| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SECARA pribadi, saya sangat bangga pada kesempatan yang kini diberikan oleh Kementerian Kebudayaan pada para pelaku seni, khususnya budaya-sastra. Kini, fasilitasi itu makin mudah setelah Balai Pelestarian Kebudayaan berada di setiap provinsi. Pemerintah hadir pada para pelaku budaya secara lebih holistik.
Dulu, ide-ide kebudayaan jika disodorkan kepada dinas-dinas akan sangat sulit untuk diakomodasi. Anggaran seperti tak terbuka untuk para pelaku seni. Kiranya, keterbatasan anggaran menjadi alasan utama. Karena itu, butuh pendekatan dan kedekatan supaya dinas-dinas mau mengakomodasi ide-ide kebudayaan.
Tahun 2022 silam, saya mendapatkan bantuan fasilitasi bidang kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Medan. Totalnya memang sedikit. Namun, jumlah itu sudah cukup untuk menyalurkan ide-ide kreatif. Per tahun ini, Dana Indonesiana juga terlihat lebih ramah kepada para pelaku seni.
Pasalnya, nominal uangnya dikecilkan supaya jumlah penerima semakin banyak. Praktis, dengan kegiatan seperti ini, gerakan kebudayaan akan semakin berdenyut. Kegiatan kreativitas sastra, misalnya, mulai mendapat pengakuan setelah Kementerian Kebudayaan mengakomodasi kebutuhan kesastraan.
Dalam hemat saya, gerakan seperti ini sangat dibutuhkan. Pendekatan sastra dan kebudayaan harus dilakukan kepada generasi muda karena mereka cenderung labil dan tak punya pertahanan kebudayaan. Setidaknya, banyak generasi Z yang saat ini tidak lagi fasih berbahasa daerah.
Kenyataan itu jadi bukti bahwa generasi muda sangat rapuh. Itulah sebabnya, saya menekuni kebudayaan dan kesenian. Motivasinya adalah agar generasi muda ingat pada akar budayanya. Saya agak yakin, lemahnya psikologi siswa saat ini tentu disebabkan kurangnya kuda-kuda kebudayaan. Mereka menjadi labil.
Fakta bahwa mereka cepat berkembang. Mereka mengetahui banyak hal. Tetapi, pengetahuan itu tak mendalam, bahkan nyaris tak berdasar. Akibatnya, mereka cepat tumbuh, tetapi cepat pula layu. Untuk itulah gerakan-gerakan kebudayaan dan kreativitas harus ditumbuhkan sejak dini kepada generasi muda.
Entahlah. Namun, bagi saya, pekerjaan kebudayaan harus diseriusi. Butuh orang-orang militan untuk ini. Saya masih ingat, saya mulai berproses di bidang seni sejak kuliah. Saya harus merental komputer untuk mengetik ide. Setelah itu, merental warnet untuk mengirim ke media. Itu mulai tahun 2008 sejak saya kuliah.
Sampai kini, militansi itu tetap ada. Saya masih bertarung habis-habisan untuk menulis di berbagai media, termasuk ke harian Kompas. Banyak penolakan? Tentu saja. Namun, dari sana saya belajar, penolakan membibitkan kekuatan. Kini, para sastrawan punya wadah baru untuk mengekspresikan diri.
Setidaknya, kehadiran Balai Pelestarian Kebudayaan di masing-masing provinsi membuat kita untuk berjuang mewarisi kebudayaan, menumbuhkan pemikiran. Hanya memang, mudahnya fasilitasi itu bisa membuat orang-orang tiba-tiba jadi pelaku budaya, penggiat seni, atau penyuka sastra.
Namun, tidak terlalu jadi masalah. Hanya butuh manajemen dan seleksi supaya fasilitasi itu benar-benar diberikan kepada pejuang-pejuang sastra, budaya, dan seni. Dengan begitu, kehidupan kebudayaan kita akan makin berdenyut. Pada gilirannya, generasi muda tidak lagi rapuh. Mereka akan bertumbuh. (Tulisan kiriman Riduan Situmorang, Tim Ahli Cagar Budaya Humbang Hasundutan, Pembina Sanggar Maduma Doloksanggul)

