| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com-Deli Serdang. Kader Partai Golkar yang menjabat Bupati Deli Serdang, Asri Ludin Tambunan menghadiri acara taklimat Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra bertajuk "Kompak Bergerak Berdampak", di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (8/11/2025).
Kehadiran Asri Ludin di acara Partai Gerindra itu terungkap dalam postingan Instagram (IG) DPD Partai Gerindra Sumut yang diunggah pada Minggu (9/11/2025).
Sebagaimana diketahui, Asri Ludin yang sebelumnya Aparatur Sipil Negara (ASN) menjabat Kadis Kesehatan Deli Serdang merupakan kader Partai Golkar.
Ia menerima Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Golkar dari Ketua DPD Partai Golkar Sumut, Musa Rajekshah (Ijeck) ketika proses pencalonan bupati pada Pilkada Deli Serdang 2024, yang berpasanganberpasangan dengan Lom Lom Suwondo, kader Partai Gerindra.
Belum diketahui apakah Asri Ludin saat ini sudah pindah partai dari Golkar. Karena belum ada ia secara terbuka menyampaikan mengundurkan diri dari partai beringin dan bergabung ke Partai Gerindra.
Pasalnya, taklimat Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu merupakan acara internal Partai Gerindra, yang hanya dihadiri kader internal partai.
Menurut pengamat politik dari Diagram Indonesia Centre (DIC), Dr (c) Taufiq Hidayah Tanjung, taklimat Ketua Dewan Partai Gerindra dapat diartikan sebuah kegiatan pembekalan kepada kader-kader Partai Gerindra, sehingga publik dapat menilai Asri Ludin telah menjadi kader Gerindra.
Dengan demikian, katanya, bergabungnya Asri Ludin ke Partai Golkar pada Pilkada 2024 lalu hanya sebatas kendaraan untuk mengantarkannya ke jabatan politik, yakni Bupati Deli Serdang.
“Inilah yang sering disebut kader kutu loncat. Itu orientasinya jelas hanya mengejar kekuasaan. Mereka tidak punya ikatan emosional apalagi ikatan ideologis dengan partainya," kata Taufik, kepada medanbisnisdaily.com, Senin (9/11/2025) siang.
Lebih lanjut Taufik menyebut, fenomena itu dinilai menjadi langkah politik aman. Dikarenakan saat ini partai penguasa adalah Partai Gerindra, sehingga kembali berhitung untung dan rugi.
Bila partai lamanya sudah tidak menguntungkan secara politik, tidak kondusif secara politik, politisi bersangkutan pasti akan mencari pelabuhan partai politik baru.
Kata Taufik, kader yang memilih pindah karena ingin 'berlindung' di partai penguasa menandakan lemahnya etika politik. Sebab setiap kader parpol yang akan pindah seharusnya menuntaskan dulu semua urusan di partai lamanya sampai mendapatkan keputusan resmi, baru kemudian melamar ke partai politik lain.
"Kita tidak pernah melihat, mendengar bahwa saudara Asri Ludin telah mengundurkan diri dari Partai Golkar. Nah ini tiba-tiba menghadiri acara Partai Gerindra yang diperuntukkan bagi kader," ungkapnya.
Taufik juga menilai Partai Gerindra yang begitu gampangnya menerima kader baru. Seharusnya proses seleksi dan kaderisasi yang ketat dilaksanakan agar tidak semua orang dapat keluar masuk partai.
Pengunduran diri dari parpol lama tidak cukup hanya dengan surat pengunduran diri secara sepihak atau pribadi.
"Apalagi kalau tidak ada surat pengunduran diri atau pencopotan, itu artinya begitu gampangnya masuk partai," katanya.
Surat tersebut setidaknya harus mendapatkan persetujuan resmi dari pimpinan parpol yang bersangkutan.
"Ini bertujuan supaya tidak semua orang mudah ke luar masuk partai," tegas Taufik.

