| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com - Medan. Kebiasaan berkumpul memang menjadi hal yang langka di awal pandemi Covid-19. Penerapan protokol kesehatan (prokes) 3M yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak tak bisa ditawar. Lalu ketika masuk masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), berkumpul juga paling dihindari masyarakat. Pasalnya, kumpul-kumpul berarti tidak menjaga jarak dan itu artinya risiko tertular Covid-19 makin tinggi.
Sayangnya, hal langka itu sekarang sudah berubah menjadi pemandangan biasa. Akan sangat mudah menemukan orang berkumpul terutama di tempat usaha yang sifatnya dikunjungi masyarakat umum. Salah satunya restoran. Jaga jarak yang selalu ditekankan untuk meminimalisir penyebaran virus Corona kadang sudah diabaikan. Padahal, tanpa sadar, kita sebenarnya sedang bertaruh nyawa.
Jika melongok ke tahun-tahun sebelum pandemi, restoran memang menjadi pilihan utama ketika ingin kumpul-kumpul atau bertemu teman, keluarga bahkan kolega. Restoran juga dianggap tempat yang paling pas untuk berbincang serius atau pun sekadar ngobrol santai. Juga bisa 'membunuh' waktu. Dan tentu saja, tujuan utama yakni berburu makanan kesukaan.
Jadi tidak heran jika pengunjung restoran bisa menghabiskan waktu lebih dari dua jam di tempat tersebut. Bahkan lebih. Namun di tengah kondisi kasus positif Covid-19 yang masih tinggi, apakah ke restoran tidak terlalu berisiko? Bayangkan berada di restoran selama dua jam atau lebih. Itu artinya, waktu untuk melepaskan masker juga akan cukup banyak dan pengunjung lain juga melalukannya di saat bersamaan.
Restoran memang selalu ditakutkan menjadi klaster penyebaran Covid-19. Ini tentu menjadikan restoran cukup dilematis dan masuk ke masa yang cukup menantang. Dinilai sebagai tujuan wisata singkat atau short escape, restoran pun terus berupaya untuk menyosialisasikan sekaligus menerapkan prokes secara ketat. Apalagi usai Lebaran kasus positif kembali tinggi dan hal itu ditengarai dipicu oleh kumpul-kumpul yang dilakukan masyarakat dalam rangka silaturahmi Lebaran dan keramaian yang terjadi di tempat-tempat usaha yang dikunjungi masyarakat umum, salah satunya restoran.
Lalu apa kata pengunjung restoran? Tidak takut tertular Covid-19? Tidak berpikir bagaimana kalau menjadi carrier bagi keluarga dan teman? Indah, salah satu pengunjung restoran cepat saji yang ditemui Medanbisnisdaily.com di Plaza Medan Fair, Jumat (28/5/2021), mengaku sebenarnya cukup was-was juga setiap berada di restoran.
"Takut pasti. Apakah aman, atau akan tertular Corona. Pikiran-pikiran semacam itu pasti ada. Tapi saya rindu kumpul-kumpul dengan teman. Dan memang jadi agak lupa waktu juga karena asyik ngobrol," tuturnya.
Begitupun, karyawan di sebuah perusahaan swasta itu mengatakan tetap berusaha untuk tidak melepaskan masker kecuali saat makan. Meski diakuinya kadang bisa lalai juga, termasuk teman-temannya. Dan pengelola restoran pun tidak terlalu ketat lagi terkait hal itu.
Indah menuturkan, sebenarnya cukup dilema juga saat berkunjung ke restoran terutama yang berlokasi di pusat perbelanjaan atau mal. Karena pasti tidak ada yang outdoor. Berbeda jika restoran-nya di luar. Pasti ada pilihan lokasi-nya. "Paling penting memang disiplin. Saya bawa hand sanitizer juga. Sebisa mungkin sering-sering cuci tangan. Meski harus saya akui kadang lalai, tapi tetap berupaya menerapkan prokes," katanya.
Senada dengan Indah, pengunjung restoran lainnya Juan mengaku datang untuk menikmati makanan kesukaannya. Ditemui di salah satu restoran di kawasan Ring Road, pria paruh baya itu tampak datang bersama keluarga. "Kami ini hanya makan saja. Siap itu langsung pulang. Takut juga lama-lama. Apalagi lumayan ramai kan," katanya.
Ditanya kenapa tidak dibungkus saja dan makan di rumah, diakui Juan, rasanya tidak senikmat makan di tempat. Begitupun, dikatakannya, mereka tetap patuh prokes dan suhu tubuhnya juga di-cek. Selama berada di restoran pun, tetap disiplin menjalankan prokes.
Menurut pengamat kesehatan yang juga Dosen Fakultas Kedokteran UISU, dr. Umar Zein, jika ingin mengetahui apakah restoran menjadi klaster penyebaran Covid-19 sebenarnya tidak bisa hanya diduga-duga. Harus ada suveilen epidemiologi yang dilakukan kampus. "Sayangnya kepedulian kampus di Sumut belum nampak. Belum ada yang melakukan penelitian terkait hal ini. Meski secara umum, restoran itu tetap berisiko tinggi karena tempat yang dikunjungi masyarakat umum. Karena dimanapun tempat yang bersifat ramai, pasti potensi tertular akan tinggi," katanya.
Karena itu, harus prokes ketat dan perlu pengawasan terpadu oleh masyarakat. Apalagi pelaksanaan prokes di restoran itu tidak tegas dan diskriminatif. Hal-hal seperti ini sebenarnya yang harus dihindari karena 'lubang' penyebaran virus Covid-19 semakin lebar.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumut, Deni S Wardhana, menyebutkan, jika restoran-restoran terutama yang berskala besar sudah mengantongi sertifikasi Clean, Health, Safety & Environment (CHSE) atau Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan.
Sertifikasi CHSE sendiri meliputi upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19 di tempat dan fasilitas umum dengan memperhatikan aspek perlindungan kesehatan individu dan titik kritis dalam perlindungan kesehatan masyarakat yang melibatkan pengelola, penyelenggara, atau penanggung jawab tempat dan fasilitas umum.
"Jadi dengan adanya sertifikasi CHSE, menjadi jaminan kepada pengunjung bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan," katanya.
Meski tidak memiliki data pasti berapa restoran di Sumut yang mengantongi CHSE, tapi dipastikan jika restoran-restoran tetap beroperasi sesuai dengan prokes Covid-19 yang ditetapkan. Begitupun, tak bisa dipumgkiri jika ada yang lalu. Hal itu, papar Deni, kembali ke manajemen restoran itu sendiri. Seperti misalnya abai prokes atau kapastitas melebihi 50%.
"Memang paling utama saat ini kesadaran untuk sama-sama menerapkan prokes. Jika hanya satu-dua atau sebelah pihak saja, risikonya akan tetap tinggi dan kasus positif pun akan terus bertambah. Karenanya, harus sama-sama disiplin menjalankan prokes," imbuh Deni.

