| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

ANAK laki-laki itu bergoyang gemulai. Ya, dia laki-laki. Tapi justru tampil begitu feminim dengan liukan tubuhnya. Dia memimpin teman-teman dan guru-gurunya menari bersama di lapangan sekolah. Seragam lengkap SD melekat di badannya.
Di tempat lain, sekelompok anak laki-laki dengan usia sebaya, juga berseragam SD, berjoget layaknya orang dewasa dalam acara kondangan.
Yang lebih miris, anak-anak itu bahkan menyawer biduan yang sedang menyanyi. Mereka bergoyang dengan gerakan-gerakan yang jauh dari kesan polos seorang anak.
Kedua peristiwa yang kemudian viral di jagad maya itu disinyalir merupakan bagian dari acara perayaan kelulusan SD. Sekilas mungkin itu hanyalah bentuk ekspresi kegembiraan karena sudah menyelesaikan pendidikan. Namun, sebagai seorang guru, saya merasa ada alarm bahaya yang patut kita waspadai.
Kita seharusnya cemas dengan masa depan negeri ini karena video-video tadi. Barangkali ini terkesan sebagai bentuk kekhawatiran yang berlebihan atau terdengar seperti hipotesis prematur. Namun, mari kita telaah lebih mendalam.
Perayaan kelulusan SD—yang seharusnya sarat dengan muatan edukasi dan nilai-nilai reflektif—justru dipenuhi dengan ekspresi-ekspresi yang jauh dari esensi pendidikan.
Bukan hanya kehilangan arah, kedua video itu menunjukkan bahwa pendidikan dasar kita sedang menunjukkan adanya potensi kerusakan karakter yang dibiarkan tumbuh sejak usia dini.
Pengaburan Nilai Pendidikan dan Jati Diri Anak
Sebetulnya tidak ada yang salah dengan budaya merayakan kelulusan sepanjang perayaan itu dikemas dengan mempertimbangkan nilai-nilai pendidikan, norma sosial dan tidak mengesampingkan psikologis anak-anak.
Pada video pertama, identitas biologis si anak laki-laki jelas terlihat. Tapi amatilah cara dia menari. Gerak-gerak tubuhnya yang gemulai dan feminim justru menjauhkannya dari karakter maskulin yang seharusnya mulai tumbuh dalam diri anak laki-laki seusianya yang sedang menuju masa pubertas.
Yang membuat kita seharusnya semakin sedih adalah sekolah justru seperti memberikan panggung bagi ekspresi itu. Bagaimana tidak? Si anak malah dijadikan sebagai pemimpin tari.
Artinya, sekolah terkesan sedang memberikan legitimasi dan apresiasi terhadap perilaku yang bisa menimbulkan kebingungan identitas gender.
Guru-guru—alih-alih memberikan arahan yang tepat—justru turut menari mengikuti gerakan-gerakan yang dipandu si anak. Tanpa disadari, mereka sesungguhnya sedang memberikan pesan dan kesan, bukan hanya kepada si anak yang memandu tari, tapi juga rekan-rekannya bahwa semuanya itu adalah hal yang sah-sah saja, lucu, wajar dan layak ditiru.
Padahal, dalam paradigma pendidikan karaker, guru berperan sebagai pedoman (role model) dalam setiap tindakannya.
Anak-anak usia SD sedang berada di dalam fase ekplorasi identitas diri. Dalam fase itu, mereka sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan.
Di era digital sekarang, pengaruh lingkungan bukan hanya hadir dari orang-orang di sekitar tempat tinggal, tapi juga bisa datang dari media sosial yang begitu mudah diakses lewat ponsel pintar.
Tanpa pendampingan yang bijak, mereka akan mudah mengalami kebingungan dalam membentuk jati diri, baik dalam konteks sosial, emosional maupun gender.
Video kedua pun tak kalah memprihatinkan. Anak-anak SD yang menyawer biduan sesungguhnya lebih dari sekadar hiburan. Namun tidak sedikit netizen yang menormalisasi fenomena itu.
Padahal, yang terjadi sesungguhnya adalah bentuk pengaburan batas antara dunia anak dan budaya hiburan ala orang dewasa.
Jika mau jujur, suka atau tidak suka, tren menyawer biduan dalam acara kondangan sama sekali tidak ada nilai positifnya. Dalam konteks budaya kita, ritual sawer-menyawer biduan acap dibalut dengan nuansa sensualitas dan glorifikasi uang.
Kalau untuk orang dewasa saja itu sering dianggap negatif, apalagi jika dipertontonkan oleh anak-anak SD.
Sekolah yang semestinya menjadi ruang aman untuk pembinaan moral malah terlihat abai. Tidak ada pembatasan. Tidak ada pengawasan. Bahkan seperti ada pembiaran. Inilah yang kemudian menjadi sumber kekhawatiran serius.
Dalam dunia pendidikan ada pepatah: “Children are great imitator. So give them something great to imitate”.
Anak-anak adalah peniru yang ulung. Tugas kita sebagai guru, orang tua, masyarakat, pemerintah dan media adalah memastikan bahwa apa yang mereka tiru adalah hal-hal yang membangun, bukan justru merusak karakter dan moral.
BACA JUGA: Tidak Salah Belajar dari Murid
Bonus Demografi atau Bom Demografi?
Momentum kelulusan seharusnya dijadikan sebagai ruang untuk melakukan refleksi: tentang rasa syukur kepada Yang Mahas Kuasa atas capaian belajar dan tentang tekad untuk meraih cita-cita dengan belajar lebih gigih pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Bukan malah sebagai ajang unjuk budaya hedonistik, konsumtif dan pengaburan identitas diri.
Kedua video itu memberikan contoh kecil betapa budaya instan dan viral kini tengah menggerogoti dunia pendidikan kita. Ini sekaligus menegaskan satu hal: kita sedang berada dalam era krisis pembinaan karakter anak.
Ruang-ruang kelas kini tidak lagi cukup kuat untuk menyaring budaya luar yang masuk begitu cepat dan massif tapi tanpa filter nilai.
Di sisi lain, pada skala yang lebih luas, Indonesia sedang mempersiapkan diri menyongsong tahun 2045—tahun yang diprediksi sebagai puncak bonus demografi dengan dominasi penduduk usia produktif atas kelompouk usia lainnya.
Era inilah yang belakangan sering disebut sebagai Indonesia Emas.
Namun, mari kita jujur bertanya pada diri masing-masing: jika anak-anak seperti dalam dua video tadi menjadi generasi usia produktif, apakah kita bisa berharap banyak dari mereka? Apakah Indonesia akan menuai generasi emas? Atau justru generasi cemas?
Sejatinya, bonus demografi adalah peluang sekaligus tantangan. Ia bisa menjadi anugerah jika anak-anak kita dipersiapkan dengan pembangunan karakter, etika, literasi dan keterampilan abad 21.
Tanpa itu semua, bonus demografi akan berubah menjadi bom demografi: meledaknya populasi manusia produktif, namun miskin produktivitas, miskin akhlak dan miskin etos kerja.
Fenomena dua video tadi hanyalah potret kecil dari gunung es masalah yang jauh lebih besar yang tengah menyelimuti dunia pendidikan kita: krisis keteladanan, krisis nilai dan krisis arah pendidikan karakter.
Sebagai guru, saya sangat percaya bahwa tugas membangun generasi tangguh tidak hanya dibebankan kepada sekolah semata. Orang tua, masyarakat, pemerintah dan media turut punya peran. Tapi sekolah tetap menjadi benteng utamanya.
Sudah sepatutnya kita melakukan evaluasi. Ke mana arah pendidikan kita? Apa yang sesungguhnya sedang kita wariskan kepada generasi penerus bangsa?
Jika kita terus membiarkan panggung-panggung kecil ini tampil tanpa kritik dan koreksi, maka 20 tahun lagi kita hanya akan mendapati generasi viral yang gagap menghadapi tantangan dunia nyata.
====
Penulis guru SMP/SMA Sutomo 2 Medan, alumnus pascasarjana Universitas Negeri Medan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

