| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SUMATRA dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan alam yang melimpah dan bentang hutan yang menjadi penyangga kehidupan. Dari hutan hujan tropis yang rimbun hingga keanekaragaman hayati yang menjadikannya rumah bagi binatang endemik seperti gajah sumatra, harimau sumatra, orangutan sumatra bahkan spesies langka hidup di pulau ini seperti Badak Sumatra, bukan hanya binatang tetapi tumbuhan langka seperti bunga Rafflesia arnoldii pun ada di pulau ini.
Sungguh Sumatra memiliki ekosistem yang bernilai tak ternilai. Hutan-hutannya tak hanya menyimpan pesona alam, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, dan sumber kehidupan bagi masyarakat, hutan juga berfungsi sebagai spons yang menyerap air berlebih, serta melindungi tanah dari erosi.
Keasrian ini seharusnya menjadi warisan yang dijaga bersama, sebab keberadaannya menentukan keselamatan dan keberlanjutan kehidupan di sekitarnya.
Menurut CNN Indonesia (2023, 13 September), hutan hujan tropis Sumatra membentang melintasi tujuh provinsi, yaitu Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Utara, dan Aceh.
Kawasan seluas sekitar 2,59 juta hektare ini menjadi habitat penting bagi ribuan spesies, termasuk sekitar sepuluh ribu jenis tumbuhan, ratusan spesies burung, dan lebih dari dua ratus spesies mamalia.
Di dalamnya juga terdapat belasan spesies endemik Sundaland yang hanya ditemukan di Indonesia, termasuk orangutan sumatra.
Di Ambang Keruntuhan Ekologis
Sumatra dilanda bencana alam banjir dan longsor di berbagai wilayah. Bencana ini terjadi pada tanggal 25 hingga 27 November 2025. Bencana tersebut bukan hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi dipicu oleh aktivitas manusia, serta rangkaian kejadian yang saling berkaitan dan berlangsung lama.
Hutan yang dahulu berfungsi sebagai penyangga ekosistem kini mengalami degradasi signifikan akibat pembukaan lahan besar-besaran, terutama untuk kebutuhan perkebunan dan aktivitas komersial lain.
Hilangnya hutan menyebabkan tanah kehilangan kemampuan menyerap air, sehingga ketika hujan turun dalam intensitas tinggi, air tidak lagi masuk ke dalam tanah melainkan langsung mengalir ke permukiman dan sungai, menciptakan banjir yang sulit dikendalikan.
Menurut Global Forest Watch dalam website resmi Katadata (2025, 1 Desember), menunjukkan data dari 2002 hingga 2024, Sumatra Utara kehilangan 390 ribu hektare (ha) hutan primer basah, menyumbang 25% dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama. Area total hutan primer basah di Sumatra Utara berkurang 19% dalam periode waktu ini.
Sumatra Barat kehilangan 320 ribu ha hutan primer basah, menyumbang 44% dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama. Area total hutan primer basah di Sumatera Barat berkurang 14%.
Sedangkan Aceh kehilangan 320 ribu ha hutan primer basah, menyumbang 38% dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama. Area total hutan primer basah di Aceh berkurang 9%.
Hal ini semakin diperburuk dengan adanya praktik deforestasi yang berlangsung bertahun-tahun. Banyak kawasan yang seharusnya menjadi hutan lindung berubah fungsi menjadi area produksi, banyak perusahaan membuka lahan dengan menghilangkan tumbuhan bawah dan pepohonan besar yang selama ini memegang peran penting dalam menjaga struktur tanah.
Akibatnya, wilayah-wilayah tersebut menjadi rawan longsor, terutama ketika struktur tanah tidak lagi diperkuat oleh akar-akar pohon besar.
Longsor yang terjadi bukan hanya merusak pemukiman, tetapi juga menutup jalur transportasi, mengganggu aktivitas masyarakat, dan menyebabkan hilangnya nyawa.
Selain kerusakan fisik, rusaknya hutan di Sumatra berdampak langsung pada keanekaragaman hayati. Banyak spesies langka kini semakin terpojok karena habitatnya menyempit.
Perubahan lanskap hutan mengganggu keseimbangan rantai makanan dan mempercepat kepunahan spesies endemik.
Fenomena banjir dan longsor yang terjadi merupakan bentuk nyata dari ketidakseimbangan ekologis. Pembangunan tidak lagi mempertimbangkan daya dukung lingkungan turut memperparah situasi.
Pemerintah yang seharusnya berperan sebagai pengontrol penggunaan lahan sering kali memberi izin pembukaan kawasan baru tanpa pertimbangan yang matang. Hal tersebut tentunya menciptakan kondisi di mana eksploitasi terus berlanjut hingga kini.
Bencana yang terjadi tidak dapat dianggap sebagai musibah dari alam itu sendiri, tetapi sebagai cerminan bahwa kebijakan jangka panjang tidak lagi berpihak pada kelestarian lingkungan.
Ketika hutan digunduli, lingkungan kehilangan tameng pertahanan utamanya. Banyak masyarakat yang menjadi korban, kehilangan tempat tinggal bahkan banyak yang kehilangan orang-orang yang disayang.
Binatang-binatang endemik Sumatra juga turut menjadi korban meskipun mereka tidak bersalah.
BACA JUGA: Banjir dan Longsor Sumut: Warisan Pahit Pengabaian Ekologis
Menata Ulang Sumatra
Untuk mengembalikan keseimbangan alam di Sumatra, dibutuhkan langkah terukur yang berorientasi pada pemulihan jangka panjang. Salah satu langkah paling penting adalah mengembalikan fungsi hutan sebagai penyangga ekosistem.
Kita sudah pasti mengetahui istilah Reboisasi. Reboisasi merupakan salah satu langkah yang telah lama dikenalkan sebagai upaya pemulihan hutan.
Reboisasi harus dilakukan secara serius mengingat Sumatra sudah memasuki zona merah, artinya kerusakan hutan di Sumatra sudah memasuki kategori darurat ekologis
Selain pemulihan fisik, tata kelola lingkungan perlu diperbaiki. Pengawasan terhadap izin pembukaan lahan harus diperketat melalui regulasi yang berpihak pada keberlanjutan.
Pemerintah daerah dan pusat perlu bekerja bersama menyusun kebijakan yang memastikan setiap aktivitas ekonomi mempertimbangkan daya dukung ekologi.
Penggunaan teknologi pemetaan digital dan satelit dapat dimanfaatkan untuk mengawasi pergerakan alih fungsi lahan secara real-time dan memastikan tidak terjadi perusakan ekosistem.
Selain itu, masyarakat juga harus turut serta dalam menjaga hutan, masyarakat setempat perlu dilibatkan dan diberdayakan agar mampu menjaga hutan dari aktivitas merusak.
Masyarakat mulai dari anak kecil hingga dewasa harus menanamkan prinsip dan kesadaran dalam dirinya bahwa hutan adalah ibu bagi mereka. Apabila hutan tersebut rusak maka kehidupan juga akan kacau.
Industri yang beroperasi di Sumatra juga harus diberi kewajiban melakukan praktik produksi berkelanjutan. Perusahaan perkebunan, pertambangan, dan kehutanan perlu menerapkan prinsip zero-deforestation, pengolahan limbah yang baik, serta restorasi kawasan bekas operasi mereka. Perusahaan harus berkomitmen untuk menjaga alam bukan hanya formalitas hitam di atas putih saja.
Upaya menata ulang Sumatra ini membutuhkan konsistensi, kerja sama lintas sektor, dan kemauan politik yang kuat. Sumatra memiliki kekayaan alam yang luar biasa, dan pemulihannya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh pihak yang menikmati manfaat ekologisnya.
Jika langkah-langkah tersebut dilakukan secara serius, Sumatra dapat kembali menjadi kawasan yang lestari, aman, dan menjadi warisan bagi generasi mendatang.
====
Penulis Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Prodi Manajemen Universitas Katolik Santo Thomas Medan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com.

