| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

KONFISIUS, seorang filsuf dari Tiongkok pernah berkata, “Pendidikan melahirkan kepercayaan. Kepercayaan melahirkan harapan. Harapan melahirkan kedamaian”.
Kata-kata bijak ini menggambarkan pentingnya membangun dasar yang kuat bagi anak-anak melalui pendidikan yang holistik. Salah satu elemen kunci untuk mendukung proses belajar adalah pemenuhan kebutuhan dasar seperti asupan gizi.
Dengan memastikan anak-anak mendapatkan makanan bergizi, kita tidak hanya menciptakan generasi yang sehat, tetapi juga membangun masa depan bangsa yang lebih cerah.
Program pemberian makanan bergizi gratis kepada anak sekolah kini menjadi sorotan utama setelah terpilihnya Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Program yang diusung selama masa kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan status gizi anak-anak Indonesia, mengurangi angka stunting, dan mendukung perkembangan pendidikan nasional.
Janji ambisius ini diharapkan mampu membawa perubahan besar dalam membentuk generasi muda yang sehat, cerdas, dan kompetitif di tingkat global.
Dasar hukum pelaksanaan program ini adalah Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2024 tentang Program Makanan Bergizi Gratis untuk Anak Sekolah.
Peraturan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk menjamin pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak Indonesia sebagai bagian dari upaya menciptakan sumber daya manusia unggul yang siap bersaing di era global.
Perpres ini juga mengatur mekanisme pelaksanaan, sumber pendanaan, serta tanggung jawab lintas sektor dalam menjalankan program
tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, Badan Gizi Nasional (BGN) telah berupaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat melalui berbagai program.
Namun, pemberian makanan bergizi gratis di sekolah menawarkan pendekatan yang lebih langsung dan terintegrasi dengan sistem pendidikan.
Langkah ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk masalah kekurangan gizi yang masih dialami oleh sekitar 25% anak-anak di Indonesia.
Selama kampanye pemilu, Prabowo Subianto menekankan pentingnya program ini dalam menciptakan sumber daya manusia berkualitas. Dalam salah satu pidatonya, ia menyatakan bahwa makanan bergizi gratis tidak hanya akan meningkatkan kesehatan anak-anak tetapi juga kemampuan belajar mereka.
Selain itu, program ini dapat mendorong perputaran ekonomi di daerah pedesaan, karena bahan pangan yang digunakan akan berasal dari petani lokal. "Kita tidak hanya memberi makan anak-anak kita, tetapi juga menghidupkan ekonomi desa," ujarnya.
Program ini sebenarnya bukan konsep baru. Beberapa negara telah berhasil menjalankan inisiatif serupa dengan hasil yang menginspirasi. Di Brasil, program makanan gratis di sekolah telah berjalan sejak 1940-an.
Saat ini, lebih dari 40 juta anak menerima makanan gratis setiap hari. Program ini tidak hanya memastikan asupan gizi anak-anak tetapi juga mendukung petani lokal, karena setidaknya 30% bahan pangan yang digunakan berasal dari peternakan keluarga.
Keberhasilan Brasil menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang baik, program semacam ini dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Contoh lain adalah Finlandia, yang sejak 1948 menyediakan makanan gratis untuk semua siswa dari
jenjang pra-sekolah hingga pendidikan menengah atas. Makanan yang disajikan dirancang untuk
memenuhi standar gizi yang ketat, mencakup sayuran, ikan, roti, dan daging. Hasilnya, Finlandia
tidak hanya dikenal sebagai salah satu negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia tetapi juga
sebagai negara dengan tingkat kesehatan anak yang tinggi.
Namun, melaksanakan program ini di Indonesia tentu memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam hal anggaran. Pemerintah memperkirakan bahwa untuk melaksanakan program ini secara penuh, dibutuhkan dana sekitar Rp 460 triliun.
Untuk tahap awal, pada tahun 2025, pemerintah telah mengalokasikan Rp 71 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dana ini akan digunakan untuk meluncurkan program secara bertahap, dimulai dari daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan dan stunting tertinggi.
BACA JUGA: Kenaikan PPN 12%: Implikasi dan Dampaknya Bagi APBN dan Ekonomi
Selain dampak pada anggaran negara, program ini juga diharapkan membawa dampak langsung yang signifikan bagi anak-anak penerima manfaat.
Asupan gizi yang cukup akan mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak, meningkatkan konsentrasi, serta memperbaiki prestasi akademik.
Lebih dari itu, program ini dapat mendorong peningkatan kehadiran siswa di sekolah, terutama di daerah-daerah miskin, di mana makanan gratis bisa menjadi motivasi tambahan bagi orang tua untuk mengirim anak-anak mereka ke sekolah.
Dalam konteks ini, pandangan Ibnu Sina tentang pendidikan memberikan perspektif yang relevan. Ibnu Sina, seorang filsuf dan ilmuwan terkemuka Islam, menekankan pentingnya pendidikan sebagai sarana untuk membangun kemampuan intelektual dan karakter seseorang.
Ia percaya bahwa pendidikan harus mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, seperti kesehatan dan gizi, agar anak-anak dapat berkembang secara optimal.
Menurut Ibnu Sina, tubuh yang sehat adalah fondasi bagi pikiran yang sehat, sehingga perhatian terhadap gizi anak merupakan langkah krusial dalam mendukung proses pembelajaran.
Program pemberian makanan bergizi gratis di sekolah juga sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, di mana Indonesia menargetkan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia dengan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
Meningkatkan gizi anak-anak sejak dini adalah investasi jangka panjang yang akan membantu menciptakan generasi penerus yang sehat, cerdas, dan produktif. Program ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga tentang membangun fondasi untuk masa depan bangsa.
Program pemberian makanan bergizi gratis di sekolah memang memerlukan investasi besar, tetapi dampak positifnya tidak ternilai. Selain meningkatkan kualitas hidup anak-anak, program ini juga memperkuat ekonomi lokal, mendorong partisipasi sekolah, dan mendukung pembangunan manusia secara menyeluruh.
Dengan belajar dari pengalaman negara lain dan menerapkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi Indonesia, program ini memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu warisan terbaik pemerintahan Prabowo-Gibran.
Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada perencanaan yang matang, pelaksanaan yang efektif, dan dukungan dari semua pihak, termasuk masyarakat, pemerintah daerah, dan sektor swasta.
Jika semua elemen dapat bekerja sama, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi contoh baru dalam pengelolaan program pemberian makanan bergizi di sekolah. Masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak Indonesia ada di depan mata.
====
Penulis ASN Direktorat Jenderal Pajak, Dosen di IAIN Langsa, UIN Ar-Raniry dan Pengajar Balai Diklat Keuangan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email dengan subjek: OPINI. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

