| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

KAMPUNG biasanya diartikan sebagai sekelompok pemukiman masyarakat yang telah ada dalam waktu lama, biasanya kesatuannya di tingkat kelurahan. Letaknya biasanya di luar kota.
Dulu saya punya kawan sekolah yang sekarang sudah almarhum. Dia bercerita bahwa setiap hari raya dia berjumpa dengan datok dan neneknya di Singapura. Dia bilang itu "balek kampung", maksudnya kampungnya di sana. Walaupun hanya sejam perjalanan dengan kapal. Waktu itu saya merasa terkesan juga dengannya. Singapura yang sudah semaju itu adalah kampungnya.
Dari ingatan lama ini, sejak kuliah saya menelusuri arti kampung. Secara umum dalam percakapan sehari-hari, saya mendapati tiga arti kampung.
Pertama, kata kampung tidak selalu diartikan sebagai sebuah kampung atau perkampungan, tetapi juga bisa diartikan sebagai asal-muasal daerah seseorang, biasanya tempat dia membesar.
Setiap orang punya kampung. Contohnya, waktu saya di Jogja yang mahasiswanya terdiri dari pemuda-pemudi se-Indonesia, setiap ditanya kampung saya di mana, saya jawab di Batam. Walaupun kadang saya merasa lucu karena Batam bukan kampung.
Dari lahir juga saya tak pernah tinggal di kampung. Meskipun kenyataannya saya tetap punya "kampung", dan kampung saya itu bukan kampung bila dilihat dari keadaannya. Tapi saya senang-senang saja, karena ini hanyalah persoalan tahu dan tak tahu.
Terkadang ada orang-orang yang tidak yakin mengatakan di mana kampungnya. Biasanya yang begini karena kampungnya itu benar-benar masih kampung, dalam arti sangat tertinggal, saking kampungnya. Kampung dianggap sebagai sekelompok pemukiman yang tertinggal dari banyak kemajuan zaman. Sehingga orang-orang seperti itu tak kuat mengakui kampungnya.
Ditambah lagi dengan citra orang-orang kampung yang baru merantau ke kota, yang dalam pandangan orang di kota biasanya dianggap norak. Dilihat dari pakaiannya, dandanannya, bahasanya, lagunya, dan kelakuannya. Hal ini saya alami selama di Jogja dulu, dan di Batam saat melihat pendatang berkendaraan atau tempat mereka berjual beli.
Di sisi lain, dari pengalaman saya berkawan dengan banyak orang dari kampung, saya mendapati justru orang-orang kampung cenderung lebih ramah dan tulus. Mereka juga beruntung karena setiap hari cenderung menghirup udara segar di lingkungannya dan makanannya sehat langsung dari sumbernya. Yang tidak ada hanyalah restoran KFC, bank-bank negara, koran harian, dan juga agenda konser-konser musik.
Nyatanya, ketiadaan ini tidaklah mengurangi kebahagiaan hidup mereka. Hidup mereka justru berjalan lebih tenang dan tetap lancar. Sebuah kampung biasanya kebanyakannya dihuni satu suku yang sama, kalau letak kampung itu bukan di daerah tujuan pendatang seperti Batam misalnya.
Tidak semua keadaan kampung di Indonesia ini sama, walaupun katakanlah pangkatnya sama-sama kampung. Contohnya orang-orang kampung yang ada di Batam berbeda dengan kampung yang ada di Jawa dan Sumatra. Karena sejak dulu dekat dengan pusat perbelanjaan modern di Singapura, maka membuat orang-orang asli Batam tidak nampak seperti orang kampung. Begitu juga sampai ke orang-orang Melayu di Lingga.
Apalagi setelah banyak berdirinya pusat perbelanjaan modern di Batam sejak tahun 1990-an. Bahkan sampai sekarang masih ada sedikit kampung yang tersisa di Batam. Contohnya yang paling tersohor adalah Tanjung Uma dan Batu Merah, yang khas dengan pemandangannya yang langsung menghadap ke Singapura.
Di kota-kota lama Indonesia, biasanya istilah kampung tetap dipakai sampai sekarang. Contohnya di Yogyakarta dan Jakarta. Pada hakikatnya, semua yang tinggal di kota berasal dari kampung. Hanya saja, di leluhur yang keberapa keluarganya pindah ke kota atau kampungnya menjadi kota. Misalnya di zaman ayahnya, datoknya, atau datok dari datoknya.
Sebuah kota umumnya sebelum menjadi kota awalnya adalah kumpulan perkampungan, dan sebelumnya lagi adalah hutan. Bahkan London pun sebelum menjadi kota adalah kumpulan perkampungan orang Inggris. Hanya saja, karena adanya penambahan banyak perlengkapan umum dengan teknologi baru maka kemudian berubah menjadi kota, setelah semua kampungnya saling terhubung.
BACA JUGA: Tiga Zaman Singapura
Saya pribadi tak pernah keberatan dianggap sebagai orang kampung. Sebab itu bukan masalah bagi saya. Mau dianggap orang kampung atau orang kota, yang penting bagi saya adalah menjadi orang baik, tak merugikan orang lain, dan bermanfaat bagi banyak orang. Itu yang utama.
Sebagai anak watan Batam, tentunya Batam adalah kampung saya. Tempat saya lahir, membesar, dan berkarya. Menjamurnya gedung-gedung pencakar langit bukanlah keinginan saya, hijaunya Batam adalah yang saya dambakan.
====
Penulis adalah alumni Universitas Islam Indonesia, seorang kapitalis humanis, tinggal di Batam.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

