| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SEJUJURNYA saya heran dengan cara kita menikmati hidup belakangan ini. Keseharian tampaknya baru akan menjadi nikmat rasanya jika dijalani dengan drama yang tiada habis-habisnya.
Argumentasi sebelumnya dapat kita lihat kebenarannya di dalam keseharian seperti halnya di Negeri Pandawa belakangan ini. Mulai dari kasus-kasus, seperti dugaan ijazah palsu, disertasi palsu, gelar palsu, beredarnya uang palsu, janji politisi yang palsu, dugaan dosen pembimbing palsu, penipuan berkedok trading, penipuan dengan modus investasi dan lain sebagainya.
Tak habis-habis jumlahnya. Nyaris melingkupi berbagai sektor.
Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan yang menghadapi ragam persoalan sebelumnya. Biasanya, akan ada pihak yang membela bahwa dirinyalah yang benar, sementara orang lain yang salah.
Pun demikian dengan perilaku si penuntut. Dia akan berdalih telah ditipu, dan akan berupaya mengungkap kebenaran atas peristiwa ini.
Dan bila tidak ada penegak keadilan yang bertanggung jawab (koruptif), maka dapat dibayangkan bahwa situasi sebelumnya akan menjadi lingkaran setan yang tiada habis-habisnya. “Kamu yang salah!”, “Bukan! Tetapi kamu yang salah!” Begitu kira-kira. Nyaris seperti kisah di film-film.
Begitulah keadaan yang sering kita temui belakangan ini di dalam keseharian. Manusia tampaknya lebih suka menyalahkan orang lain ketimbang menyalahkan dirinya sendiri.
Manusia lebih suka dipandang benar dan berhasil di mata orang lain, ketimbang menyadari bahwa dirinya pun tidak sepenuhnya sempurna/terbatas.
Akibat munculnya ego dominasi ini, maka sikap manipulatif pun dipakai untuk membenarkan dirinya sendiri. Biasanya, posisi yang diambil selalu menjadikan dirinya sebagai korban; “Saya terzalimi!” “Ini keterlaluan!” “Saya direndahkan!” dan seterusnya.
Anehnya, para penjilat kekuasaan (orang yang pengen dirinya aman), akan ikut memperkeruh suasana alih-alih menyuruh agar perdamaian segera diciptakan.
Menurut saya, sikap manipulatif ini berakar dari ego-dominasi. Alih-alih saya jujur dan membangun persekutuan dengan sesama, lebih baik saya mempertahankan keadaan ini.
Sekaligus mencari cara, agar posisi saya semakin kuat, benar dan tak tergoyahkan. Ya, dalil-dali kekuasaan ala Machiavellianism. Orang-orang yang memikirkan berbagai cara untuk mencapai keinginannya tanpa memikirkan perasaan orang lain. Atau dalam kata sederhana, perilaku manipulatif!
Biasanya keadaan manipulatif ini terlihat dari karakter sebagai korban. Seakan tidak mengetahui apa-apa. Penuh drama. Sulit berterus terang. Menganggap orang lain yang salah. Perbedaan perkataan dengan perbuatan. Merasa paling benar. Minim empati dan kasih sayang kepada sesama. Ambisius untuk keinginannya sendiri.
Di dalam penelitian Twin Research and Human Genetics disebutkan bahwa kepribadian manipulatif cenderung kurang cerdas secara emosional (Trait Emotional Intelligence and the Dark Triad Traits of Personality dalam Rizal Fadli, 2023). Sulit berempati dengan kelemahan atau kesulitan yang dimiliki orang lain.
Akibatnya, drama pertarungan seperti di awal tulisan ini berlangsung tiada habis-habisnya. Bayangkan jikalau penegak hukum berperilaku koruptif, maka kebenaran pasti tidak kelihatan eksistensinya.
Jika keadaan demikian kerap berulang maka sikap apatis di tengah masyarakat akan menjadi keadaan lazim untuk ditemui. Tidak ada perbaikan/kemajuan, malah yang terjadi adalah kemerosotan.
Jika ditelusuri, satu hal mendasar penyebab dari masalah manipulasi yang kerap terjadi, adalah adanya fenomena kebudayaan belakangan ini untuk menghadirkan suasana ultra maskulinitas ataupun ultra feminine.
BACA JUGA: Film Indonesia, Kerusakan Moral, Penonton Cerdas
Artinya, keadaan yang saya alami baru akan saya tampilkan jika keadaan itu baik, kuat, indah, menawan dan menguntungkan diri saya.
Agak jarang kita temui keadaan belakangan ini kehidupan yang menyajikan autentisitas, kejujuran, kerentanan, kedukaan, kebutuhan untuk didukung, kebutuhan untuk diperhatikan sewajarnya dan lain sebagainya.
Padahal sebenarnya, sebagai manusia autentisitas ini sangatlah penting. Jujur sebagai manusia. Menunjukkan keaslian diri dalam keseharian.
Lantaran, memang tidak selamanya manusia bisa berada di atas. Kadang-kadang memang ada masa manusia itu berada di bawah, lalu dia akan belajar untuk berbenah lebih baik kedepannya.
Sekaligus menyadari bahwa dirinya membutuhkan orang lain untuk ikut menolong dan membantu kehidupannya sebagai manusia.
Apalagi memang manusia diciptakan bukan untuk menjadi seorang diri melainkan setiap manusia perlu hadir bagi yang lain sekaligus dibutuhkan oleh orang lain.
Terakhir, mengenai kejujuran yang menakutkan. Bagi saya, kejujuran yang menakutkan hanyalah anggapan dari sebagian orang yang takut dinilai rendah. Takut tidak dapat mencapai keinginan-keinginannya. Takut dirinya disingkirkan dari kehidupan ini. Sehingga mereka menganggap bahwa kejujuran itu sangat menakutkan.
Padahal, sebenarnya dunia tidak akan pernah menawarkan cerita seperti seburuk yang dibayangkan itu. Meski memang keadaan yang terlalu ruet terjadi, sering kali keruwean ini menjadi pembenaran untuk menyetujui perilaku manipulatif. Namun tetap, bagi saya hal itu tidaklah benar untuk dipertahankan.
Sederhananya begini! Ada satu kutipan menarik dari ayat suci, berkata demikian. “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barang siapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih”.
Perkataan ini menunjukkan bahwa orang yang berani menyatakan/menunjukkan kebenaran adalah orang yang mengasihi dan kasih yang ditunjukkan adalah kasih yang sempurna karena tidak ada rasa takut.
Karena itu, mari membiasakan diri menjadi pribadi yang autentik. Jujur. Mengakui kelemahan di saat diri kita lemah, sekaligus merayakan sukacita bersama orang lain di saat kita berhasil mendapatkan atau mencapai sesuatu. Inilah wujud kasih yang sempurna.
Di dalamnya tidak ada ketakutan karena kita dapat dengan rendah hati membangun persekutuan dengan sesama. Kerendahan hati ini akan meluputkan rasa malu. Sekaligus bersifat konstruktif.
Seperti kata rekan saya di kantor, Pak Rian Andreas. Menurutnya, autentisitas itu sangat perlu! Karena, autentisitas itu pulalah yang diperlukan oleh orang lain, bukan kepalsuan.
Saya setuju dengan hal ini. Lagipula, autentisitas pasti akan bersikap konstruktif!. Makin lama keadaannya akan makin baik dan sempurna. Inilah kasih yang benar.
Dia tidak lepas dari persekutuan, melibatkan sesama untuk ikut bersukacita, menunjukkan otoritas seperlunya dan memiliki nuansa empati di dalamnya.
Jikalau demikian adanya, lantas yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana menjawab persoalan di awal tulisan ini? Mengenai banyaknya kasus-kasus manipulatif yang sedang kita hadapi.
Pilihan terbaiknya adalah menjadi autentik dan jika perlu keadaan sebelumnya harus didorong untuk menjadi keadaan yang autentik.
Bisa dengan kesadaran pihak yang bersangkutan, atau didorong untuk berperilaku autentik lewat tuntutan publik, media dan yang terpenting adalah penegak hukum menuntut untuk berperilaku jujur.
Karena seperti yang telah dibahas sebelumnya, autentisitas ini akan bersifat konstruktif karena ada rasa percaya di dalamnya sekaligus motivasi untuk semakin baik dari hari ke hari.
Lagipula perilaku autentik yang benar pastilah mengandung kerendahan hati, sehingga biasanya akan diterima secara baik oleh suara mayoritas. Pasti! Karena itu, marilah menjadi pribadi yang autentik di dalam keseharian! Keadaan yang pasti menggembirakan. Sekian.
====
Penulis penikmat kajian sosial/politik/agama dan filsafat
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

