bagian dari “kisah” Aceh. Kisah yang harus dibaca dengan bijak: diambil hikmahnya, dikritisi kelemahannya, dan dilanjutkan dengan narasi baru yang lebih membangun.
Seperti kata Imam al-Ghazali, agama itu nasihat. Narasi pun demikian, ia adalah nasihat, peringatan, sekaligus cermin. Tugas kita adalah memastikan nasihat itu melahirkan maslahat, bukan mafsadat.
Gus Dur pernah mengingatkan, kemanusiaan harus menjadi titik tolak dan tujuan politik. Bila narasi kehilangan dimensi kemanusiaan, ia akan menjadi ideologi kaku yang justru menghancurkan manusia itu sendiri.
BACA JUGA: Menggali Ibrah di Balik Legenda Ma Sihe’i Gampong Blang Dalam Pidie Jaya
Satu Abad, Satu Refleksi
Seratus tahun Hasan Tiro adalah momentum untuk merenung. Bahwa politik bukan hanya perebutan kursi, tapi perebutan makna. Bahwa kepemimpinan bukan hanya soal manajemen, tapi soal kemampuan bercerita—merangkai sejarah, mimpi, dan harapan menjadi visi bersama.
Aceh kini membutuhkan the great storyteller baru. Sosok atau kelompok yang bisa menulis ulang kisah Aceh bukan dalam bahasa luka, tapi dalam bahasa penyembuhan. Bukan dalam retorika kebencian, tapi dalam imajinasi kebersamaan.
Hasan Tiro sudah menulis bagi zamannya. Kini giliran kita menulis bagi zaman kita. Seratus tahun Hasan Tiro, kita diingatkan bahwa narasi adalah kekuatan paling dahsyat yang dimiliki manusia. Ia bisa melahirkan perlawanan, kemerdekaan, atau justru tragedi.
Di tangan para pemimpin yang bijak, narasi bisa menjadi cahaya. Di tangan yang salah, narasi bisa jadi api yang membakar.
Tugas kita, generasi kini, merupakan memastikan narasi Aceh tidak lagi berputar pada luka dan dendam, tapi pada keadilan dan kemanusiaan. Itulah penghormatan sejati kepada seorang Hasan Tiro: bukan sekadar mengulang kisahnya, tapi melampaui narasinya demi masa depan Aceh yang lebih damai dan bermartabat.
Lantas apa kontribusi kita untuk kemajuan Aceh dan negeri ini? Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq
====
Penulis Dosen Unisai Samalanga dan Alumni MUDI Samalanga serta Mantan Ketua PC Ansor Pidie Jaya
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

