| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SELAMA lebih dua dekade, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi konsumsi secara konsisten berada di kisaran lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB) membuat setiap perubahan perilaku belanja masyarakat segera tercermin pada laju pertumbuhan ekonomi nasional (BPS, 2025). Dalam banyak periode, ketika ekspor melemah atau investasi tertahan, konsumsi domestik berfungsi sebagai bantalan yang menjaga stabilitas ekonomi.
Namun, beberapa tahun terakhir memperlihatkan arah dan gejala yang sedikit berbeda. Pertumbuhan konsumsi memang masih positif, tetapi kecepatannya tidak lagi cukup kuat untuk menjadi lokomotif pertumbuhan.
Masyarakat tetap berbelanja, tetapi dengan pola yang lebih berhati-hati. Mereka mulai mengurangi pembelian barang tahan lama, menunda investasi rumah tangga, serta memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan konsumsi sekunder.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar jumlah uang yang beredar, melainkan perubahan persepsi masyarakat terhadap masa depan ekonomi.
Dalam teori ekonomi makro, kondisi tersebut dapat dipahami melalui konsep marginal propensity to consume yang diperkenalkan John Maynard Keynes.
Ketika ketidakpastian meningkat, tambahan pendapatan tidak seluruhnya dibelanjakan, melainkan disimpan sebagai tabungan atau dana darurat (Keynes, 1936). Dengan kata lain, ekspektasi terhadap masa depan menjadi sama pentingnya dengan besarnya pendapatan saat ini.
Fenomena tersebut juga sejalan dengan Permanent Income Hypothesis dari Milton Friedman (1957) dan Life Cycle Hypothesis dari Franco Modigliani dan Richard Brumberg (1954).
Kedua teori itu menjelaskan bahwa rumah tangga tidak mendasarkan konsumsi hanya pada pendapatan saat ini, tetapi pada ekspektasi pendapatan jangka panjang.
Apabila masyarakat memperkirakan kondisi ekonomi akan memburuk, konsumsi cenderung ditahan meskipun pendapatan belum mengalami penurunan yang signifikan.
Persoalan ini menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Ketika konsumsi mulai kehilangan daya dorongnya, model pertumbuhan ekonomi yang terlalu bergantung pada permintaan domestik menjadi semakin rentan.
Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai perubahan perilaku kelas menengah sebagai kelompok yang selama ini menjadi motor utama konsumsi nasional.
Daya Beli Kelas Menengah
Dalam berbagai studi ekonomi pembangunan, kelas menengah dipandang sebagai fondasi utama pertumbuhan permintaan domestik. Kelompok inilah yang mendorong berkembangnya sektor perdagangan, industri manufaktur, jasa modern, pendidikan, hingga ekonomi digital.
Ketika kelas menengah tumbuh, konsumsi meningkat dan dunia usaha memperoleh kepastian pasar. Sebaliknya, ketika daya beli kelompok ini melemah, hampir seluruh sektor ekonomi ikut merasakan dampaknya.
Laporan World Bank (2024) menunjukkan bahwa kelas menengah Indonesia menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya hidup yang lebih cepat dibandingkan peningkatan pendapatan riil.
Kenaikan harga pangan, biaya pendidikan, kesehatan, serta perumahan menyebabkan sebagian besar tambahan pendapatan habis untuk memenuhi kebutuhan dasar. Akibatnya, ruang untuk konsumsi barang-barang bernilai tambah menjadi semakin sempit.
Kondisi tersebut terlihat dalam berbagai indikator ekonomi. Pertumbuhan penjualan ritel mengalami perlambatan pada beberapa periode, sementara masyarakat semakin selektif dalam melakukan pembelian.
Barang elektronik, kendaraan bermotor, hingga properti mengalami siklus permintaan yang lebih panjang dibandingkan sebelumnya. Dunia usaha kemudian merespons dengan memberikan berbagai potongan harga, promosi, hingga fasilitas pembiayaan yang lebih agresif untuk menjaga volume penjualan.
Namun persoalan daya beli sesungguhnya tidak hanya dapat dijelaskan melalui angka-angka ekonomi. Dari perspektif antropologi sosial, konsumsi merupakan bagian dari proses pembentukan identitas sosial.
Pierre Bourdieu (1984) menjelaskan bahwa pilihan konsumsi mencerminkan posisi sosial, modal budaya, dan gaya hidup seseorang. Barang yang dikonsumsi tidak semata-mata memiliki nilai guna (use value), tetapi juga nilai simbolik (symbolic value).
Perubahan perilaku konsumsi kelas menengah Indonesia memperlihatkan adanya pergeseran nilai tersebut. Jika pada dekade sebelumnya konsumsi identik dengan peningkatan status sosial melalui kepemilikan aset dan barang bermerek, kini masyarakat semakin mempertimbangkan aspek efisiensi, keamanan finansial, dan keberlanjutan.
Fenomena value for money menjadi semakin dominan. Rumah tangga lebih berhati-hati membandingkan harga, memanfaatkan diskon digital, bahkan menunda pembelian apabila dianggap belum mendesak.
Mary Douglas dan Baron Isherwood (1979) menegaskan bahwa konsumsi merupakan cara masyarakat membangun makna sosial melalui benda-benda yang mereka gunakan.
Oleh karena itu, perubahan pola konsumsi bukan sekadar respons terhadap tekanan ekonomi, melainkan juga mencerminkan transformasi budaya dalam memandang kesejahteraan.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, ymbol keberhasilan tidak lagi selalu diwujudkan melalui konsumsi yang tinggi, melainkan melalui kemampuan menjaga stabilitas keuangan keluarga.
Perubahan budaya tersebut diperkuat oleh perkembangan teknologi digital. Kemudahan memperoleh informasi harga membuat konsumen menjadi jauh lebih rasional dibandingkan satu dekade lalu.
Platform perdagangan elektronik memungkinkan masyarakat membandingkan berbagai produk hanya dalam hitungan detik sehingga keputusan konsumsi semakin berbasis efisiensi ekonomi.
Kondisi ini mendorong produsen tidak lagi hanya bersaing pada citra merek, tetapi juga pada kualitas, inovasi, dan harga yang kompetitif.
Dengan demikian, melemahnya konsumsi kelas menengah tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan pendapatan. Fenomena tersebut merupakan hasil interaksi antara perubahan struktur ekonomi, meningkatnya ketidakpastian masa depan, transformasi budaya konsumsi, dan berkembangnya perilaku ekonomi digital.
Inilah tantangan baru yang harus dijawab oleh kebijakan ekonomi Indonesia apabila konsumsi omestic ingin tetap menjadi fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan.
Ketika Konsumsi Kehilangan Daya Ungkit
Perubahan perilaku konsumsi kelas menengah sesungguhnya mencerminkan persoalan yang lebih mendasar, yakni melambatnya transformasi produktivitas ekonomi.
Dalam jangka panjang, tidak ada negara yang mampu mempertahankan pertumbuhan tinggi hanya dengan mengandalkan konsumsi rumah tangga. Konsumsi adalah konsekuensi dari meningkatnya pendapatan, bukan sumber utama yang secara terus-menerus menciptakan pertumbuhan.
Pengalaman negara-negara Asia Timur menunjukkan pola yang relatif sama. Jepang pada dekade 1960–1980, Korea Selatan sejak 1970-an, dan Tiongkok setelah reformasi ekonomi 1978 mampu memperkuat konsumsi domestik karena terlebih dahulu membangun basis produksi, industri manufaktur, inovasi teknologi, serta peningkatan produktivitas tenaga kerja.
Dengan kata lain, permintaan domestik yang kuat lahir dari struktur ekonomi yang produktif, bukan semata-mata dari stimulus konsumsi.
Indonesia menghadapi tantangan berbeda. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan produktivitas berjalan lebih lambat dibandingkan peningkatan kebutuhan hidup masyarakat.
Laporan OECD Economic Survey Indonesia menunjukkan bahwa produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga di Asia, sementara kontribusi sektor berteknologi tinggi terhadap perekonomian masih relatif terbatas (OECD, 2024). Kondisi ini menyebabkan kenaikan pendapatan riil masyarakat berlangsung lebih lambat daripada kenaikan biaya hidup.
Dari perspektif ekonomi bisnis, situasi tersebut menciptakan dilema bagi dunia usaha. Ketika permintaan melemah, perusahaan cenderung menahan ekspansi, mengurangi investasi, atau lebih berhati-hati dalam merekrut tenaga kerja.
Sebaliknya, rumah tangga mengurangi konsumsi karena kesempatan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi juga semakin terbatas. Terbentuklah lingkaran umpan balik (feedback loop) yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi apabila tidak diintervensi melalui kebijakan yang tepat.
Fenomena ini mengingatkan pada teori circular and cumulative causation yang dikemukakan oleh Gunnar Myrdal (1957). Menurut Myrdal, perlambatan ekonomi sering kali berkembang secara kumulatif: permintaan yang melemah menekan produksi, penurunan produksi mengurangi investasi dan kesempatan kerja, sedangkan penurunan kesempatan kerja kembali memperlemah permintaan.
Oleh karena itu, kebijakan ekonomi tidak cukup hanya berfokus pada satu sisi, melainkan harus memperkuat seluruh mata rantai perekonomian secara simultan.
Di sisi lain, perubahan perilaku masyarakat juga dipengaruhi oleh transformasi sosial yang lebih luas. Dalam antropologi ekonomi, keputusan konsumsi selalu dipengaruhi oleh rasa aman terhadap masa depan.
Ketika masyarakat merasa masa depan penuh ketidakpastian—baik akibat perubahan pasar kerja, perkembangan teknologi, maupun dinamika ekonomi global—mereka cenderung meningkatkan tabungan sebagai bentuk perlindungan diri.
James C Scott (1976) menyebut kecenderungan ini sebagai safety first principle, yakni perilaku ekonomi yang mendahulukan keamanan dibandingkan peluang memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Gejala tersebut semakin nyata pada kelompok usia produktif. Banyak rumah tangga kini lebih memilih memperkuat dana darurat, membayar cicilan lebih cepat, atau berinvestasi pada instrumen yang relatif aman dibandingkan meningkatkan konsumsi.
Secara mikro keputusan tersebut rasional, tetapi secara makro dapat mengurangi kecepatan perputaran uang dalam perekonomian sehingga efek pengganda (multiplier effect) konsumsi menjadi lebih kecil.
Studi empiris juga menunjukkan bahwa kualitas pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh distribusi pendapatan. Joseph Stiglitz (2012) menegaskan bahwa ketimpangan yang semakin lebar akan melemahkan permintaan agregat karena sebagian besar pendapatan terkonsentrasi pada kelompok yang memiliki kecenderungan mengonsumsi lebih rendah.
Sebaliknya, rumah tangga berpendapatan menengah dan rendah justru memiliki kecenderungan membelanjakan ebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan demikian, memperkuat kelas menengah bukan hanya agenda sosial, melainkan juga strategi ekonomi untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
BACA JUGA: Konektivitas Internasional Medan dan Peluang Ekonomi Sumatra
Karena itu, tantangan Indonesia bukan sekadar mengembalikan konsumsi ke tingkat sebelum perlambatan, tetapi mentransformasikan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi.
Konsumsi tetap penting sebagai penyangga jangka pendek, namun dalam jangka panjang pertumbuhan harus semakin ditopang oleh peningkatan produktivitas, investasi berkualitas, inovasi teknologi, hilirisasi industri, dan penciptaan lapangan kerja bernilai tambah. Tanpa perubahan struktur tersebut, konsumsi akan terus kehilangan kemampuannya sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi.
====
Penulis Analis, Peneliti, dan Kandidat Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

