| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com–Samosir. Bupati Samosir, Vandiko Timotius Gultom, turun langsung ke sawah bersama petani di Desa Sibonor Oppu Ratus, Kecamatan Nainggolan, dalam kegiatan panen padi menggunakan mesin combine harvester bantuan dari Kementerian Pertanian RI, Rabu (6/5/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Vandiko didampingi Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Tumiur Gultom, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Immanuel Sitanggang, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Samosir dan para petani. Bupati bahkan ikut menaiki combine harvester sebagai bentuk dukungan terhadap modernisasi pertanian.
Vandiko menegaskan, kegiatan panen bersama ini bukan sekadar seremonial, melainkan untuk memastikan bantuan pemerintah pusat benar-benar dimanfaatkan oleh petani.
“Hari ini kita melaksanakan panen sekaligus memastikan bahwa bantuan dari Kementerian Pertanian benar-benar digunakan dan dirasakan manfaatnya oleh petani. Ternyata alat ini sangat bermanfaat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, bantuan combine harvester tersebut merupakan hasil usulan Pemerintah Kabupaten Samosir yang direalisasikan pada tahun 2025.
Sementara itu, Tumiur Gultom menyampaikan bahwa bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) ini diberikan kepada kelompok tani dengan sistem taksi alsintan. Selain digunakan sendiri, alat tersebut juga dapat disewakan kepada petani lain yang membutuhkan.
Perwakilan petani, Baktiar Sinaga, mengungkapkan rasa syukur atas bantuan tersebut. Ia menilai kehadiran combine harvester sangat membantu pekerjaan petani, baik dari sisi tenaga maupun biaya.
“Kami sangat bersyukur, pekerjaan jadi lebih mudah dan cepat. Harapan kami ke depan, bantuan seperti ini bisa merata di seluruh Samosir,” ujarnya.
Ia juga memaparkan perbandingan biaya panen sebelum dan sesudah adanya alsintan tersebut. Untuk lahan sekitar dua rante, sebelumnya biaya panen mencapai sekitar Rp1 juta, termasuk upah tenaga kerja dan konsumsi.
“Sekarang, dengan combine harvester, biaya tersebut turun drastis menjadi sekitar Rp200 ribu,” jelasnya.
Efisiensi ini menjadi bukti bahwa modernisasi alat pertanian mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani di daerah.

