| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SEBAGAI seorang penikmat film dan karya seni Indonesia, saya ingin menyampaikan tanggapan saya tentang banyaknya series Indonesia yang terlalu vulgar dan sangat mengecewakan belakangan ini.
Entah apa yang terjadi, series atau film dengan beberapa episode, seperti Open BO, Open BO lagi, Turn On, Bestie, Layangan Putus, Kawin Tangan, Kupu Malam dan lain sebagainya mulai menambah panjangnya gerbong series dengan vulgarisme, yang menyajikan adegan seks sebagai menu utama di dalam film tersebut.
Keberadaan film-film ini menambah kekhawatiran saya soal semakin rusaknya moral bangsa. Relasi pranikah (pacaran) yang terlalu jauh, suami-istri yang terjangkit HIV, hingga meningkatnya penyakit menular seksual di sejumlah kota belakangan ini.
Lokasi-lokasi persebaran dari penjual jasa seksual ini pun mulai menyebar didukung sejumlah medsos seperti; michat, facebook, Instagram dan twitter. Sehingga mengakibatkan persebarannya memencar dan sangat sulit terdeteksi.
Harus saya akui bahwa saya tidak menonton series-series yang telah disebutkan sebelumnya, namun saya telah menyaksikan cuplikan-cuplikan film dari sejumlah series sebelumnya.
Sungguh sangat vulgar. Kisah tentang pencarian jati diri, balas dendam, pemuasan hasrat dan pemaknaan akan cinta kasih yang seakan baru menjadi nyata jika telah berlangsung lewat adegan dewasa seperti yang ditawarkan di dalam film.
Dugaan saya, ini bukan hanya soal series, namun termasuk juga bacaan di wattpad dan drama-drama Asia telah terlebih dahulu memuat konten serupa, sehingga menambah kalkulasi tim riset dan produser film untuk memuluskan niat membuat film-film demikian.
Beberapa pertimbangan dari para pembuat film tentu saja karena penikmat film dengan konten demikian terbilang sangat banyak dan berbiaya murah (low budget).
Ada lagi sineas film berdalih karena budaya Indonesia sangat dekat dengan unsur demikian. Sejumlah alasan sebelumnya tentu saja sangat tidak masuk akal, egosektoral serta bersifat kapitalistik.
Hanya karena alasan keuntungan semata, produser film rela mempertontonkan vulgarisme, tujuannya tentu saja demi mempersuasi hasrat masyarakat untuk menyaksikan film tersebut.
Akibatnya, unsur kebermanfaatan menjadi kabur serta ditempatkannya keintiman pada titik terrendah di dalam hubungan interpersonal. Sederhananya, masyarakat menjadi gagal di dalam memahami keindahan dari keintiman yang sebenarnya.
Menganggap puncak dari keintiman baru menjadi nyata lewat hubungan seksual, kontak fisik, ciuman dan lain sebagainya bahkan sebelum pernikahan berlangsung.
Itu sebabnya, tidak mengherankan jika kasus HIV terus mengalami peningkatan di Indonesia. Posisi pertama di daerah; DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Bali, Papua, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, Banten dan Kepulauan Riau (CNN, Desember 2024).
Jika konten-konten film seperti sebelumya terus menyebar, ditambah minimnya edukasi kepada generasi muda soal hubungan yang sehat, penyuluhan soal pentingnya menunda kesenangan dan pengelolaan hasrat, maka bukan tidak mungkin kerusakan moral ini akan semakin parah dan merusak generasi muda bangsa.
Sebagai respon saya atas persoalan sebelumnya, di bagian pertengahan dari tulisan ini, izinkan saya mengulas sejenak soal pentingnya memaknai keintiman secara benar sebelum akhirnya saya memberikan rekomendasi terhadap ide-ide produksi film dan juga saran kepada para penikmat film tanah air.
Memahami Keintiman
Di dalam diri setiap manusia khususnya terkait hubungan interpersonal (antar sesama) terdapat dua keinginan dasar, di antaranya keinginan untuk dikenali dan keinginan untuk mengenali.
Kedua keinginan ini saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Kita ingin mengenal sebagai tanda sumbangsih kita terhadap orang lain, sekaligus kita ingin dikenali sebagai wujud dari pemenuhan keinginan sebagai seseorang yang berarti/bermakna bagi orang lain.
Relasi yang sehat tentu dibangun lewat pengenalan yang tidak sebentar. Pasalnya, manusia sangatlah kompleks. Lagipula, dibutuhkan kedewasaan di dalam memahami orang lain.
Sehingga tindakan atau perilaku tidak impulsif (spontan), melainkan dengan kedewasaan kita dapat secara bertanggung jawab menunjukkan diri sekaligus secara bertanggung jawab pula menghargai keberadaan serta keunikan orang lain khususnya lawan jenis.
Itu sebabnya, banyak penelitian menunjukkan bahwa anak SMP atau SMA menurut para ahli sangat dianjurkan untuk tidak pacaran. Lantaran, sangat merusak secara emosi bagi kebanyakan kasus serta menurunkan tingkat produktivitas. Ketidak matangan emosi pada usia sebelumnya membuat relasi romantis menjadi destruktif daripada produktif.
Lalu kemudian, pacaran tentulah merupakan tahap pengenalan awal menuju jenjang pernikahan. Sayangnya, kini motif pacaran mulai berubah arah dengan menjadikan pacar seakan suami ataupun menjadikan pacar seakan istrinya. Sekalipun kedekatan afeksi itu ada, bukan berarti batasan dihilangkan di dalam relasi pacaran ini. Justru batasan harus diperkuat di dalam relasi pacaran.
Batasan di dalam relasi romantis tentu sangat menyehatkan. Misalnya, lewat kesepakatan bersama untuk sama-sama menjaga kesehatan emosi dari kedua belah pihak.
Atau, sama-sama membuat kesepakatan untuk saling menghormati kenyamanan dari kedua belah pihak. Sekaligus memperbincangkan kelemahan dan kerentanan masing-masing pihak, dengan solusi jangka pendek, menengah atau jangka panjang.
Tentu, tidak hanya soal pacaran! Relasi pernikahan juga perlu memuat kesepakatan bersama, untuk menghindari perilaku menyimpang (jajan sembarangan) dan solusi yang harus diambil di dalam mengatasi masalah seksual (adiksi) yang sedang dihadapi seperti terapi atau konseling.
Contoh dari pernyataan sebelumnya kira-kira begini; di dalam relasi pacaran, jika mengutip konsep dari buku-buku Dale Carnegie dan David Lieberman, mereka tentu setuju untuk membuat batasan-batasan tertentu yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Menurut Marshall Segal, ada baiknya jika orang tua mengetahui keadaan hubungan pacaran ini, sekaligus pihak yang bersangkutan (pihak yang pacaran) mengetahui kerinduan dari orang tua (terutama yang dewasa rohani) mereka atas hubungan yang baru saja mereka lakukan.
Khusus soal suami-istri, mengenai kecenderungan atau kelemahan tertentu, tentu ada baiknya jika pasangan suami istri saling terbuka dan berbincang secara leluasa, saling menghormati dan bertutur kata lembut.
Membahas soal kecenderungan, ketertarikan atau kelemahan tertentu. Di dalam konsep psikologi, ada dikenal dengan life-trap test. Dari sini kita dapat mengetahui kebutuhan utama pasangan kita, entah itu dukungan emosi, pemenuhan hak, pendampingan, penghormatan, rasa percaya dan lain sebagainya.
Sehingga, kita dapat mengenali kerinduan mendasar dari masing-masing pasangan. Mungkin ada baiknya jika sepasang suami istri dapat mengenali pasangannya lewat life-trap test ini. Atau jika perlu dapat dilakukan konseling kepada ahli/psikolog.
Dari sejumlah pembahasan terakhir, tentu dapat dipahami bahwa, keintiman tentu saja bukan sesederhana soal hubungan seksual. Bukan! Melainkan soal pengenalan sekaligus penerimaan secara mendalam dari isi hati. Inilah keinginan terdalam manusia itu.
Sialnya, kita sering tertipu dengan menganggap keintiman fisik sebagai puncak dari keintiman. Tentu Tidak! Manusia boleh mempertontonkan fisiknya secara vulgar, namun hatinya masih tertutup dan terkunci rapat. Tidak ada keintiman di dalam relasi seksual itu. Ironis!
Banyak orang mengira! Khususnya para lelaki kebanyakan mengira bahwa keintiman terlihat lewat keterhubungan jasmani atau keterbukaan fisik. Padahal tidak sama sekali.
Dari data yang ditunjukkan David Lieberman di dalam tulisan-tulisannya, mengatakan bahwa banyak PSK (Pekerja Seks Komersial) merupakan wanita-wanita yang terluka secara afeksi/emosi. Mereka pernah dilecehkan sebelumnya namun masih menyimpan luka-luka itu.
Bayangkan! Bagaimana perasaan para lelaki jika mengetahui bahwa wanita yang ditidurinya itu (PSK) adalah wanita yang kelihatan tersenyum mesra, namun hatinya luka parah, berdarah-darah dan sangat kesakitan serta tersiksa.
Saya rasa, laki-laki yang sehat jasmani dan rohaninya akan merasakan penderitaan yang sama. Libidonya akan turun drastis, berubah menjadi rasa empati dan belas kasih.
Lantas, untuk menghindari kejatuhan moral yang demikian, marilah menjadi sepasang suami dan istri yang belajar untuk terbuka akan kelemahan, kerentanan dan pergumulannya masing-masing.
Saling mendukung untuk mengatasi masalah dan saling menghormati. Belajar membangun cinta dari hari ke-hari. Alih-alih frustrasi, mari melihat keunikan komunikasi dengan istri dengan belajar memahaminya dari hari ke-hari.
Membuatnya merasakan kasih yang selalu segar, baru dan konsisten setiap harinya. Pun begitu dengan istri juga perlu bangga terhadap suami. Mendukungnya serta menghormatinya setiap saat.
Memang benar kata pujangga, bahwa memahami wanita adalah pelajaran yang tiada habisnya. Itu sebabnya, jadilah suami yang merayakan kemesraan itu dengan penuh kasih yang kudus. Karena, dengan melibatkan Tuhan di dalam relasi itu, maka makna dari hubungan kasih akan menjadi pengalaman yang sangat menggembirakan dan penuh pengharapan.
BACA JUGA: Kepastian dan Ketidakpastian
Pun begitu dengan wanita yang menyampaikan harapannya kepada suami. Menyampaikannya haruslah lewat dukungan, semangat dan keceriaan. Saya rasa, para Bapak akan luluh dengan semangat yang tiada habisnya yang ditunjukkan oleh para istri/ibu. Dikurangi ngomelnya Buk hahahahha…. Diganti menjadi ayo! Semangat Pak! Semangat! Aku percaya dan bangga sama Bapak! Begitu kira-kira hehehehe…
Sekali lagi, ya begitulah keintiman yang sesungguhnya. Ada penerimaan yang tulus. Penghormatan atas kerja keras. Penerimaan atas kekurangan pasangan, sekaligus menghormati batasan-batasan yang dimiliki.
Serta tetap mendukung dikala susah dan duka sekaligus merayakan kegembiraan bersama. Inilah wujud dari keintiman itu. Keterbukaan hati yang lebih dalam dan lebih berharga ketimbang keterbukaan jasmani yang dijajakan pekerja komersial atau yang dipertontonkan di film film.
Sebagai rekomendasi untuk film-film Indonesia; Marilah tidak hanya sekadar meraup cuan dengan melontarkan konten-konten vulgar! Agaknya jauh lebih berharga jika film-film Indonesia juga mendukung soal kesehatan afeksi, kedewasaan/kematangan bersikap, serta memuat nilai nilai penghormatan/perjuangan di dalam hubungan interpersonal. Entah itu di masa pacaran ataupun pernikahan atau bahkan keteladanan romantis para pendiri bangsa. Belum banyak warga Indonesia yang mengetahui hal demikian.
Agaknya, keutamaan sebelumnya menjadi suatu pembelajaran yang jauh lebih berharga untuk masyarakat Indonesia, ketimbang sekadar sensasi belaka yang disaksikan untuk hanya sekadar memuaskan syahwat semata. Patut untuk dinanti.
Film-film yang hanya memuaskan hasrat semata, sebenarnya sangat tidak baik untuk kesehatan afeksi sekaligus kehidupan para penikmatnya. Mari menjadi penonton cerdas! Semoga.
====
Penulis alumnus Magister Ilmu Politik FISIP USU, seorang pendidik yang gemar belajar sejarah, filsafat, politik dan theologi
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email dengan nama subjek: OPINI. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

