| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com – Medan. Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) pada 1 Mei 2026, momentum ini dinilai penting sebagai refleksi bagi seluruh elemen bangsa dalam menghadapi tantangan geopolitik dan ekonomi global yang kian tidak menentu.
Ketegangan di Timur Tengah, khususnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS), dinilai berpotensi memicu guncangan politik dan ekonomi global yang berdampak hingga ke Indonesia, termasuk Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
“Sehingga seluruh elemen bangsa wajib bersatu, serta bahu membahu untuk bisa bertahan dan keluar dari situasi sulit saat ini,” kata Kepala Departemen Hubungan Industrial dan Ketenagakerjaan Asosiasi Profesor Doktor Hukum Indonesia Wilayah Sumatera, Dr Minggu Saragih SH MH, di Medan, Kamis (23/4/2026).
Ia menilai, meskipun kondisi ketenagakerjaan di Sumut saat ini masih relatif stabil, pemerintah dan para pemangku kepentingan tetap harus waspada terhadap potensi tekanan ke depan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada November 2025 jumlah angkatan kerja di Sumut tercatat 8,42 juta orang, sedikit menurun dibandingkan Agustus 2025. Sementara itu, jumlah penduduk bekerja mencapai 7,971 juta orang, dengan peningkatan terbesar di sektor pendidikan. Sebanyak 3,351 juta orang atau 42,04% di antaranya bekerja di sektor formal.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sumut tercatat 5,28%, mengalami sedikit penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Di Kota Medan, TPT berada di angka 7,99%, turun 0,14% berdasarkan data BPS Kota Medan per Desember 2025.
Di sisi lain, angka kemiskinan juga menunjukkan tren penurunan. Pada September 2025, persentase penduduk miskin di Sumut tercatat 7,24%, turun 0,12 poin dibandingkan Maret 2025. Penurunan ini setara dengan berkurangnya sekitar 12,2 ribu jiwa, sehingga total penduduk miskin menjadi 1,13 juta orang.
Dari sisi ekonomi, Sumut mencatat pertumbuhan sebesar 4,23% pada triwulan IV 2025 secara tahunan (year-on-year). “Prediksi pertumbuhan ekonomi Sumut pada tahun 2026 diproyeksikan di kisaran 4,9% hingga 5,8%, berpeluang menjadi salah satu penggerak ekonomi utama di Pulau Sumatera,” ujarnya.
Menurut Minggu, pertumbuhan tersebut didorong oleh berbagai program strategis seperti Asta Cita, investasi, program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta sektor unggulan seperti pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan. Selain itu, implementasi program biodiesel B50 juga dinilai berpotensi meningkatkan permintaan crude palm oil (CPO).
“Terkhusus efektivitas program Asta Cita mulai dari MBG hingga paket stimulus pendukung daya beli masyarakat serta iklim investasi yang relatif kondusif di Sumatera Utara, sehingga mulai tampak peningkatan target investasi di sejumlah kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus,” jelas Minggu yang juga akademisi Fakultas Hukum Universitas Prima Indonesia Medan.
Namun demikian, ia mengingatkan pemerintah pusat dan daerah untuk mewaspadai dampak lanjutan dari ketegangan geopolitik global, yang berpotensi memperlambat ekonomi negara mitra dagang utama seperti AS, negara-negara Timur Tengah, dan Tiongkok.
Karena itu, pemerintah dan pemangku kepentingan diminta memperkuat faktor pendukung, seperti peningkatan keterampilan tenaga kerja serta pembangunan infrastruktur yang terhubung dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.
“Sehingga pemerintah dan pemangku kepentingan perlu memperhatikan faktor-faktor penunjang lainnya, seperti peningkatan skill tenaga kerja, serta pembangunan infrastruktur yang terkoneksi dengan pusat pertumbuhan ekonomi seperti kawasan industri/kawasan ekonomi khusus dan kawasan pendistribusian hasil usaha rakyat/hasil kebun petani,” imbuhnya.
Minggu juga menyoroti peran strategis Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei yang dinilai memiliki potensi besar sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Berdasarkan data PT Kawasan Industri Nusantara (PT Kinra), sejak beroperasi pada 2015 hingga kuartal III 2025, KEK Sei Mangkei telah merealisasikan investasi sebesar Rp25,97 triliun dan menyerap 7.856 tenaga kerja.
Dengan strategi yang tepat, KEK Sei Mangkei diyakini tidak hanya menjadi penggerak ekonomi, tetapi juga ikon transformasi regional menuju kawasan modern dan berdaya saing global.
“Dengan kondusifitas akan terwujud ketenangan dalam berusaha dan kenyamanan dalam bekerja,” tegasnya.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam menghadapi tantangan ke depan, mulai dari pemerintah daerah, dunia usaha, serikat pekerja, akademisi, hingga masyarakat sipil.
“Seluruh elemen bangsa, khususnya di Sumut, perlu bersatu serta berkomitmen untuk mencapai tujuan bersama. Peran Pemprov Sumut, OPD, dunia usaha, serikat pekerja/buruh, akademisi, pers, dan organisasi masyarakat sipil sangat penting untuk duduk bersama menyatukan pemikiran dan tindakan,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Minggu menyampaikan harapan di momentum May Day 2026.
“Selamat Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026. Buruh/pekerja sejahtera, dunia usaha berjaya, negara maju dan kuat,” pungkasnya.

