| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SETIAP tanggal 10 November diperingati Hari Pahlawan Nasional. Kita begitu semangat memperingatinya. Seluruh instansi pemerintahan bahkan swasta melakukan upacara dalam memperingati Hari Pahlawan Nasional tersebut.
Tak terlepas unsur organisasi masyarakat sipil, bahkan perorangan yang profesinya beragam mulai dari masyarakat biasa sampai pejabat negara begitu semangat dan antusias memperingati hari pahlawan. Walau kadang hanya sebatas membuat poster-poster atau ucapan dalam bentuk gambar yang bisa di bagikan kepada masyarakat umum melalui berbagai platform percakapan digital atau mempostingnya di akun media sosial masing-masing.
Respon yang lahirpun tentu beragam, namun sebagian besar responnya positif dan tidak sedikit yang membalas percakapan tersebut atau memberikan komentar pada postingan media sosial dengan reaksi semangat dan mengajak meneladani para pahlawan dan menghidupkan kembali semangat mereka untuk terus berkarya dan memberikan sumbangsih terbaik demi kemajuan Indonesia.
Hal ini tentu merupakan bentuk penghargaan atas jasa para pahlawan walau dengan cara yang berbeda-beda dan kontemporer.
Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah semangat dan jiwa pahlawan tersebut masih kuat dan benar-benar ada saat ini atau hanya sekadar euforia memperingati seremonial tahunan saja tanpa perlu aksi nyata yang sesungguhnya.
Pertanyaan ini hadir karena memang kondisi faktualnya yang terjadi saat ini berbanding terbalik atau tidak relate dengan postingan-postingan ataupun ucapan-ucapan tersebut.
Kita sangat mengharapkan jiwa patriot semangat pahlawan itu benar-benar ada dan nyata. Harapan itu dalam konteks sebagai warga negara yang sangat mengharapkan hadirnya pahlawan-pahlawan masa kini dengan versi baru, yang cocok dengan kondisi sosial masyarakat hari ini yang mana itu lahir dari para pemimpin-pemimpin dan wakil-wakil rakyat di setiap tingkatan.
Menjadi pahlawan saat ini tentu tidak sama dengan apa yang dilakukan oleh para pahlawan terdahulu. Menjadi pahlawan saat ini haruslah sesuai dengan zaman dan situasi terkini.
Hal ini karena sudah semakin majunya peradaban serta arus globalisasi yang semakin canggih. Menjadi pahlawan masa kini tidak lagi terbatas ruang-ruangnya.
Banyak ruang pengabdian yang bisa dilakukan untuk meneladani jiwa pahlawan. Misalnya fokus mengajak generasi muda untuk memanfaatkan ruang digital untuk hal-hal yang positif. Tidak menyebarkan berita hoax dan hate speech itu sudah bisa dikategorikan menjadi pahlawan versi masa kini.
Kondisi saat ini justru banyak keanehan dan kejanggalan yang terjadi. Alih-alih memberikan teladan karena menjiwai semangat pahlawan, para pemimpin-pemimpin dan wakil-wakil rakyat malah menunjukkan sikap dan perilaku yang jauh dari seharusnya yang mereka lakukan.
Gelombang demonstrasi yang terjadi pada Agustus lalu adalah ungkapan kekecewaan dan kemarahan masyarakat terlebih mahasiswa terhadap kondisi bangsa ini atas perilaku para pemimpin dan pejabat di republik ini.
Kekecewaan itu dampak terjadinya ketidakpastian ekonomi, tingginya tingkat pengangguran, melonjaknya harga bahan-bahan pokok, kriminalitas tinggi, rangkap jabatan dimana-mana, masuknya TNI dan polisi ke ruang-ruang sipil, kenaikan gaji dan fasilitas DPR RI yang fantastis dan masih banyak lagi tetapi malah sikap dan perilaku para pejabat tidak menunjukan sikap empati dan kepekaan sosial terhadap kondisi itu.
Malah sebaliknya, sikap dan tindakan mereka memancing dan membakar kemarahan masyarakat. Ada yang mengatakan masyarakat tolol karena melakukan demonstrasi. Banyak yang mengumbar kemewahan, flexing dan tindakan-tindakan tidak baik lainnya.
Tentu sikap dan perilaku tersebut sangat disayangkan. Harusnya para pejabat bisa menjaga ucapan, sikap dan tingkah laku. Harusnya mereka menunjukkan bahwa mereka pantas di posisi itu yang ucapan, sikap dan tingkah laku mereka dibayar dan digaji menggunakan uang negara.
Kondisi ini memang sudah akut dan sangat memalukan. Bahkan realita itu ternyata juga terjadi di setiap level tingkatan Dewan Perwakilan Rakyat, baik provinsi dan kabupaten dan kota.
Setelah massifnya pemberitaan mengenai sikap dan perilaku para anggota DPR RI setelah gelombang demonstrasi, maka seiring juga bermunculan pemberitaan sikap dan perilaku Anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota yang ternyata hampir sama. Jarang hadir dalam rapat-rapat membahas kondisi daerah dan masyarakat, arogan terhadap masyarakat, tunjangan dan gaji yang fantastis, fasilitas yang mewah serta
kurangnya rasa empati dan kepekaan sosial dan kepedulian terhadap rakyat.
Fakta ini sangat miris dan menggores hati. Terlebih masyarakat kecil yang kehidupan sehari-harinya masih sangat kesusahan bahkan jauh dari kata layak.
Mereka hidup di negeri yang kaya akan sumber daya dan potensi alam tetapi harus menanggung kesusahan yang belum berkesudahan dan malah disuguhkan tontonan yang semakin menyayat hati.
BACA JUGA: Jangan Hanya Sekadar Jadi Tim Sukses
Kejadian ini sebenarnya merupakan dampak dari proses demokrasi di Indonesia yang belum sepenuhnya berjalan secara substansial. Proses pendaftaran dan penjaringan para calon kepala daerah dan calon anggota legislatif belum sepenuhnya berbasis kaderisasi dan orientasi menuju pengabdian kepada rakyat.
Ini merupakan kegagalan partai politik melahirkan kader-kader yang potensial dan punya tujuan mulia untuk mensejahterakan rakyat ketika terpilih.
Partai politik masih berorientasi pada kursi dan jabatan yang diperoleh, bukan pada pengabdian dan tanggung jawab terhadap rakyat. Akhirnya mereka mencari dan menjaring para calon legislatif atau bahkan kepala daerah yang memiliki modal dan logislik yang cukup untuk membayar suara pemilih.
Kondisi ini belum tahu kapan berakhir. Namun dengan pengharapan yang sangat semoga ada perbaikan ke depan pada sistem
pemilu yang bisa memutus dan memperbaiki kondisi demokrasi saat ini.
Peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November 2025 mari kita jadikan refleksi dan semangat untuk meneladani para pahlawan, sungguh pahlawan terdahulu rela mengorbankan jiwa dan raga demi rakyat, demi kemajuan Indonesia.
Untuk itu, harapannya kepada semua pihak, terutama para pemimpin dan pejabat serta wakil-wakil rakyat agar bekerja sebaik-baiknya demi rakyat.
Jadilah pahlawan di ruang pengabdian masing-masing. Begitu juga untuk profesi lainnya apapun itu. Mari jaga semangat patriot dan jiwa pahlawan dengan ruang pengabdian masing-masing. Selamat Hari Pahlawan 10 November 2025.
====
Penulis Fungsionaris Pengurus Besar HMI Periode 2024-2026
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

