| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |
Medanbisnisdaily.com - Medan. Organisasi mahasiswa di Indonesia saat ini sudah melemah, hal itu terlihat sejak zaman reformasi. Sementara, sebelum itu sejumlah organisasi mahasiswa, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), serta organisasi mahasiswa lainnya merupakan motor penggerak dalam mengkritisi setiap kebijakan pemerintah.
Pengamat Sosial Politik dari Universitas Medan Area (UMA), Prof Dr H Arif Nasution MA menilai, penurunan ini disebabkan perubahan tata nilai yang berkaitan dengan orientasi mahasiswa.
"Pikiran mereka bukan lagi untuk menyelamatkan bangsa, tetapi bagaimana menyelamatkan diri sendiri. Tidak lagi seperti dahulu, bahwa pemikiran mahasiswa adalah pemikiran pemerintah," ujar Prof Arif kepada MedanBisnis.com di Medan, Selasa (21/11/2017).
Secara otomatis, lanjutnya, perjuangan-perjuangan bersifat nasionalisme sudah hampir mati. Namun, hal ini juga yang diinginkan pemerintah, sehingga pemudaran jiwa nasionalisme itu semakin menjadi-jadi. Bahkan, ini sudah diajarkan sejak kecil.
"Dari SMA saja, anak-anak sudah dipertontonkan hal-hal yang tidak baik, seperti sogok-menyogok masuk sekolah negeri dan kampus negeri. Yang diajarkan sudah tidak lagi idealisme. Semua sudah pragmatis. Sehingga, anak-anak ini menerapkan di mindsetnya, bahwa pemerintah sebagai pemeras," tegasnya.
Dikatakannya, bisa jadi para mahasiswa yang tergabung di dalam pengkaderisasian sebuah organisasi mahasiswa, malah tidak tahu sejarah organisasi itu sendiri, bahkan siapa yang membentuk. "Mereka hanya numpang nama, bisa tenar, bisa masuk, dapat sesuatu dari sisi materi. Ya, begitulah sekarang pemikiran mahasiswa ini. Semua sudah diukur dari sisi materi. Yang penting selamat, kenyang, berlimpah materi. Nah, apalagi mau memikirkan program organisasi itu," bebernya.
Sebenarnya, kata Prof Arif, setiap organisasi memiliki program, seperti ikut dalam pengabdian masyarakat, menyoroti penyakit masyarakat, seperti judi, Lesbian, Gay, Bisex dan Teansgender (LGBT). Namun ini, tidak lagi terdengar suara mahasiswa. Mereka sudah terkesan, membuat sesuatu sesuai dengan program yang disepakati pemerintah.
"Memang, mereka terhubung ke para senior mereka di pusat, yang notabene menduduki jabatan di pemerintahan, anggota DPR RI, partai dan sebagainya. Yang saya tahu, mahasiswa-mahasiswa ini, takut dengan senior-senior mereka," ungkapnya.
Oleh karena itu, jelasnya, perbaikan dan perubahan dalam mendidik mahasiswa dengan benar itu memang berawal dari kampus itu sendiri, jangan terlalu di tekan ke non-pendidikan. Jangan selalu diarahkan ke proyek.
Ia menambahkan, Di universitas saat ini juga sudah diarahkan mengejar akreditasi, namun marwah dan spirit pengajaran itu sendiri yang mengajarkan secara faktual kekuatan nasionalisme, kebersamaan serta idealisme tidak pernah ada. Hal ini tentunya berpengaruh kepada sistem pendidikan.
"Yang dilihat hanya dari sisi S2,S3, kualifikasi dosen, uang sertifikasi, uang penelitian dan sebagainya. Pemerintah juga sudah menanamkan siapa saja boleh masuk ke negara ini. Siapa saja boleh mencuri kekayaan di negara ini. Apalagi, dalam hal pelemahan pemuda, melalui narkoba. Ini yang harus benar-benar diwaspadai," tukasnya.

