| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

BEBERAPA hari terakhir, saya mencoba mengingat satu hal sederhana: kapan terakhir kali membuka media sosial dengan sadar? Bukan sekadar membuka karena refleks, tapi benar-benar tahu untuk apa saya masuk. Pertanyaan itu terdengar sepele, tapi justru sulit dijawab dengan jujur.
Awalnya, niat saya cukup jelas. Saya ingin mencari bahan tulisan. Logikanya sederhana, kalau tahu apa yang sedang ramai, seharusnya lebih mudah menemukan sudut pandang yang menarik.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Setiap kali mencoba fokus, saya terseret ke perdebatan yang tidak ada ujungnya. Salah satunya soal ijazah palsu. Semua orang tampak yakin dengan pendapatnya—saling menyanggah, saling menyerang, bahkan ada yang seperti sudah memutuskan siapa benar dan siapa salah.
Anehnya, saya ikut bertahan di sana. Membaca panjang, menonton potongan video, hingga merasa perlu memiliki pendapat. Padahal, sejak awal, saya tidak punya kepentingan apa pun.
Di situ saya mulai berpikir: mungkin saya tidak kehilangan tujuan. Saya hanya terlalu sering berhenti di tempat yang tidak pernah saya rencanakan.
Kita sering masuk ke media sosial tanpa agenda, tetapi keluar membawa emosi—kadang kesal, lelah, bahkan ikut marah pada hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan hidup kita. Rasanya seperti ikut rapat panjang penuh perdebatan, tetapi setelah selesai, kita tidak benar-benar tahu apa yang dibahas sejak awal.
Kalau mau jujur, ini bukan soal lupa tujuan. Ini soal kebiasaan yang terlalu lama dibiarkan.
Bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel. Bahkan sebelum benar-benar sadar, kita sudah melihat apa yang terjadi di luar sana. Malam hari, hal yang sama diulang. Seolah hari belum lengkap kalau belum scroll. Di sela aktivitas, setiap jeda kecil terasa canggung. Diam menjadi gelisah, dan akhirnya kita isi dengan menonton di media sosial.
Kita sering menyebutnya santai. Padahal, kalau diperhatikan, itu bukan santai. Itu lelah yang tidak sempat kita akui.
Algoritma bekerja dengan cara yang halus. Ia tidak memaksa kita untuk tinggal, juga tidak melarang kita pergi. Justru terasa seperti membantu. Apa yang muncul terasa dekat, relevan, seolah-olah dipilih khusus untuk kita.
Di situlah masalahnya. Ia tidak membuat kita terjebak secara paksa. Ia membuat kita betah. Dan dari rasa betah itu, pelan-pelan tumbuh ketergantungan.
Apa yang kita lihat hari ini diam-diam memengaruhi cara kita berpikir besok. Apa yang kita konsumsi setiap hari perlahan membentuk cara kita menilai diri sendiri. Tidak ada perubahan besar yang terasa—semuanya berjalan pelan, hampir tidak terlihat.
Tiba-tiba saja, ada yang merasa hidupnya tertinggal. Ada yang mulai merasa kurang, padahal sebelumnya baik-baik saja. Ada yang merasa cemas tanpa tahu penyebabnya.
Jika ditarik lebih dalam, sering kali tidak ada yang benar-benar berubah dalam hidup. Yang berubah hanyalah apa yang dilihat setiap hari.
Media sosial tidak pernah menampilkan kehidupan secara utuh. Ia hanya menunjukkan bagian yang paling rapi, paling menarik, yang sudah dipilih. Namun tanpa sadar, kita membandingkan hidup kita yang penuh proses dengan “editan” hidup orang lain yang sudah disusun.
Kita tahu itu tidak adil. Tetapi kita tetap melakukannya.
Di sisi lain, kita mulai kehilangan kemampuan untuk benar-benar hadir. Duduk bersama keluarga, tetapi perhatian terbagi. Ada percakapan, tetapi tidak benar-benar didengar. Ada kebersamaan, tetapi terasa lewat begitu saja—hanya demi fokus pada ponsel.
Jika direnungkan, ini bukan lagi sekadar hiburan. Ini sudah masuk ke cara kita menjalani hidup.
Ruang di kepala kita pelan-pelan dipenuhi hal-hal yang sebenarnya tidak kita cari, tidak kita butuhkan, tetapi terus muncul tanpa diminta—seolah itulah yang kita perlukan. Ironisnya, kita sering menyalahkan diri sendiri.
Saya teringat seorang teman yang pernah bercerita tentang dietnya. Ia cukup serius, bahkan membeli timbangan baru agar bisa melihat progres dengan jujur. Hari pertama masih disiplin. Hari kedua mulai goyah. Hari ketiga, ia mulai curiga timbangannya yang salah.
Padahal, setiap kali membuka ponsel, yang muncul justru video makanan: suara ayam goreng yang renyah, keju yang meleleh, minuman dingin yang terlalu menggoda untuk diabaikan. Niat awalnya hanya ingin mengecek pesan, tetapi berakhir dengan rasa lapar yang tiba-tiba muncul.
Belum lagi promo diskon yang datang di waktu yang terasa “pas di lidah dan pas di dompet”. Tengah malam, saat mulai lelah, keputusan paling impulsif justru dibuat.
Akhirnya, ia tetap memesan makanan sambil berkata, “Ini salah saya”. Padahal jika dipikir, yang ia hadapi bukan sekadar keinginan pribadi. Ada sistem yang terus mendorongnya—pelan-pelan, tanpa terasa.
Algoritma tidak memaksa. Ia hanya mengulang—menampilkan hal yang sama, lagi dan lagi—hingga kita mengira itu memang keinginan kita sendiri.
Pada akhirnya, yang kita hadapi bukan sekadar kebiasaan membuka media sosial, melainkan cara halus bagaimana algoritma membentuk perhatian, emosi, dan cara kita melihat diri sendiri.
Kita merasa memegang kendali, padahal sering kali hanya mengikuti arus yang sudah diarahkan tanpa sadar. Dari kebiasaan kecil yang terus diulang, muncul kelelahan, perbandingan, hingga keputusan impulsif yang terasa seperti pilihan pribadi.
Di titik ini, masalahnya bukan pada teknologinya semata, tetapi pada kesadaran kita yang perlahan berkurang saat menggunakannya.
BACA JUGA: OTW: Kebohongan Kecil yang Jadi Kebiasaan
Tanpa disadari, kita tidak benar-benar tersesat—hanya terlalu lama tinggal di ruang yang tidak pernah kita rencanakan untuk tempati.
====
Penulis adalah esais yang tertarik pada isu keseharian dan refleksi diri. Tinggal di Medan.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

