| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

DI BALIK gelar doktor cumlaude yang kini ia sandang, Dr Minggu Saragih menyimpan perjalanan hidup panjang yang penuh luka, kerja keras, dan pergumulan iman. Sebuah perjalanan yang ia sendiri rangkum dalam keyakinan sederhana namun dalam: semua bukan karena kekuatan manusia, melainkan karena kuasa dan kehendak Tuhan.
“Semua hanya karena kuasa, berkat, perlindungan, dan kehendak Tuhan. Bukan karena kekuatan, kepintaran, atau kerja keras saya semata. Semua terjadi karena izin dan rencana Tuhan dalam hidup saya,” ujarnya.
Lahir di Desa Sederhana, Tumbuh dalam Kehilangan
Minggu Saragih lahir di Desa Damak Galugur, Kecamatan Silinda, Kabupaten Serdang Bedagai (dahulu Deli Serdang), pada 28 Oktober 1979. Ia merupakan putra dari pasangan Aken Saragih dan Asma br Sipayung.
Namun kehidupan tidak memberinya waktu lama untuk merasakan lengkapnya kasih sayang ibu. Saat ia baru satu bulan duduk di bangku sekolah dasar, sang ibu meninggal dunia pada Agustus 1986. Ayahnya kemudian menyusul berpulang pada 20 Juli 2014.
Sejak kecil, ia tumbuh dalam keterbatasan ekonomi. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani yang menggantungkan hidup dari ladang dan kebun milik warga, bahkan sering merantau demi menghidupi keluarga.
Masa Kecil yang Tidak Pernah Mudah
Kehilangan ibu di usia sangat muda membuatnya harus belajar hidup mandiri lebih cepat dari anak-anak seusianya. Didikan keras sang ayah membentuknya menjadi pribadi yang tahan banting.
Meski serba kekurangan, semangat untuk sekolah tidak pernah padam. Ia justru tumbuh dengan tekad kuat untuk mengubah keadaan hidup melalui pendidikan.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah terbiasa membantu pekerjaan demi biaya sekolah bersama kakaknya.
Pendidikan dasar ia tempuh di SD Negeri 105387 Tapak Mariah dari tahun 1986 hingga 1993. Namun perjalanan itu tidak mulus. Ia pernah tidak bersekolah selama satu tahun karena keterbatasan biaya.
Ia kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 2 Bangun Purba (1993–1996). Ia tinggal menumpang di sekitar sekolah karena tidak mampu bolak-balik dari kampung.
Pulang sekolah bukan waktu istirahat, tetapi waktu bekerja: mencuci piring, menyapu, mengepel, hingga membantu di kebun karet. Semua itu ia jalani demi satu tujuan: tetap bisa bersekolah.
“Kalau tidak bekerja, tidak bisa sekolah,” begitu sederhana logika hidup yang ia jalani kala itu.
Pada tahun 1996, atas dorongan sang kakak yang telah bekerja di sebuah pabrik kacamata di Tanjung Morawa, Minggu Saragih mengikuti seleksi masuk SMK Negeri 2 Medan (dahulu STM Negeri 1 Medan). Ia berhasil lulus seleksi dan menempuh pendidikan di sekolah tersebut hingga tahun 1999.
Masa sekolah di SMK bertepatan dengan krisis moneter dan era reformasi yang menyebabkan kondisi ekonomi semakin sulit. Saat itu, ia dihadapkan pada dua pilihan: pulang ke kampung karena tidak memiliki biaya atau tetap bertahan di Medan dengan bekerja keras.
Ia memilih bertahan dan mencari nafkah dengan menarik becak dayung untuk membiayai pendidikan sekaligus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari hingga akhirnya berhasil menyelesaikan sekolah.
Selama menempuh pendidikan SD, SMP, dan SMK, ia selalu masuk dalam peringkat tiga besar di sekolah. Prestasi tersebut membuatnya sempat mendapat kesempatan mengikuti seleksi kerja di sebuah perusahaan di Kawasan Industri Medan pada Juli 1999. Seluruh tahapan seleksi berhasil dilalui hingga tahap akhir, namun Tuhan memiliki rencana lain sehingga kesempatan tersebut tidak terwujud.
Pada September 1999, atas saran kakaknya, ia melamar pekerjaan di sebuah perusahaan pabrik kacamata di Tanjung Morawa. Pada 4 Oktober 1999, ia resmi diterima bekerja dengan gaji sekitar Rp 210.000 per bulan.
Dua bulan setelah bekerja, ia bersama ribuan pekerja lainnya melakukan perjuangan menuntut perbaikan kesejahteraan dan pemenuhan hak-hak normatif pekerja.
Gerakan tersebut membuahkan hasil dan melahirkan organisasi serikat buruh di perusahaan. Setelah ketua sebelumnya mengundurkan diri, Minggu Saragih dipercaya memimpin organisasi tersebut.
Karier organisasi dan perjuangannya di dunia ketenagakerjaan terus berkembang. Ia pernah menjabat sebagai:
* Pimpinan Basis Serikat Buruh Anggota Sejahtera PT Dutamulti Intioptic Pratama (2000–2001).
* Bendahara Umum Presidium BPP Serikat Buruh Medan Independen (2001–2004).
* Ketua BPP Serikat Buruh Medan Independen (2004–2007).
* Ketua Umum DPP Serikat Buruh Merdeka Indonesia (2007–2009).
* Ketua DPW Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Sumatera Utara (2011–2015).
* Koordinator/Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Sumatera Utara.
Dalam perjalanannya sebagai aktivis buruh, ia turut memperjuangkan lahirnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS, kenaikan upah minimum setiap tahun, penetapan Hari Buruh sebagai hari libur nasional, serta berbagai hak pekerja lainnya baik di tingkat daerah maupun nasional.
Pada Mei 2013, ia mewakili serikat pekerja Indonesia dalam kegiatan International Trade Union Center Asia Pasifik di Hong Kong. Selanjutnya pada Desember 2014, ia kembali dipercaya mewakili Indonesia dalam pertemuan dan pendidikan internasional serikat pekerja di Brussels, Belgia.
Dalam kehidupan keluarga, Minggu Saragih menikah pada tahun 2003 dan dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dengan bekerja di berbagai bidang, termasuk sebagai agen asuransi jiwa dan membantu perdagangan di pasar.
Setelah meninggalkan pekerjaannya di pabrik pada tahun 2008, ia melanjutkan pendidikan tinggi di sekolah tinggi ilmu hukum (STIH) di Medan pada 2009 hingga 2013.
Selain aktif di organisasi pekerja, ia juga berkarier di bidang pemasaran properti. Pada tahun 2010–2011 ia bekerja sebagai marketing property di salah satu peusahaan, dan pada tahun 2011–2012 menjabat sebagai supervisor di perusaahan properti lainnya.
Pada Pemilu 2014, ia mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dari Daerah Pemilihan Sumut III melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan). Namun, Tuhan berkehendak lain sehingga ia belum memperoleh amanah tersebut.
Titik Awal Perjalanan Karier Hukumnya
Awal tahun 2015 menjadi titik awal perjalanan baru dalam karier hukumnya. Ia mengikuti seleksi Hakim Ad Hoc Pengadilan Hubungan Industrial dan pada 14 Maret 2016 resmi dilantik sebagai Hakim Ad Hoc Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Medan.
Namun perjalanan hidup tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 2024 ia menghadapi persoalan yang berujung pada pemeriksaan etik. Melalui putusan Majelis Kehormatan Hakim pada Mei 2025, ia diberhentikan karena dinyatakan melanggar kode etik, dan pada Agustus 2025 menerima surat keputusan pemberhentian sebagai Hakim Ad Hoc Pengadilan Hubungan Industrial.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu masa paling berat dalam kehidupannya. Karier yang dibangun selama bertahun-tahun seolah runtuh dalam sekejap. Namun di tengah keterpurukan, ia memilih berserah kepada Tuhan, memperkuat doa, dan terus mengucap syukur.
Dengan keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya, ia bangkit kembali. Pada Juli 2024 ia mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA), kemudian lulus dan memperoleh status Advokat pada Februari 2025 serta resmi disumpah pada Oktober 2025.
Sejak saat itu, ia mengabdikan diri sebagai Advokat dan Konsultan Hukum. Tuhan kembali membuka jalan baginya untuk melanjutkan pendidikan doktoral yang sempat tertunda.
Pada 3 Maret 2026 ia menjalani sidang tertutup Program Doktor Ilmu Hukum, kemudian mengikuti Sidang Terbuka Promosi Doktor pada 16 Maret 2026.
Dalam sidang tersebut, ia dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dan memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,93.
Saat ini, Dr Minggu Saragih menjalankan praktik hukum melalui MS & Rekan – Advokat dan Konsultan Hukum di Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang.
Selain itu, ia juga menjadi Managing Partner Law Office MRR & Rekan – Advokat dan Konsultan Hukum di Medan. Di bidang akademik, sejak Maret 2023 hingga sekarang, ia mengabdikan diri sebagai Dosen Tetap Fakultas Hukum Universitas Prima Indonesia (UNPRI) Medan.
Minggu Saragih juga aktif sebagai pengurus pada Departemen Hubungan Industrial dan Ketenagakerjaan Asosiasi Profesor Doktor Hukum Indonesia Wilayah Sumatera.
Perjalanan hidup Dr Minggu Saragih merupakan kisah tentang perjuangan, ketekunan, pengabdian, dan iman. Dari seorang anak desa yang hidup dalam kemiskinan, kehilangan ibu sejak kecil, bekerja sejak usia dini, menarik becak demi sekolah, menjadi aktivis buruh, hakim, advokat, dosen, hingga meraih gelar doktor, semuanya diyakininya sebagai bagian dari rencana Tuhan yang indah pada waktunya.
"Semua hanya karena kuasa dan kemurahan Tuhan. Bagi Dialah segala kemuliaan," tutup Minggu Saragih.

