| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

TAHUN ini akan menjadi kali ke-2 para wirausaha memperingati hari jadinya, setelah untuk pertama kalinya diresmikan dan ditetapkan Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada 10 Juni sebagai hari kewirausahaan nasional.
Momentum kebangkitan kewirausahaan idealnya tidak hanya sekadar seremonial semata, atau misal, hanya peringatan setiap tanggal 10 Juni. Ada pekerjaan rumah yang menunggu untuk diselesaikan terkait pembentukan kewirausahaan di negeri ini.
Sebagai bangsa yang sedang merangkak dari kategori negara berkembang menuju negara maju, salah satu indikator yang harus dicapai adalah rasio wirausaha.
Sejauh ini rasio wirausaha pemula mencapai 35,21% dari total kerja (Badan Pusat Statistik, 2023), sementara rasio wirausaha mapan sebesar 3,04% (Badan Pusat Statistik, 2023).
Tentunya yang digunakan sebagai acuan pertumbuhan adalah besaran usaha mapan karena efek domino pada pembukaan lapangan kerja baik pekerja tetap atau dibayar. Jika melihat data di atas ada kesenjangan kenapa jumlah pengusaha mapan tidak sebesar pemula?
Fenomena cendawan di musim penghujan agaknya cocok dengan kondisi kewirausahaan di negeri ini. Program pemerintah yang menyasar usaha-usaha baru terbukti efektif meningkatkan jumlah usaha anak muda.
Muncul startup baru di penjuru pelosok daerah, jenisnya juga beragam. Tapi masalah lain muncul, apakah yang tadi bermunculan kemudian bertahan dan besar.
Saya coba melihat dari sudut pandang dunia pendidikan, lebih tepatnya di perguruan tinggi. Ada kecenderungan menyederhanakan pencapaian hasil belajar pada pendidikan kewirausahaan. Dari yang seharusnya membentuk pola pikir kewirausahaan dan berujung pada membangun usaha baru sebagai bentuk hasil belajar, menjadi terlalu berfokus pada hanya pada membangun usaha baru tanpa pondasi berpikir yang cukup.
Sekarang ini mata kuliah kewirausahaan lazim menjadi mata kuliah wajib hampir di seluruh program studi dan fakultas. Sejatinya mata kuliah ini seperti kawah candradimuka bagi mahasiswa untuk dapat bertranformasi menjadi pengusaha yang tangguh.
Seperti halnya pohon, akar yang kuat menjamin pohon akan tumbuh kokoh, kemudian berbuah lebat. Meskipun ada pilihan lebih singkat, cangkok dari pohon yang sudah berbuah. Ini hanya sekadar analogi saja.
Dalam prosesnya program pendidikan kewirausahaan dianggap efektif dalam meningkatkan keterampilan dan pandangan kewirausahaan pada mahasiswa, yang mengarah pada peningkatan niat dan peluang kewirausahaan bagi mahasiswa. Artinya semakin tinggi pemahaman, semakin tinggi niat wirausaha dan semakin tinggi juga peluang usaha terbentuk.
Apakah salah jika dunia pendidikan kita hanya berfokus pada bagaimana membangun usaha baru dan mengabaikan pembentukan jiwa kewirausahaan?
Coba kita kaitkan pertanyaan tersebut dengan data tracer study yang setiap tahun dikumpulkan pihak universitas. Meski tidak bisa digeneralisir, tapi kecenderungannya, alumni yang memilih menjadikan wirausaha sebagai pilihan karier setelah mereka tamat berada pada kategori sedikit, mungkin hanya 5- 10 % saja.
Selebihnya mayoritas menjadi pekerja yang sesuai/tidak sesuai bidang studi, atau melanjutkan studi atau tidak/belum berkerja.
Menariknya, jumlah mahasiswa aktif yang sedang berwirausaha biasanya cenderung lebih banyak dibandingkan alumni yang berwirausaha.
Polanya sama seperti data BPS di atas. Banyak para pengusaha pemula ini tidak dapat bertahan setalah usahanya didirikan. Atau hanya menjadi tugas projek untuk mata kuliah.
Kewirausahaan dari Dalam Kelas
Ketika keputusan membelajarkan kewirausahaan di dalam kelas (pendekatan akademis), maka ada konsekuensi logis yang harus ditempuh.
Tidak seperti kewirausahaan di luar kelas (pendekatan praktis) yang belajar dari pengalaman yang dilalui, maka sebaliknya akademisi lebih kepada pendekatan by design. Artinya kewirausahaan memang direncanakan sedari awal, termasuk bagaimana cara berpikir layaknya wirausaha.
Dukungan pendidikan adalah cara yang efektif untuk menerima pengetahuan yang diperlukan tentang kewirausahaan. Pendidikan kewirausahaan mempengaruhi niat berwirausaha dengan meningkatkan efikasi diri dan di sisi lain mengubah sikap terhadap kewirausahaan.
Pembentukan sikap terhadap kewirausahaan dipengaruhi motivasi yang muncul dari proses pembelajaran bermakna yang membentuk kognisi kewirausahaan.
Hal ini karena peserta didik sekarang menanamkan kewirausahaan pada diri mereka, bukan lagi melalui keyakinan pengalaman dan latar belakang keluarga, tetapi melalui keterampilan yang telah mereka pelajari dan dijelaskan secara rasional.
Akhirya kita dihadapkan pada dua persimpangan bagaimana pendekatan ideal merumuskan tujuan dari mata kuliah kewirausahaan: pandangan sempit, yang berfokus pada pendidikan siswa untuk menjadi dan berhasil sebagai pemilik bisnis.
Pandangan yang lebih luas menganggap mata kuliah kewirausahaan bertujuan membantu siswa menjadi individu yang memiliki jiwa kewirausahaan untuk kemudian menggunakan kompetensi kewirausahaan secara umum guna menciptakan nilai.
Sebagai penutup, perguruan tinggi pada khitahnya menjadi tempat bagi siapapun yang ingin belajar bernalar. Menjadi seorang wirausaha juga proses bernalar.
Seperti filosofi jawa “alon-alon waton kelakon”, pelan-pelan asal sampai. Begitulah kewirausahaan sejatinya tumbuh dan berkembang.
====
Penulis dosen Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Medan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

