| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

MENGASUH anak merupakan tugas bersama orang tua, yakni ayah dan ibu. Semuanya harus berjalan seimbang, tidak tumpang tindih. Jika anak sering bersama dan diasuh ibunya maka cintanya dan kepatuhannya hanya untuk ibunya begitu sebaliknya jika anak lebih sering bersama ayah dan diasuhnya maka si anak akan lebih patuh kepada ayahnya. Hal tersebut juga disampaikan seorang sopir ojek online kepada saya.
Sekitar beberapa bulan yang lalu, saya menuju ke bandara dengan memakai jasa ojek online. Di sepanjang perjalanan, saya dan sopir ojek online bercerita tentang kehidupan.
Satu hal yang menarik dia sampaikan, pada saat sopir ojek online memutuskan resign atau mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya karena selama ini sering disibukkan dengan pekerjaan tersebut.
Waktu mengasuh dan mendidik anak pun tidak ada lagi karena sering pulang malam setiap harinya. Si sopir ojek online pun menyampaikan, "saya lebih mengutamakan keluarga dan anak ketimbang pekerjaan. Meskipun saya punya banyak uang tapi kalo anak saya sendiri kurang kasih sayang, untuk apa? Dia tidak nurut sama ayahnya. Kalau rezeki pasti datang asal kita bekerja dan berbagi waktu dengan anak". Hal tersebut menjadi sebuah pelajaran bahwa keluarga yang utama.
Fatherless
Fatherless merupakan kondisi dimana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran dan peran aktif ayah secara fisik maupun psikologis. Kondisi ini dapat berdampak buruk pada tumbuh kembang anak ke depannya, akhirnya si anak sangat memungkinkan tidak patuh pada ayahnya dan akan merasa tidak mendapatkan kasih sayang. Fatherless ini menjadi isu yang harus disikapi bersama.
Pola asuh anak yang baik adalah ketika ayah dan ibu sama-sama mendidik dan membesarkan anak. Di tengah pekerjaan yang padat, tetap anak menjadi nomor satu.
Kenakalan remaja saat ini disebabkan pola asuh di keluarga yang tidak maksimal. Sering ditemukan keluarga yang sudah retak hubungannya akibat perceraian dan komunikasi yang kurang baik. Fatherless ini terjadi akibat ayah berperan sebagai pencari nafkah atau bekerja dan ibu mengurus rumah tangga.
Bahkan berdasarkan analisis Kompas dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik pada Maret 2024, terdapat 72,8 juta anak atau 91,8 persen dari 79,4 juta anak di Indonesia yang tinggal dalam struktur keluarga dengan ayah pekerja. Dari 72,8 juta anak tersebut sebanyak 11,5 juta anak atau 15,8 persen dengan ayah mereka bekerja lebih dari 60 jam per minggu.
Dengan kondisi tersebut, menjadi perhatian serius agar dampak buruk Fatherless tidak mengakibatkan tumbuh kembang anak tidak maksimal dan menjadi pribadi yang bermasalah.
Dampak fatherless harus bisa dihindari oleh keluarga. Penting sekali memberikan sedikit waktu untuk memotivasi, memperhatikan, mendidik dan bermain dengan anak agar si anak lebih mengerti dan merasakan bahwa orangtuanya ada untuknya dan memberikan cinta kepadanya.
Seorang ayah bekerja dan mendapatkan uang untuk anak, namun harus diingat bahwa tumbuh kembang anak menjadi kunci dari keberhasilan.
Pola asuh orangtua kepada anak akan menciptakan sumber daya manusia yang mumpuni, bijaksana dan cerdas. Itulah menjadi tujuan kita bersama demi menciptakan bangsa yang unggul menuju Indonesia yang lebih baik.
Komunikasi
Komunikasi bisa dilakukan secara langsung maupun dalam jaringan seperti video call. Menyempatkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak sangat berdampak positif.
Menanyakan kabar anak, berbicara dengan anak atau berinteraksi dan bermain dengan anak akan menjadi bagian penting dari sebuah keberhasilan di masa depan.
Komunikasi harus terus dijaga dan dapat dilakukan kapan saja. Orangtua terutama ayah harus melakukan hal tersebut. Dalam waktu akhir pekan digunakan sebagai waktu untuk keluarga seperti bermain, liburan dan lain sebagainya.
Dengan komunikasi yang baik akan menjadi didikan yang baik dan akan membantu anak pula untuk belajar. Komunikasi yang baik akan membantu anak untuk bertindak, berpikir dan berperilaku yang baik di lingkungan keluarga dan di masyarakat.
Komunikasi yang baik akan mengajarkan pada anak hal-hal apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Hal tersebut pun akan mencegah anak membangkang pada orang tuanya dan kepada gurunya.
BACA JUGA: Menagih Keadilan Hukum di Indonesia
Komunikasi yang baik tentu saja memberikan suatu dampak besar bagi prestasi anak. Oleh karenanya, diusahakan untuk menjalin komunikasi di tengah kesibukan dan memberikan hati dan pikiran sepenuhnya untuk anak.
Semoga saja kondisi dimana fatherless yang semakin marak menjadi perbincangan dapat berkurang. Serta, peran serta orangtua yakni ayah dan ibu semakin maksimal dalam mendorong masa depan anak yang lebih baik.
Kunci keberhasilan anak terletak pada didikan dan bimbingan orangtua dan cinta kasih yang diberikan selama anak bertumbuh dan berkembang. Semoga saja anak akan menjadi sosok yang berbuah bagi banyak orang!
====
Penulis Staf Bawaslu dan Alumnus FH Unika St Thomas Sumatera Utara.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

