| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

PERTAMA-tama saya ingin menyampaikan suatu argumentasi yang sering kali muncul di dalam keseharian. Argumentasi tentang ketidakpastian.
Pernyataannya begini: “Cuma satu hal yang pasti, yakni ketidakpastian (perubahan)”. Cukup banyak orang yang menyetujui pernyataan demikian. Namun, sebaliknya, saya tidak setuju dengan pernyataan ini.
Argumentasi saya begini. Di dalam keseharian, setiap orang menginginkan kepastian. Entah itu jaminan masa tua, tabungan untuk dana pensiun, anak-anak tumbuh sehat, pekerjaan lancar, memiliki waktu liburan dan seterusnya, dan seterusnya.
Menariknya, akibat mobilitas kehidupan dengan segala dinamikanya, maka kehidupan sering kali disusupi ketidakpastian. Entah keluarga sakit, dinamika pekerjaan fluktuatif, belum lagi dampak sosial-politik yang seringkali merugikan dunia usaha, masalah lingkungan, konflik, mikro organisme, virus dan penyakit.
Seluruhnya membuat ruang dan waktu mengalami masa ketidakpastian. Akhirnya, mayoritas masyarakat menyimpulkan bahwa hanya satu hal yang pasti, yakni ketidakpastian.
Argumentasi sebelumnya, sebenarnya memunculkan paradoks baru. Jikalau memang kehidupan dipenuhi ketidakpastian, lantas, mengapa pada akhirnya di dalam ketidakpastian manusia justru mencari serta membutuhkan kepastian? Bukankan ketidakpastian itu yang ada? Atau jangan-jangan kepastian itulah yang sebenarnya ada?
Keadaan inilah yang sebenarnya dikritik Karl Marx, saat dirinya menyatakan bahwa manusia menjadikan agama sebagai candu. Ruang mencari kepastian di tengah-tengah konflik materi antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin. Bagi Marx, materi itu yang pasti. Persaingan antar kelas yang terjadi.
Kembali lagi, menyangkut hal ini, saya tidak setuju dengan pandangan Marx, lantaran hampir sama dengan argumentasi di awal bahwa pandangan demikian juga penuh dengan ketidakpastian. Termasuk soal kepercayaan Marx yang berlebihan soal kebaikan manusia.
Menurut saya, kepastian itu ada. Dasar dari kepastian ialah ketetapan atau dengan kata lain komitmen, kebenaran dan kasih. Selurunya berkelindan menjadi satu. Inilah rahasia dari pernyataan, “Dunia akan lenyap tetapi kasih tidak berkesudahan".
Kasih yang tetap, benar, menggembirakan dan utuh pada dirinya sendiri. Dia ada untuk seterusnya.
Sehingga, dari pandangan ini dapat dipahami bahwa ketidakpastian boleh ada tetapi kepastian jauh lebih kuat daripada itu. Ketidakpastian boleh mempengaruhi tetapi kepastian seharusnya tidak terpengaruh akibat ketidakpastian.
Kepastian itu bertumbuh, berbagi, memberi, utuh dan bergembira pada dirinya sendiri. Demikianlah peran dari kepastian di dalam kehidupan ini dimaknai.
Bukan seperti kata Marx atau Martin Heidegger. Heidegger menyebutnya dengan istilah geworfenheit (Jerman) atau dengan kata lain, manusia terlempar ke dunia lalu menemukan identitas dirinya. Pandangan demikian sangatlah mengerikan dan penuh dengan ketidak pastian.
BACA JUGA: Hidup untuk Bekerja atau Bekerja untuk Hidup?
Praksis
Setelah memahami ontologis atau dasar dari kepastian dan ketidakpastian sebelumnya, tentu langkah selanjutnya diperlukan hal menyangkut praktik di dalam keseharian. Bagaimana menempatkan keutamaan dari kepastian di dalam hidup?
Misalnya, di tahun baru 2025 ini, kita menemukan sejumlah persoalan menyangkut masalah-masalah ekonomi--kenaikan PPN 12% yang akan membuat kenaikan harga dan pemutusan hubungan keja, belum lagi soal-soal menyangkut masalah politik, terbelahnya oknum kepolisian yang pro penguasa tertentu, masalah korupsi internal parpol dan lemahnya upaya pemberantasan korupsi.
Soal-soal di atas, tentu saja membuat munculnya perasaan ketidak pastian. Lantas, apa hal yang harus dilakukan dalam menghadapi relasi kuasa sebelumnya?
Mari mencermati kepastian seperti yang telah penulis bahas sebelumnya. Kepastian memuat perasaan yang utuh pada diri sendiri. Rasa cinta yang cukup pada dirinya sendiri.
Perasaan ini mengundang seseorang untuk berbagi kepada orang lain. Keadaan pasti ini, didasari pula oleh variabel lainnya, termasuk ketetapan dan komitmen pada dirinya sendiri. Bayangkan! Betapa indahnya hal ini.
Di dalam menghadapi relasi kuasa, jika kita membaca buku David Lieberman “The Psychology of Execution” atau Zahra Erol “Psychology of Loneliness”, kemampuan untuk mencintai diri sendiri dan mengasihi orang lain menjadi kekuatan yang sangat berpengaruh di dunia kerja.
Tidak selalu soal uang, jabatan atau nama baik perusahaan. Melainkan soal hidup yang berbelaskasih. Inilah kepastian itu. Inilah keutamaan hidup yang harus diperjuangkan itu.
Penutup
Bisa disimpulkan bahwa kini kita mengetahui bahwa kepastian jauh lebih penting daripada ketidak pastian. Agaknya, para penganut stoik akan setuju dengan tulisan ini, lantaran mereka akan menyetujui bahwa mengendalikan hidup kita pribadi jauh lebih penting daripada mengendalikan sesuatu di luar diri.
Namun, lebih dari pada itu, tulisan ini tentu saja tidak sekadar mengulas soal diri pribadi, namun kehidupan yang pada hakikatnya akan berdampak pada orang lain. Konsistensi untuk mencoba, agaknya akan berbuah pada waktunya dengan tidak melupakan kecintaan pada diri sendiri dan orang lain pula.
Liberman di dalam buku sebelumnya ada benarnya, saat membahas tentang kekacauan! Menertawakannya jauh lebih menarik daripada memandangnya sebagai ketidakpastian yang mempengaruhi diri sendiri.
Tertawalah akan ketidak pastian disekitar kita, karena hal demikian hanyalah sementara. Sementara, kepastian itu abadi, kokoh, kuat, dapat kita kendalikan dan paling dibutuhkan oleh hidup ini.
Terakhir, jika mengulas seluruh keutuhan diri di dalam kepastian sebelumnya, lalu akan mengundanng pertanyaan bagaimana kaitannya dengan keterbatasan ruang dan waktu?
Toh kepastian itu akan berhadapan dengan ruang dan waktu, setidaknya akan mengalami proses yang tidak sebentar.
Saya ingin menjawabnya, dengan sebuah tulisan absurd yang saya baca waktu berada di Bali beberapa waktu lalu. Sangat lucu! :D
Tulisannya begini. “Sabar itu memang lelah! Sabar itu baik! Sabar itu akan berujung indah! Kalau berujung indah, maka kapan indahnya..? Ya sabar aja…” Hahahahah…
Bijaksana dari hal ini yakni, meleburlah di dalam waktu. Teknologi saat ini menurut saya membuat manusia justru keluar dari waktu, lantaran hanya kesadaran kognisi (pikiran) yang tenggelam di dalam waktu.
Parsial dalam mewaktu. Seharusnya, sebagai manusia baik kognisi, afeksi dan psikomotorik hadir menikmati ruang dan waktu yang tidak terpisahkan dari kehidupannya sebagai manusia.
Termasuk berhadapan dengan burung-burung di udara, matahari, bunga, udara dan relasinya dengan manusia lainnya termasuk keluarga, rekan dan institusi tempat bekerja serta beribadah kepada sang Khalik.
Kiranya, pesan ini boleh meneguhkan para pembaca sekalian dengan satu kalimat sederhana; Mari mencintai hari ini! Itulah kepastian yang paling penting untuk kita pahami, dengan sederet penjelasan sebelumnya. Selamat tahun baru 2025 untuk kita. Sekian.
====
Penulis Alumnus Magister FISIP USU, penikmat studi filsafat, theologi, sejarah dan politik
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email dengan nama subjek: OPINI. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

