| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com-Medan. Ketika pasar kripto bergejolak, perhatian investor biasanya tertuju pada perang, inflasi, atau kebijakan suku bunga The Fed.
Namun kini, sejumlah analis mulai menyoroti ancaman lain yang dinilai tidak kalah besar, yaitu potensi pecahnya AI Bubble.
Kekhawatiran ini muncul setelah valuasi perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI) melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Jika euforia tersebut berakhir dan pasar saham teknologi mengalami koreksi besar, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan oleh Wall Street, tetapi juga pasar kripto.
Mengapa Bubble AI Bisa Menular ke Pasar Kripto?
Menurut survei Bank of America pada November 2025, sebanyak 45% manajer investasi menyebut AI Bubble sebagai risiko terbesar bagi pasar keuangan. Angka tersebut naik signifikan dibanding hanya 11% pada September.
Di saat yang sama, perusahaan teknologi besar terus meningkatkan belanja infrastruktur AI. Laporan Barclays memperkirakan total pengeluaran modal sektor AI dapat melampaui $500 miliar pada 2026, naik sekitar 64% dibanding tahun sebelumnya.
Masalahnya, sebagian analis menilai pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya didukung oleh pendapatan yang sebanding. Jika ekspektasi pasar terhadap AI mulai menurun, koreksi besar berpotensi terjadi.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi pasar kripto karena keduanya sama-sama bergantung pada sentimen investor dan likuiditas global.
Koreksi tajam di saham teknologi juga berpotensi memicu tekanan pada pasar kripto karena aktivitas cryptocurrency trading yang biasanya meningkat saat investor mengurangi aset berisiko.
Mengapa Bitcoin Ikut Terancam?
CEO Tether, Paolo Ardoino, bahkan menyebut koreksi sektor AI sebagai salah satu risiko terbesar bagi pasar kripto pada 2026.
Menurutnya, hubungan yang semakin erat antara pasar saham Amerika Serikat dan aset digital membuat Bitcoin lebih rentan terhadap perubahan sentimen investor global.
Meski demikian, Ardoino menilai dampaknya kemungkinan tidak akan separah bear market sebelumnya. Berbeda dengan siklus 2018 dan 2022, pasar kripto kini memiliki partisipasi institusi yang jauh lebih besar sehingga dapat membantu meredam tekanan jual ekstrem.
Sejumlah analis memperkirakan Bitcoin masih berpotensi mengalami tekanan apabila saham-saham AI memasuki fase koreksi yang lebih dalam. Namun level penurunannya diperkirakan lebih terbatas dibanding siklus sebelumnya.
Seberapa Besar Dampaknya terhadap Bitcoin?
Besarnya dampak AI Bubble terhadap Bitcoin masih menjadi perdebatan di kalangan analis. Namun satu hal yang cukup disepakati adalah bahwa pasar kripto saat ini memiliki keterkaitan yang lebih kuat dengan pasar keuangan global dibanding beberapa tahun lalu.
Ketika saham teknologi mengalami tekanan besar, sentimen investor terhadap aset berisiko biasanya ikut melemah.
Kondisi tersebut dapat memicu peningkatan volatilitas di pasar kripto karena sebagian pelaku pasar memilih mengurangi eksposur terhadap aset yang dianggap lebih berisiko.
Meski demikian, tidak semua analis melihat skenario ini sebagai ancaman jangka panjang bagi Bitcoin. Sebagian menilai bahwa koreksi akibat perubahan sentimen pasar lebih berpotensi menjadi fase penyesuaian dibanding perubahan fundamental terhadap prospek Bitcoin itu sendiri.
Karena itu, perhatian investor tidak hanya tertuju pada perkembangan sektor AI, tetapi juga pada kondisi likuiditas global, arah kebijakan moneter, dan tingkat adopsi aset digital yang masih menjadi faktor utama dalam menentukan arah pasar kripto.
Kesimpulan
Selama ini investor kripto lebih banyak mengkhawatirkan perang geopolitik dan kebijakan The Fed. Namun kini muncul risiko baru yang mulai mendapat perhatian, yaitu kemungkinan pecahnya AI Bubble.
Jika euforia AI berbalik menjadi koreksi besar, dampaknya dapat menjalar ke berbagai aset berisiko termasuk Bitcoin.
Meski begitu, kondisi pasar saat ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu karena dukungan institusi yang lebih kuat berpotensi membatasi penurunan yang terlalu dalam.

