| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

INDONESIA memasuki pertengahan 2026 dengan beragam klaim pencapaian dari pemerintah yang cukup meyakinkan. Pertumbuhan ekonomi masih berada di atas 5 persen, pembangunan infrastruktur terus berlangsung, investasi tetap bergerak, dan berbagai indikator makroekonomi dinyatakan stabil.
Namun, di balik angka-angka yang tampak menjanjikan itu, terdapat kegelisahan yang jauh lebih mendasar, yakni semakin menipisnya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas moral para pemimpinnya.
Kita hidup pada masa ketika orang pintar semakin banyak, tetapi orang yang dipercaya semakin sedikit. Gelar akademik bertambah, jabatan publik bertambah, tokoh yang tampil di ruang publik bertambah, tetapi keteladanan justru terasa semakin langka.
Fenomena ini melahirkan keadaan yang dapat disebut sebagai *populi vacante*, sebuah kekosongan dalam hati rakyat terhadap figur yang layak dijadikan panutan dan teladan bagi generasi saat ini, apalagi untuk generasi mendatang.
Persoalan ini tidak hanya terjadi di kalangan politisi, tetapi menjalar hampir ke seluruh lapisan elite. Di lingkungan politik, publik menyaksikan praktik pragmatisme yang sering mengalahkan idealisme.
Di kalangan birokrasi, integritas kerap kalah oleh kepentingan karier. Di lingkungan akademik, tidak sedikit intelektual yang kehilangan independensi ketika berhadapan dengan kekuasaan. Bahkan sebagian besar aktivis yang dahulu berdiri di garis depan perjuangan demokrasi sering kali mengalami transformasi menjadi bagian dari oligarki yang pernah mereka kritik.
Kondisi serupa juga ditemukan pada sebagian figur berlatar militer. Disiplin organisasi yang kuat tidak selalu berbanding lurus dengan keteguhan integritas ketika memasuki arena politik dan kekuasaan.
Akibatnya, masyarakat semakin sulit membedakan siapa yang benar-benar mengabdi dan siapa yang sekadar memanfaatkan jabatan sebagai tangga menuju kepentingan pribadi atau kelompok.
Di sinilah akar persoalan bangsa ini sesungguhnya berada. Indonesia bukan sedang mengalami krisis kecerdasan. Indonesia sedang mengalami krisis karakter. Bangsa ini tidak kekurangan orang yang mampu menjelaskan persoalan. Bangsa ini kekurangan orang yang bersedia menanggung risiko untuk menyelesaikannya.
Padahal sejarah Indonesia pernah melahirkan figur yang menjadikan integritas sebagai fondasi pengabdian. Mohammad Hatta hidup dalam kesederhanaan bahkan setelah menjadi wakil presiden. Agus Salim dikenal karena kecerdasan yang berpadu dengan kerendahan hati dan keteguhan moral.
Alex Kawilarang membangun tradisi keprajuritan yang menempatkan kehormatan di atas kepentingan pribadi. Ir Sutami meninggalkan warisan pembangunan nasional tanpa meninggalkan cerita tentang kemewahan kekuasaan.
Nama-nama dari latar belakang yang sangat berbeda, tetapi memiliki kesamaan karakter, yaitu jabatan bukan tujuan hidup, melainkan sarana pengabdian.
Mentalitas Bushido Jepang dan Musashi
Ketika Penyerahan Jepang 1945 terjadi pada tahun 1945, dunia menyaksikan sebuah bangsa yang nyaris runtuh. Kota besar hancur akibat perang, ekonomi lumpuh, jutaan rakyat kehilangan pekerjaan, dan harga diri nasional mengalami guncangan luar biasa. Jepang berada dalam kondisi yang sangat buruk dibanding banyak negara Asia saat itu.
Namun hanya dalam beberapa dekade, Jepang menjelma menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Kebangkitan tersebut tentu didukung oleh reformasi ekonomi, industrialisasi, pendidikan, dan kemajuan teknologi.
Akan tetapi, seluruh proses itu berdiri di atas fondasi yang lebih dalam, yakni budaya karakter yang telah tertanam selama berabad-abad. Budaya tersebut berakar pada Bushido, kode moral kaum samurai yang menekankan kehormatan, disiplin, tanggung jawab, kesetiaan, pengendalian diri, dan pengabdian kepada kepentingan yang lebih besar daripada diri sendiri.
Nilai-nilai itu tidak hilang ketika era samurai berakhir, namun berubah menjadi budaya kerja, budaya birokrasi, budaya pendidikan, dan budaya kepemimpinan modern Jepang. Salah satu tokoh yang merepresentasikan semangat itu adalah Miyamoto Musashi.
Sosok yang tidak dikenang karena keahliannya menggunakan pedang semata. Musashi dikenang karena kemampuannya mengalahkan ego.
Dalam perjalanan hidupnya, Musashi memahami bahwa musuh terbesar manusia bukanlah lawan yang berdiri di hadapan, melainkan keserakahan, kesombongan, dan ambisi yang hidup dalam dirinya sendiri.
Di sinilah perbedaan mendasar antara kepemimpinan yang berorientasi karakter dan kepemimpinan yang berorientasi kekuasaan. Kepemimpinan berkarakter berusaha mengendalikan diri sebelum mengendalikan orang lain. Kepemimpinan berbasis kekuasaan justru berusaha mengendalikan orang lain sebelum berhasil mengendalikan dirinya sendiri.
Banyak elite Indonesia memiliki kecerdasan yang memadai untuk membangun bangsa. Namun tidak semua memiliki kemampuan menahan godaan kekuasaan, privilese, dan kepentingan pribadi. Akibatnya, kapasitas yang besar sering tidak menghasilkan keteladanan yang besar.
Jepang membangun negaranya melalui disiplin karakter. Indonesia terlalu sering berharap bahwa perubahan dapat lahir hanya dari pergantian figur. Padahal tanpa perubahan mentalitas, pergantian tokoh hanya akan menghasilkan pengulangan masalah yang sama.
**Menempa Teladan**
Karena itu, tantangan terbesar Indonesia menuju negara maju bukan semata-mata meningkatkan pertumbuhan ekonomi atau mempercepat pembangunan fisik. Tantangan terbesar bangsa ini adalah membangun kembali karakter kepemimpinan publik.
Partai politik harus kembali menjadi sekolah integritas, bukan sekadar mesin elektoral. Kampus harus melahirkan manusia berkarakter, bukan hanya sarjana.
Organisasi masyarakat sipil harus menjaga idealismenya ketika berhadapan dengan kekuasaan. Birokrasi dan institusi negara harus menjadikan keteladanan sebagai standar utama, bukan sekadar kompetensi administratif.
Kepercayaan publik tidak lahir dari pidato, tetapi lahir dari konsistensi. Kepercayaan tidak dibangun melalui pencitraan, namun dibangun melalui pengorbanan. Kepercayaan tidak tumbuh karena seseorang berkuasa, tetapi tumbuh karena seseorang dianggap layak memegang kekuasaan.
Indonesia tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang jujur ketika kejujuran terasa mahal, berani ketika keberanian mengandung risiko, dan bertanggung jawab ketika orang lain memilih mencari alasan.
Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, kekuatan ekonomi, atau besarnya investasi. Masa depan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kualitas karakter orang-orang yang memimpinnya.
Sebab sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa negara tidak pernah runtuh karena kekurangan orang pintar. Negara runtuh ketika kehilangan orang-orang yang dapat dipercaya.
BACA JUGA: Gizi dan Negara yang Korupsi
Di tengah suasana *populi vacante* yang semakin terasa hari ini, kerinduan rakyat sesungguhnya sangat sederhana. Mereka menunggu lahirnya kembali pemimpin-pemimpin yang menjadikan integritas sebagai kehormatan, pengabdian sebagai jalan hidup, dan kekuasaan sebagai amanah.
Sebagaimana Hatta, Agus Salim, Kawilarang, dan Sutami pada masanya, bangsa ini sedang menunggu hadirnya teladan yang tidak hanya mampu memimpin negara, tetapi juga mampu memimpin dirinya sendiri.
====
Penulis Penggiat HAM dan Demokrasi
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

