| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

MEMPERINGATI Hari Pahlawan pada 10 November 2024, Pemerintah Indonesia mengambil tema dan logo baru dengan makna yang mendalam. Tema tahun ini, "Teladani Pahlawanmu, Cintai Negerimu," mencerminkan penghargaan dan penghormatan terhadap jasa pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.
Kiranya hal ini semakin menguatkan semangat untuk meneladani karakteristik keteladanan para pahlawan terdahulu. Sungguh banyak tersebar di seluruh penjuru nusantara. Mulai dari Sabang sampai Merauke, dan dari Miangas hingga Pulau Rote. Itulah Indonesia tercinta.
Tetap diperlukan upaya pendalaman terhadap nilai dan semangat kepahlawanan. Akan menjadi fondasi yang kokoh untuk lebih berdirinya berbangsa dan bernegara ini.
Menjadi spirit untuk tetap memberikan energi positif agar bangsa ini tetap pada koridornya. Bangsa ini tetap membangun dan dilandasi semangat masa lalu dan heroisme kepahlawanan. Luruslah dalam arah pembangunan nasional.
Tebaran Semangat Kepahlawanan
Jejak sejarah kepahlawanan yang dijadikan tonggak sejarah kepahlawanan adalah peristiwa yang ada di Surabaya. Tokoh mudanya adalah Bung Tomo dengan segenap kekuatan pemuda yang ada di Surabaya.
Itu adalah tonggak sejarahnya. Namun lebih luas dan lebih lama juga tersebar di seluruh wilayah dalam rentang waktu yang panjang.
Sejak zaman kerajaan, perlawanan terhadap kolonialisme digaungkan. Kondisi itu telah melahirkan ribuan pahlawan yang gugur, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal.
Mereka itulah yang telah memperjuangkan dan mempertahankan tegak berdirinya bangsa dan Negara Indonesia.
Amat banyak para pahlawan yang telah memberikan darma baktinya. Jiwa, raga, harta, dan benda telah dikorbankan. Semua itu dilakukan bukan untuk kepentingan diri mereka sendiri.
Yang dilakukan justru untuk semua orang yang ada di sekitar mereka, bahkan untuk para generasi terdepannya. Generasi yang sama sekali tidak dikenal para pahlawan. Tetapi dengan gigih perjuangan itu dilakukan.
Perjuangan yang terus-menerus tanpa henti dilakukan. Sungguh merupakan semangat kepahlawanan. Hal itu tersebar dari provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sampai Papua (yang saat ini sudah menjadi 6 provinsi).
Dengan tersebarnya semangat kepahlawanan di nusantara diharapkan seluruh generasi bangsa saat ini semakin mencintai bangsa dan negara. Dari perjuangan yang telah dilakukan para pahlawan, tampak dengan jelas banyak kecintaan para pahlawan.
Diharapkan akan menjadi cerminan bagi para generasi penerus untuk mencintai bangsa dan negara ini. Sebenarnya, generasi penerus saat ini harus mampu membaca lintasan sejarah perjuangan para pahlawan.
Dengan begitu, maka akan muncul nilai kecintaan terhadap bangsa dan negara. Menumbuhkan cinta bangsa dan negeri ini dilakukan dengan penghayatan terhadap sejarah perjuangan yang dilakukan para pahlawan.
Menguatkan Jati Diri Bangsa
Dengan kecintaan yang mendalam terhadap bangsa dan negara oleh segenap bangsa Indonesia akan memperkuat jati diri bangsa. Jadilah sebagai bangsa dan negara dengan jati diri yang kuat.
Jati diri bangsa yang bisa mengoptimalkan kekuatan dan daya saing dalam kancah global dunia internasional. Sehingga dengan dilandasi pemahaman terhadap sejarah perjuangan bangsa akan meningkatkan eksistensi diri sebagai warga bangsa internasional.
Diperlukan upaya transformasi dan transmisi nilai-nilai kepahlawanan kepada generasi masyarakat terkini. Generasi muda harus dengan mudah dan bisa memahami kondisi perjuangan terdahulu.
Upaya ini akan melibatkan berbagai komponen bangsa. Dilakukan melalui institusi pendidikan maupun institusi lainnya. Semua komponen harus terlibat.
Sebab, sejarah perjuangan telah menjadi kenangan sejarah historis kolektif. Sayangnya, tidak dengan mudah hal itu diinternalisasikan pada diri sendiri. Pembelajaran sejarah harus secara kolektif dan kontinuitas.
Penguatan jati diri bangsa dilakukan dengan internalisasi nilai kepahlawanan. Untuk ini diperlukan juga bentuk keteladanan dari para penyelenggara negara saat ini.
Para penyelenggara negara adalah tokoh publik yang saat ini ikut mengatur bangsa dan negara ini. Partisipasi yang dilakukan terlihat dengan jelas oleh publik pula.
Seluruh masyarakat Indonesia bisa dengan mudah melihat keteladanan yang dilakukan para pejabat publik itu, jika ada. Sayangnya, beberapa keteladanan yang diperlukan itu tidak dengan nyata terlihat. Belum terlihat, atau memang sama sekali tidak ada.
BACA JUGA: PON, Membingkai Olahraga dalam Semangat Persatuan
Menjadi Pahlawan Kekinian
Realitas historis kepahlawanan tetap menjadi mozaik perjuangan daerah yang bisa menjadi kolektivitas berbangsa. Tetaplah menjadi bagian yang terpenting untuk menjadi jalinan berbangsa dan bernegara.
Titik akhir dari hal itu adalah bagaimana menjadi pahlawan terkini. Pahlawan dengan konteks kekinian tetap juga akan muncul dan hadir sebagai hamparan realitas kita harapkan.
Pahlawan kekinian tetaplah menjadi harapan untuk bisa terwujud. Semua bisa menjadi pahlawan. Tidak harus dengan memanggul senjata dan berjuang di medan perang berada di antara desing peluru dan bau mesiu.
Menjadi pahlawan terkini adalah dengan melakukan yang terbaik yang sesuai dengan kondisi aktual. Jadilah menjadi generasi penerus yang berkelakuan sesuai aturan yang berlaku.
Mengikuti aturan yang ada. Itu saja sudah cukup. Walaupun masih dalam hitungan yang sangat minimalis.
Akhirnya, dengan meneladani semangat kepahlawanan diharapkan seluruh bangsa ini akan mampu mencintai negeri ini. Inilah upaya yang harus dilaksanakan dengan segenap rasa kebanggaan sebagai bagian dari bangsa dan negara yang telah menerima warisan perjuangan para pahlawan. Para pahlawan telah memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara ini.
Sehingga pada saat ini, tugas berat pembangunan ada di pundak generasi muda saat ini. Jadilah generasi yang mengerti berterima kasih kepada para pahlawannya dengan cara mencintai negeri ini.
Hal itu bisa diwujudkan dengan memberikan darma bakti yang terbaik untuk bangsa ini. Kitalah yang membangun bangsa dan negeri ini. Tidak mungkin bangsa lain!
====
Penulis alumnus S3 USU dan ASN di Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Utara ([email protected]).
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

