| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com-Medan. Ketahanan pangan berkaitan erat atau sejalan dengan terjaganya nilai-nilai budaya suatu daerah. Hal itu dikarenakan, segala pengetahuan dan kearifan, terutama dalam konteks pertanian itu, ada dalam kebudayaan masyarakatnya.
Sebaliknya, ketahanan pangan akan rentan jika nilai-nilai budaya itu tidak lagi dipraktikkan dalam keseharian.
Poin itu terungkap dalam diskusi pangan dalam konteks kebudayaan Batak yang berlangsung di Jong Batak Arts Festival (JBAF) #12 di Taman Budaya Medan, Sabtu (25/10/2025). Diskusi dimoderatori Jhon Fawer Siahaan.
Salah seorang narasumber Tansiswo Siagian mengatakan, kebudayaan Batak itu adalah agraria. Nilai dan praktik kesehariannya selalu berkaitan dengan tanah dan pertanian.
"Nilai itu pada akhirnya mencerminkan spiritualitas masyarakat Batak. Dan itu dipraktikkan dengan bagaimana cara memperlakukan alam sekitarnya," kata Tansiswo.
Tansiswo menegaskan, bahkan dalam budaya Batak (Toba) untuk mengerjakan sawah saja ada 8 tahapan. Masing-masing tahapan mempunyai ritus dengan pengetahuan dan nilainya yang saling terkait.
"Maka benar, kalau nilai dan ritus itu terjaga dan dijalankan, masyarakat Batak tidak akan kekurangan pangan. Karena dalam budaya Batak ada ugason torop atau lumbung bersama," kata Tansiswo.
Dikatakan Tansiswo, meski praktiknya
sekarang tidak lagi dijalankan secara ketat seperti masa lalu, namun harusnya nilai-nilainya tetap dipertahankan dan dilakoni dalam bentuk kekinian.
Narasumber lainnya Hotpangidoan Panjaitan mengatakan, saat ini generasi muda Batak mengalami krisis kebudayaan. Generasi muda kehilangan sumber pengetahuan yang ada di dalam. budaya itu, sehingga nilai-nilai di dalamnya tidak lagi dipahami, apalagi dipraktikkan dalam hidup sehari-hari.
"Bukan hanya karena mereka tidak tinggal lagi di kampung, tetapi memang saat ini masyarakat Batak sendiri tidak lagi mempraktikkan ritus-ritus itu seketat dulu," kata Hotpangidoan.
Dikatakan Hotpangidoan, bukan bermaksud menolak kemajuan zaman, tetapi fakta menunjukkan nenek moyang orang Batak sudah lebih dulu mempraktikkan sistem pertanian yang ekologis. Hasilnya tidak pernah mereka kekurangan pangan, apalagi sampai kelaparan.
"Kita tidak bisa menyalahkan generasi muda, namun nilai-nilai budaya itu harus terus disuarakan secara konsisten. Ini adalah tanggungjawab kita bersama," kata Hotpangidoan.

