| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SEJUJURNYA, saya sangat sedih jika harus menuliskan artikel ini. Entah apa yang terjadi dengan gereja terbesar di Indonesia itu, sampai-sampai di dalam rangkaian kegiatan untuk ulang tahunnya, nyaris melupakan akar dari keberadaannya sendiri.
Momen ulang tahun harusnya menjadi momen reflektif. Momen untuk mengingat tentang Pencipta yang menjadikan keberadaan segala sesuatu, termasuk gereja.
Rangkaian kegiatan kelahiran itu harusnya disambut dengan rasa syukur, melalui kerinduan untuk hadir bagi yang lain. Berhenti sibuk dengan urusannya sejenak, lalu kemudian berbagi untuk mereka yang termarjinalkan.
Saya kaget melihat berbagai rangkaian kegiatan menuju puncak acara perayaan ulang tahun gereja itu. Pertandingan sepak bola, konser para artis di berbagai kota, hingga kegiatan lomba cipta lagu mars dan hymne. Saya sedih menyaksikannya.
Seharusnya, gereja ini, di dalam perayaan ulang tahunnya yang sudah melampaui usia senja, dengan lantang mempermuliakan Kristus. Menyatakan Injil kerajaan Allah di berbagai kota. Membuat kebangunan rohani. Melakukan pelayanan diakonia bagi orang-orang termarjinalkan. Serta, melakukan pelayanan koinonia yang juga didasari oleh Injil Kristus.
Gereja tidak boleh lepas dari akarnya, Kristus itu sendiri. Lalu, perlu diingat pula bahwa gereja adalah milik Kristus, bukan milik pimpinan gereja, bukan milik jemaat, apalagi pejabat politik. Karena gereja adalah milik Kristus, maka sudah seharusnya firman Allah yang dikumandangkan sebagai representasi kehadiranNya di dalam setiap momen kegiatan gereja.
Saya pernah mendengar salah satu emeritus pimpinan gereja, kepala departemen di institusi gereja tersebut berkata demikian, "Terkadang pusat merasa berhak memonopoli rangkaian kegiatan gereja lokal. Padahal, sudah seharusnya seluruh jemaat, seluruh gereja lokal, sebagai bagian dari kesatuan gereja ikut berpesta di tempatnya masing-masing". Sudahkah ada buku panduan akan hal ini?
Kalaulah misionaris yang dipakai oleh Tuhan untuk memberitakan Injil, sehingga gereja besar ini dapat berdiri, lantas mengapa gereja besar ini malah melupakan akarnya?
Saya sudah membaca biografi misionaris itu. Dia dengan teguh bersandar kepada Injil. Melatih diri berbahasa lokal, belajar kebudayaan dan strategi penginjilan agar dapat diterima masyarakat primitif.
Kemudian, misionaris itu juga dengan kuasa memanggil banyak orang untuk melihat kemuliaan Kristus. Misionaris itu di dalam tulisannya belajar untuk meniru teladan Paulus. Setia pada Kristus. Anehnya, sejarah panjang inipun tidak diketahui sebagian besar jemaat di gereja besar itu. Maka, entah hal apa yang sedang dipestakan.
Kemiskinan pengetahuan akan sejarah gereja dan firman Tuhan membuat kegiatan yang dihasilkan pada akhirnya sangat dangkal dan jauh dari firman Tuhan. Padahal, gereja hanya akan dapat berbuah jika firman Tuhan terus diberitakan dan firman-Nya direnungkan siang-malam dengan setia. Inilah hak kesulungan gereja.
Lalu, apa kaitannya dengan sepak bola? Entahlah, saya juga sangat bingung. Dugaan saya, kegiatan itu sekadar untuk mempererat persekutuan di dalam pelayanan koinonia. Namun demikian, perlu diingat pula bahwa tritugas gereja tidak boleh terpisah dari Yesus Kristus, firmanNya dan kasih-Nya.
Sudahkah para peserta konser dan sepak bola menyadari hal ini? Jika belum, maka saya dapat mengatakan bahwa kegiatan itu tidak termasuk sebagai pelayanan koinonia. Koinonia sudah semestinya tidak terpisah dari Injil.
Maka, demi kebaikan gereja dan pertumbuhan iman jemaat, ada baiknya jika gereja besar ini tidak lepas dari panggilannya untuk dengan lantang mempermuliakan Kristus. Inilah wujud ekspresi sukacita terbesar gereja.
Kemudian, menempatkan gereja-gereja lokal sebagai subjek yang harus ikut merayakan hari ulang tahunnya. Jemaat-jemaat lokal pun harus ikut berpesta. Sama sukacitanya dengan agenda yang dibuat oleh pusat. Berpesta di tempatnya masing-masing sebagai gereja yang bermisi. Mereka bertumbuh sebagai jemaat yang berbuah.
Lalu, penting untuk keluar dari hidup yang terus mempermuliakan diri. Alih-alih mengundang para artis, kegiatan sepak bola dan nyanyian-nyanyian kosong.
Lebih baik diadakan seminar-seminar untuk meneguhkan iman, mengingat campur tangan Tuhan di dalam sejarah berdirinya gereja, serta menggagas pelayanan kasih kepada orang-orang marjinal.Para saudara-saudari yang difabel, orang sakit, tertindas dan para tawanan. Karena untuk merekalah Yesus datang melakukan pembebasan.
Memperbaiki mutu universitas, sekolah-sekokah, rumah sakit, panti asuhan dan badan usaha yang bermutu, pembinaan jemaat lansia hingga pemuda dan program misi masih jauh dari perhatian. Program yang seharusnya mendapatkan perhatian serius alih-alih sekadar seremoni an sich.
Sebagai bagian dari keanggotaan gereja itu, saya mengundang para pembaca, para hamba Tuhan dan pelayan gereja untuk sama-sama berdoa bagi pertumbuhan iman gereja Tuhan ini.
BACA JUGA: Paskah dan Arti Kerendahan Hati
Jangan sampai kaki dian Tuhan digeser, lalu meninggalkan gereja-Nya. Biarlah kuasa Kristus boleh dinyatakan di dalam dan melalui gereja-Nya. Soli Deo Gloria.
====
Penulis jemaat Gereja HKBP, sedang tinggal di Jakarta.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

